7 Bukti Sejarah tentang Keotentikan Al-Qur'an
Rabu, 22 Maret 2023 - 17:39 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Memahami Ayat Penyembuhan dalam Al-Quran
Menurut Abdul Azhim Al-Zarqaniy, faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya ayat-ayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Nabi SAW yang menghafalkan Al-Quran.
"Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasul SAW, telah gugur tidak kurang dari tujuh puluh orang penghafal Al-Quran," ujar Abdul Azhim Al-Zarqaniy.
Walaupun Nabi SAW dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan.
Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang turun, Nabi SAW lalu memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
Ayat-ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena keterbatasan alat tulis dan kemampuan maka tidak banyak yang melakukannya disamping kemungkinan besar tidak mencakup seluruh ayat Al-Quran.
"Kepingan naskah tulisan yang diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk 'kitab' pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra ," ujar Abdul Azhim Al-Zarqaniy.
Baca juga: Kisah si Tajir Qarun dalam Al-Quran
Menurut Abdul Azhim Al-Zarqaniy, faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya ayat-ayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Nabi SAW yang menghafalkan Al-Quran.
"Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasul SAW, telah gugur tidak kurang dari tujuh puluh orang penghafal Al-Quran," ujar Abdul Azhim Al-Zarqaniy.
Walaupun Nabi SAW dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan.
Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang turun, Nabi SAW lalu memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya.
Ayat-ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena keterbatasan alat tulis dan kemampuan maka tidak banyak yang melakukannya disamping kemungkinan besar tidak mencakup seluruh ayat Al-Quran.
"Kepingan naskah tulisan yang diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk 'kitab' pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra ," ujar Abdul Azhim Al-Zarqaniy.
Baca juga: Kisah si Tajir Qarun dalam Al-Quran
(mhy)
Lihat Juga :