Kisah Louis Farrakhan yang Anggap Elijah Muhammad sebagai Al-Mahdi

Senin, 28 November 2022 - 09:52 WIB
Para pengikut Farrakhan adalah orang-orang yang sibuk. Pasukan pemberantas narkotiknya menjadi berita utama, memperbaiki citra kelompoknya di mata masyarakat. Lalu Farrakhan menguji popularitas Nation di tempat-tempat pemilihan suara di D.C. pada 1990.

Kandidat pilihannya berbicara di atas podium tentang organisasi yang bersih dan tidak dapat disuap dan tentang prinsip-prinsip pertolongan pada diri sendiri yang diperkenalkan oleh Elijah Muhammad. Mereka bukan menginginkan agar Distrik itu dibangun kembali sebagai daerah orang kulit hitam. Mereka berkampanye dengan bersih, menurut perintah-perintah Farrakhan, media berita jelas-jelas mengabaikan hal itu.

Demikian Pula dengan Para pemberi suara.

Dr Abdul Alim Muhammad, seorang ahli bedah dan juru bicara nasional Farrakhan, mencalonkan diri untuk menjadi anggota Kongres di Distrik 5 Maryland, yang 60% anggotanya adalah orang kulit hitam, mendapatkan kurang dari seperempat suara dalam pemilihan pendahuluan (untuk memilih calon dari masing-masing partai). Namun demikian, dia tetap mengumumkan kemenangan, dengan menuduh adanya penyuapan dalam pemungutan suara.

Calon Muslim untuk delegasi kongres, seorang pengacara, mendapatkan 5% suara. Dia juga mengumumkan kemenangan.

Dr. Muhammad mengatakan pada pendukungnya, "Kami menanamkan ide tentang kemenangan puncak kami dalam pikiran dan hati semua orang, hitam dan putih."

Farrakhan berpendapat bahwa menghendaki adanya sebuah masyarakat yang terpisah untuk kaum kulit hitam sementara turut ambil bagian dalam proses politik Amerika, bukannya tidak konsisten. "Bagaimana cita-cita itu dapat terlaksana selain lewat jalur politik?" katanya.

Tujuannya adalah untuk mengajukan program orang Muslim ke hadapan Kongres sehingga Kongres sendiri dapat mempertimbangkan apakah pemisahan itu merupakan sebuah alternatif yang dapat dipertahankan terus untuk pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan bangsa.

Baca juga: Kisah Prof Ali S Asani: Bukan Sekadar Jihad di Harvard

Setelah Elijah mengusir putranya, Warith Deen Muhammed (yang waktu itu bernama Wallace) dari Nation yang lama karena perbuatan bid'ahnya, Farrakhan mengumumkan bahwa Warith telah memilih "jalan orang-orang munafik."

Belakangan, ketika Warith menjadi pimpinan Nation, dan mengangkat Farrakhan sebagai juru bicaranya, Farrakhan menampakkan dukungannya di hadapan umum, dengan mengatakan bahwa Warith telah memperoleh rahmat Allah: "Tak ada orang lain yang mendapatkan kunci ketuhanan. Tak ada seorang pun yang cukup bijaksana bahkan hanya untuk mendekati tali sepatu Wallace D. Muhammad."

Pada 1964, Farrakhan memimpin sebuah serangan melawan Malcolm X, ketika Malcolm menuduh Elijah melakukan pemalsuan dan perzinaan. Dalam satu rangkaian artikel di surat kabar organisasi itu. Farrakhan, yang dahulu merupakan anak didik Malcolm, menulis: "Hanya orang-orang yang mengharapkan digiring ke neraka atau menuju ajalnyalah yang akan mengikuti Malcolm. Orang seperti itu pantas mati dan akan menemui kematiannya jika hidupnya bukan untuk agama Muhammad."

Dia juga menyebut Malcolm "seorang jendral tolol yang tidak memiliki pasukan." Beberapa bulan kemudian Malcolm dibunuh. Dia mati dengan dua puluh satu luka tembakan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!