Nasihat Kepemimpinan Anwar Ibrahim yang Sarat Hikmah dan Pelajaran

Selasa, 10 Januari 2023 - 22:34 WIB
Lebih dari itu beliau menyampaikan bahwa dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan Indonesia, bahkan mengutip pernyataan Taufik Ismail "saya malu jadi orang Indonesia", beliau tetap bangga dengan Indonesia. Bahwa Indonesia telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno (nasionalis), Hamka (Islam), bahkan siapa yang beliau sebut sebagai golongan kiri (Soejatmiko).

Saya tidak ingin menyebutkan semua poin-poin penting yang Anwar sampaikan dalam presentasinya yang tidak memakai bahan tertulis seperti kebiasaan para pejabat negara lainnya. Beliau berbicara dari hati dan kepala dengan penguasaan materi dan komunikasi yang dahsyat.

Penguasaan Anwar dengan ragam subyek itu terlihat misalnya ketika menyinggung Urgensi "critical thinking" para ulama/cendekiawan masa lalu. Salah satunya adalah perdebatan intelektual antara Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi. Belum lagi penguasaan teks-teks keagamaan baik Al-Qur'an, hadits, bahkan sejarah Islam.

Saya ingin membatasi diri pada tiga catatan penting dari berbagai hal yang beliau sampaikan dalam pemaparan itu.

1. Isu Kepemimpinan dan Demokrasi

Satu catatan penting yang saya simpulkan dari paparan beliau adalah bahwa sering kali demokrasi hanya disikapi pada prosesnya. Banyak orang merasa berdemokrasi karena proses pemilu yang telah selesai dilaksanakan (pilihan raya misalnya). Tapi banyak yang lupa bahwa kesuksesan demokrasi tidak sekadar pada prosesnya.

Demokrasi harus juga dilihat pada etika dari pelaksanaannya. Jika proses itu penuh dengan rekayasa dan ketidak jujuran maka demokrasi itu adalah demokrasi yang cacat. Demokrasi yang tidak perlu dibanggakan.

Tapi tidak kalah pentingnya adalah kesadaran bahwa demokrasi itu hanya akan valid dan bermakna ketika terbangun sebuah tanggung jawab (responsibility). Tanggung jawab ini tidak saja kepada rakyat. Tapi juga kepada Allah di Akhirat kelak.

2. Urgensi Ilmu dalam Kepemimpinan

Beliau menekankan bahwa ilmu menjadi sangat penting dalam membangun kepemimpinan yang baik. Beliau memaparkan secara panjang urgensi ilmu bahkan dalam kehidupan keumatan dan berbangsa. Ilmu menjadi pilar kebangkitan bangsa dan umat.

Tapi ada dua hal penting dari aspek keilmuan ini yang beliau garis bawahi: Satu, selain soliditas dalam ilmu-ilmu keagamaan secara tekstual dan tradisional, umat ini perlu membangun critical mind (berpikiran kritis). Menurut beliau, salah satu hal yang mengantar kepada perilaku ekstrem adalah kurangnya critical mind dalam menerima informasi-informasi keilmuan.

Dua, bahwa ilmu dan spesialisasi (keahlian) tidak akan bernilai (valuable) jika tidak dibarengi oleh nilai-nilai insaniyah (humanity). Jangan sampai kemajuan ilmu menjadikan manusia kehilangan nurani dan kemanusiaannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!