Neraka Malu, Jenis Siksa Apa ini? Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Minggu, 12 Februari 2023 - 14:11 WIB
loading...
A
A
A
Selain neraka rohaniah malu, Imam al-Ghazali juga menyebut neraka rohaniah berbentuk kekecewaan dan kegagalan untuk mencapai obyek kemaujudan yang sesungguhnya.
Menurutnya, manusia diciptakan dengan maksud untuk mencermini cahaya pengetahuan akan Tuhan. Tapi jika ia sampai di akhirat dengan jiwa yang tersaput tebal oleh karat pengumbaran nafsu inderawi, ia akan sama sekali gagal untuk memperoleh tujuan penciptaannya. Kekecewaannya bisa digambarkan dengan cara berikut.
Imam al-Ghazali mencontohkan, misalkan seseorang sedang melewati sebuah hutan gelap bersama beberapa orang sahabat. Di sana-sini berkelap-kelip di atas tanah, bertebaran batu-batu berwarna.
Baca juga: Watak Tak Berdosa dari Musik dan Tarian Menurut Imam Ghazali
Para sahabatnya mengumpulkan dan membawa benda-benda itu seraya menasihatinya agar ia turut melakukan hal yang sama. "Karena," kata mereka, "kami dengar batu-batu itu akan memperoleh harga tinggi di tempat yang akan kita datangi."
Akan tetapi orang ini malah menertawakan mereka dan menyebut mereka sebagai orang-orang pandir karena menyimpan harapan sia-sia untuk memperoleh sesuatu, sementara ia sendiri bisa berjalan bebas tak berbebani.
Kemudian mereka pun menjelang terang tanah dan mendapati bahwa batu-batu yang berwarna-warni itu ternyata batu-batu delima, zamrud dan permata-permata lain yang tak terkira harganya.
Kekecewaan dan penyesalan orang itu, karena tidak mengumpulkan benda-benda yang sudah berada dalam jangkauannya itu, lebih mudah dibayangkan daripada diperikan. Seperti itulah jadinya penyesalan orang-orang yang ketika melalui dunia ini tidak berusaha memperoleh permata-permata kebajikan dan perbendaharaan-perbendaharaan agama.
Baca juga: 7 Ujian Tanda-Tanda Kecintaan kepada Allah Menurut Imam Ghazali
Menurutnya, manusia diciptakan dengan maksud untuk mencermini cahaya pengetahuan akan Tuhan. Tapi jika ia sampai di akhirat dengan jiwa yang tersaput tebal oleh karat pengumbaran nafsu inderawi, ia akan sama sekali gagal untuk memperoleh tujuan penciptaannya. Kekecewaannya bisa digambarkan dengan cara berikut.
Imam al-Ghazali mencontohkan, misalkan seseorang sedang melewati sebuah hutan gelap bersama beberapa orang sahabat. Di sana-sini berkelap-kelip di atas tanah, bertebaran batu-batu berwarna.
Baca juga: Watak Tak Berdosa dari Musik dan Tarian Menurut Imam Ghazali
Para sahabatnya mengumpulkan dan membawa benda-benda itu seraya menasihatinya agar ia turut melakukan hal yang sama. "Karena," kata mereka, "kami dengar batu-batu itu akan memperoleh harga tinggi di tempat yang akan kita datangi."
Akan tetapi orang ini malah menertawakan mereka dan menyebut mereka sebagai orang-orang pandir karena menyimpan harapan sia-sia untuk memperoleh sesuatu, sementara ia sendiri bisa berjalan bebas tak berbebani.
Kemudian mereka pun menjelang terang tanah dan mendapati bahwa batu-batu yang berwarna-warni itu ternyata batu-batu delima, zamrud dan permata-permata lain yang tak terkira harganya.
Kekecewaan dan penyesalan orang itu, karena tidak mengumpulkan benda-benda yang sudah berada dalam jangkauannya itu, lebih mudah dibayangkan daripada diperikan. Seperti itulah jadinya penyesalan orang-orang yang ketika melalui dunia ini tidak berusaha memperoleh permata-permata kebajikan dan perbendaharaan-perbendaharaan agama.
Baca juga: 7 Ujian Tanda-Tanda Kecintaan kepada Allah Menurut Imam Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :