KH Hasyim Asy'ari: Perbedaan dalam Furu' Sudah Terjadi Sejak Era Sahabat Nabi SAW
Jum'at, 24 Februari 2023 - 14:46 WIB
loading...
A
A
A
Perkembangan Mazhab
Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A . (1939 – 2005) atau populer dipanggil Cak Nur , mengatakan setelah masa-masa para imam mazhab lewat, yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri, maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan mazhab itu sendiri.
"Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak, tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient)," ujarnya dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" saat membahas tentang tradisi syarah dan hasyiyah dalam fiqih dan masalah stagnasi pemikiran hukum Islam.
Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i, misalnya, tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam, yang serba berkecukupan. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich, melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut.
"Inilah yang dimaksudkan dengan istilah 'mazhab', yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang, bertitik tolak dari produk intelektual satu orang, namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab," ujarnya.
Baca juga: Cak Nur: Nabi Ibrahim, Musa dan Isa Adalah Tokoh Muslim
Menurut Cak Nur, penilaian ini lebih-lebih beralasan, karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan mazhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan.
"Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam mazhab adalah secara post factum, yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu, menjadi kenyataan, setelah dia sendiri lama tiada," lanjutnya.
Pertumbuhan mazhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam mazhab" tersebut. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai, seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya, al-Za'farani, al-Karabisi, al-Rabi', al-Buwaythi, al-Muzni, dan lain-lain dari kalangan para penganut mazhab Syafi'i. Demikian pula tokoh-tokoh dari mazhab-mazhab yang lain.
Akan tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah).
Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A . (1939 – 2005) atau populer dipanggil Cak Nur , mengatakan setelah masa-masa para imam mazhab lewat, yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri, maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan mazhab itu sendiri.
"Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak, tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient)," ujarnya dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" saat membahas tentang tradisi syarah dan hasyiyah dalam fiqih dan masalah stagnasi pemikiran hukum Islam.
Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i, misalnya, tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam, yang serba berkecukupan. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich, melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut.
"Inilah yang dimaksudkan dengan istilah 'mazhab', yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang, bertitik tolak dari produk intelektual satu orang, namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab," ujarnya.
Baca juga: Cak Nur: Nabi Ibrahim, Musa dan Isa Adalah Tokoh Muslim
Menurut Cak Nur, penilaian ini lebih-lebih beralasan, karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan mazhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan.
"Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam mazhab adalah secara post factum, yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu, menjadi kenyataan, setelah dia sendiri lama tiada," lanjutnya.
Pertumbuhan mazhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam mazhab" tersebut. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai, seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya, al-Za'farani, al-Karabisi, al-Rabi', al-Buwaythi, al-Muzni, dan lain-lain dari kalangan para penganut mazhab Syafi'i. Demikian pula tokoh-tokoh dari mazhab-mazhab yang lain.
Akan tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah).
Lihat Juga :