Al-Ghazali: Makanan yang Baik Fondasi Utama Perjalanan Suatu Golongan
Sabtu, 25 Maret 2023 - 08:48 WIB
loading...
A
A
A
Tiga Tingkatan
Di sisi lain, Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan puasa ada tiga tingkatan: umum (awam), khusus (spesial), dan khususil khusus (istimewa).
Pertama, puasa umum atau awam menahan perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat, sebagaimana telah dibabar sebelumnya.
Kedua, puasa khusus (spesial) menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela dan dosa.
Baca juga: Makna Kesempurnaan Puasa Menurut Imam al-Ghazali
Ketiga, puasa khususil khusus (istimewa) puasanya hati dari kehancuran agama dan pemikiran duniawi, serta menahan dari selain Allah SWT secara terperinci. Karena itulah, puasa yang dengan model terakhir ini akan rusak dengan bersitan pikiran tentang sesuatu selain Allah, Hari Akhir, dan kehidupan duniawi. Kecuali ketika hal-hal duniawi itu diperuntukkan bagi kemaslahatan aspek-aspek agama (ukhrawi).
Dari sini kita dapat memahami bagaimana konstruksi tiga tingkatan puasa dalam perspektif al-Ghazali. Ia seakan mengandaikan idealitas puasa agar benar-benar menjadi satu lompatan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Tuhan. Suatu ibadah yang benar-benar dipersembahkan kepada Allah, bukan yang lainnya, seperti termaktub dalam sebuah hadis qudsi: “Setiap amalan manusia untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjar amalan itu.”
Hadis ini mengisyaratkan bahwa untuk mendekati Yang Maha Suci seseorang harus menyucikan dirinya.
Di sisi lain, Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan puasa ada tiga tingkatan: umum (awam), khusus (spesial), dan khususil khusus (istimewa).
Pertama, puasa umum atau awam menahan perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat, sebagaimana telah dibabar sebelumnya.
Kedua, puasa khusus (spesial) menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela dan dosa.
Baca juga: Makna Kesempurnaan Puasa Menurut Imam al-Ghazali
Ketiga, puasa khususil khusus (istimewa) puasanya hati dari kehancuran agama dan pemikiran duniawi, serta menahan dari selain Allah SWT secara terperinci. Karena itulah, puasa yang dengan model terakhir ini akan rusak dengan bersitan pikiran tentang sesuatu selain Allah, Hari Akhir, dan kehidupan duniawi. Kecuali ketika hal-hal duniawi itu diperuntukkan bagi kemaslahatan aspek-aspek agama (ukhrawi).
Dari sini kita dapat memahami bagaimana konstruksi tiga tingkatan puasa dalam perspektif al-Ghazali. Ia seakan mengandaikan idealitas puasa agar benar-benar menjadi satu lompatan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Tuhan. Suatu ibadah yang benar-benar dipersembahkan kepada Allah, bukan yang lainnya, seperti termaktub dalam sebuah hadis qudsi: “Setiap amalan manusia untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjar amalan itu.”
Hadis ini mengisyaratkan bahwa untuk mendekati Yang Maha Suci seseorang harus menyucikan dirinya.
(mhy)
Lihat Juga :