Kisah Sufi: Sanggahan Orang Berpengetahuan Lebih Bernilai Ketimbang Dukungan si Bodoh
Minggu, 19 Februari 2023 - 19:52 WIB
loading...
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa sanggahan orang berpengetahuan lebih bernilai daripada dukungan si bodoh. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah sufi berikut ini dinukil dari buku berjudul Diterjemahkan "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi". Berikut kisahnya:
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa 'sanggahan' orang berpengetahuan lebih bernilai daripada 'dukungan' si bodoh.
Aku, Salim Abdali, bersaksi bahwa hal itu benar dalam lingkup kehidupan yang lebih agung, dan juga benar dalam tingkatan pengalaman yang lebih rendah.
Hal ini nyata-nyata dalam kebiasaan Orang Bijak, yang telah menurunkan kisah Penunggang Kuda dan Ular.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Seorang penunggang kuda, dari tempatnya yang aman, melihat seekor ular berbisa menggeliat ke dalam tenggorokan seorang lelaki yang sedang tidur. Penunggang kuda itu menyadari bahwa apabila lelaki itu dibiarkannya terus tidur, maka racun ular itu akan membunuhnya.
Karena itu, ia pun mencambuk orang tidur itu sampai terbangun. Ia tahu tak banyak lagi waktu sehingga dipaksanya lelaki itu pergi ke sebuah tempat yang banyak terdapat apel busuk, dan mendesaknya untuk memakannya. Kemudian, ia menyuruh lelaki itu minum air sungai sebanyak-banyaknya.
Sementara itu, lelaki tersebut berusaha melepaskan diri, sambil meraung, "Apa salahku, kau musuh kemanusiaan, hingga kau siksa aku seberat ini?"
Akhirnya, ketika ia hampir pingsan, dan petang tiba, lelaki itu jatuh ke tanah dan memuntahkan apel, air, dan ular itu. Ketika ia melihat muntahannya itu, ia menyadari yang telah terjadi, dan minta maaf kepada penunggang kuda itu.
Inilah keadaan kita. Dalam membaca kisah ini, waspadalah agar jangan mengartikan sejarah sebagai alegori, atau alegori sebagai sejarah. Mereka yang dianugerahi pengetahuan memiliki kewajiban. Mereka yang tidak berpengetahuan, tidak memiliki apa pun di luar apa yang bisa mereka terka.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa 'sanggahan' orang berpengetahuan lebih bernilai daripada 'dukungan' si bodoh.
Aku, Salim Abdali, bersaksi bahwa hal itu benar dalam lingkup kehidupan yang lebih agung, dan juga benar dalam tingkatan pengalaman yang lebih rendah.
Hal ini nyata-nyata dalam kebiasaan Orang Bijak, yang telah menurunkan kisah Penunggang Kuda dan Ular.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Seorang penunggang kuda, dari tempatnya yang aman, melihat seekor ular berbisa menggeliat ke dalam tenggorokan seorang lelaki yang sedang tidur. Penunggang kuda itu menyadari bahwa apabila lelaki itu dibiarkannya terus tidur, maka racun ular itu akan membunuhnya.
Karena itu, ia pun mencambuk orang tidur itu sampai terbangun. Ia tahu tak banyak lagi waktu sehingga dipaksanya lelaki itu pergi ke sebuah tempat yang banyak terdapat apel busuk, dan mendesaknya untuk memakannya. Kemudian, ia menyuruh lelaki itu minum air sungai sebanyak-banyaknya.
Sementara itu, lelaki tersebut berusaha melepaskan diri, sambil meraung, "Apa salahku, kau musuh kemanusiaan, hingga kau siksa aku seberat ini?"
Akhirnya, ketika ia hampir pingsan, dan petang tiba, lelaki itu jatuh ke tanah dan memuntahkan apel, air, dan ular itu. Ketika ia melihat muntahannya itu, ia menyadari yang telah terjadi, dan minta maaf kepada penunggang kuda itu.
Inilah keadaan kita. Dalam membaca kisah ini, waspadalah agar jangan mengartikan sejarah sebagai alegori, atau alegori sebagai sejarah. Mereka yang dianugerahi pengetahuan memiliki kewajiban. Mereka yang tidak berpengetahuan, tidak memiliki apa pun di luar apa yang bisa mereka terka.
Lihat Juga :