Turunnya Surah At-Taubah dan Meletusnya Perang Pasukan Islam Lawan Romawi
Selasa, 24 Januari 2023 - 16:09 WIB
loading...
Menjelang Perang Tabuk Rasulullah SAW menerima wahyu Surat At-Taubah. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah atau 630 Masehi meletus Perang Tabuk, yakni perang antara pasukan Islam melawan tentara Romawi di daerah Tabuk, 683 kilometer sebelah barat laut kota Madinah . Kala itu, di musim panas yang kering, Rasulullah SAW memimpin langsung 30.000 orang pasukan berangkat ke Tabuk. Mereka ini di kemudian hari disebut dengan jaisyul usrrah akibat kesulitan yang meraka hadapi.
Safyurrahman al-Mubarakfuri dalam Raḫîqul Makhtûm menyebut, kendati tidak sempat terjadi kontak fisik, karena pasukan musuh menyerah sebelum bertempur, peperangan ini berlangsung selama 50 hari, dengan pembagian 20 hari Muslim berada di Tabuk dan 30 hari untuk menempuh perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Tabuk.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menggambarkan, ketika itu musim panas belum berakhir. Suhu panas musim pada awal musim rontok yang sampai pada titik yang sangat tinggi itu merupakan musim maut yang sangat mencekam di wilayah padang pasir.
Di samping itu, memang perjalanan dari Madinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air.
Baca juga: Ini Perbedaan antara Imperium Islam dan Romawi Menurut Muhammad Asad
Pada kondisi itu, Rasulullah SAW mengumumkan niatnya berangkat menghadapi Romawi kepada umat Islam. Beliau menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin.
Beliau juga meminta orang-orang kaya berpartisipasi dengan harta dan kemampuan mereka mengerahkan orang. Dengan begitu, beliau berharap kekuatan kaum muslim tersebut membuat keder pihak Romawi.
Tentara Romawi sudah terkenal memiliki pasukan yang banyak dengan persenjataan yang lengkap. Mendengar seruan Rasulullah SAW ada dua tanggapan yang muncul di kalangan umat Islam.
Menurut Haekal, ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain.
Hanya saja, ada juga yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan Muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizyah dengan taat dan patuh.
Safyurrahman al-Mubarakfuri dalam Raḫîqul Makhtûm menyebut, kendati tidak sempat terjadi kontak fisik, karena pasukan musuh menyerah sebelum bertempur, peperangan ini berlangsung selama 50 hari, dengan pembagian 20 hari Muslim berada di Tabuk dan 30 hari untuk menempuh perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Tabuk.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menggambarkan, ketika itu musim panas belum berakhir. Suhu panas musim pada awal musim rontok yang sampai pada titik yang sangat tinggi itu merupakan musim maut yang sangat mencekam di wilayah padang pasir.
Di samping itu, memang perjalanan dari Madinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air.
Baca juga: Ini Perbedaan antara Imperium Islam dan Romawi Menurut Muhammad Asad
Pada kondisi itu, Rasulullah SAW mengumumkan niatnya berangkat menghadapi Romawi kepada umat Islam. Beliau menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin.
Beliau juga meminta orang-orang kaya berpartisipasi dengan harta dan kemampuan mereka mengerahkan orang. Dengan begitu, beliau berharap kekuatan kaum muslim tersebut membuat keder pihak Romawi.
Tentara Romawi sudah terkenal memiliki pasukan yang banyak dengan persenjataan yang lengkap. Mendengar seruan Rasulullah SAW ada dua tanggapan yang muncul di kalangan umat Islam.
Menurut Haekal, ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain.
Hanya saja, ada juga yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan Muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizyah dengan taat dan patuh.
Lihat Juga :