Kisah Sufi: Mencari Makna Ular dan Merak
Jum'at, 16 Desember 2022 - 20:32 WIB
Pada saat itu, Adi menyela, "Hanya ketidakcocokan kalianlah yang telah membuatku mengetahui bahwa tak satu pun dari kalian yang benar. Dan sekalipun begitu, kita sama-sama jelas melihat, apabila kalian meninggalkan keasyikan diri sendiri, bahwa kalian bersama-sama telah memberi pesan bagi kemanusiaan."
Dan, sementara kedua binatang itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka masing-masing.
"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya.
Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."
Dianggap misteri oleh para Orientalis, Pemujaan Ular dan Merak didasarkan pada ajaran seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua belas.
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Dan, sementara kedua binatang itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka masing-masing.
"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya.
Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."
Dianggap misteri oleh para Orientalis, Pemujaan Ular dan Merak didasarkan pada ajaran seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua belas.
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
(mhy)
Lihat Juga :