Memaknai Keberkahan Ramadan (1): Sering Kali Dipahami Terbatas pada Aspek Ritual
Senin, 27 Maret 2023 - 23:16 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur Jamaica Muslim Center yang juga Presiden Nusantara Foundation. Foto/dok SINDOnews
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Kita mengetahui bahwa Ramadan adalah bulan penuh dengan ragam kebaikan dan manfaat. Berbagai kebaikan atau manfaat itu tersimpulkan dalam satu kata "barokah". Sehingga bulan Ramadan dimaknai sebagai bulan yang padanya ada azziyadatu fil khair (kebaikan yang banyak).
Sayangnya sering kali keberkahan atau nilai tambah Ramadan itu dimaknai secara terbatas pada aspek ritual. Sehingga kepedulian mayoritas umat tertuju pada ragam amalan ritual di dalamnya seperti puasa itu sendiri, tarawih, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan lain-lain. Lebih sempit lagi ketika amalan-alamin ritual itu bertujuan untuk sekadar kalkulasi-kalkulasi pahala.
Kalkulasi-kalkulasi itu menjadikan amalan-amalan ritual bagaikan "bargaining" dengan Allah. Seolah Allah itu perlu disuap dengan amalan-amalan ritual demi mendapatkan sesuatu darinya. Pada tingkatan ini sesungguhnya telah menjadikan nilai "keikhlasan" terminimalisasi bahkan sirna.
Dan tanpa sadar ternyata terjadi sikap yang tidak etis kepada Allah. Benar ada kata "isytara" (transaksi antara Allah dan hamba) sebagai penggambaran komitmen ketaatan seorang hamba pada Tuhannya. Tapi itu tidak dimaksudkan sebagai kalkulasi-kalkulasi yang harus terjadi antara hamba dan Tuhannya.
Keberkahan Ramadan hendaknya dipahami dengan makna yang lebih luas dan komprehensif. Bahwa Ramadan adalah bulan berbagai ritual yang pahalanya dilipatgandakan itu pasti. Amalan-amalan wajib dilipat gandakan pahalanya. Sunnah-sunnah dinilai dengan penilaian amalan wajib. Umrah misalnya di bulan Ramadan dimaknai seolah amalan haji.
Bulan Ramadan ini memang dahsyat. Kita kenal bahwa Allah melebihkan sebagian waktu dan/atau tempat tertentu di atas waktu dan tempat yang lain. Ada waktu-waktu atau tempat-tempat tertentu yang yang diberikan keutamaan (fadhilah) lebih dari lainnya.
Contoh tempat yang diutamakan misalnya adalah Masjidil Haram dan Multazam. Demikian pula padang Arafah di hari Arafah. Mihrab (tempat Imam memimpin sholat) itu bukan sembarang tempat. Tapi di sana Allah jadikan doa lebih utama dan diutamakan dalam pengabulan. Doa Nabi Zakariya yang meminta anak di Mihrab dan di kabulkan ketika itu juga. Padahal logikanya Nabi Zakariya tidak mungkin lagi punya anak.
Untuk waktu yang diutamakan ambillah sebagai contoh waktu sahur. Yaitu 2/3 malam hingga menjelang masuk waktu fajar. Keutamaan sahur sesungguhnya bukan saja karena di saat itu orang-orang yang akan berpuasa menikmati makanan yang penuh keberkahan (sahur). Tapi karena waktu sahur itu Allah turun ke langit dunia (terdekat) membuka kesempatan bagi yang berdoa untuk dikabulkan dan bagi yang meminta ampun diampuni.
Allah menegaskan keutamaan waktu itu dalam Al-Quran: "Dan mereka yang diwaktu sahur beristigfar." (Al-Qur'an)
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Kita mengetahui bahwa Ramadan adalah bulan penuh dengan ragam kebaikan dan manfaat. Berbagai kebaikan atau manfaat itu tersimpulkan dalam satu kata "barokah". Sehingga bulan Ramadan dimaknai sebagai bulan yang padanya ada azziyadatu fil khair (kebaikan yang banyak).
Sayangnya sering kali keberkahan atau nilai tambah Ramadan itu dimaknai secara terbatas pada aspek ritual. Sehingga kepedulian mayoritas umat tertuju pada ragam amalan ritual di dalamnya seperti puasa itu sendiri, tarawih, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan lain-lain. Lebih sempit lagi ketika amalan-alamin ritual itu bertujuan untuk sekadar kalkulasi-kalkulasi pahala.
Kalkulasi-kalkulasi itu menjadikan amalan-amalan ritual bagaikan "bargaining" dengan Allah. Seolah Allah itu perlu disuap dengan amalan-amalan ritual demi mendapatkan sesuatu darinya. Pada tingkatan ini sesungguhnya telah menjadikan nilai "keikhlasan" terminimalisasi bahkan sirna.
Dan tanpa sadar ternyata terjadi sikap yang tidak etis kepada Allah. Benar ada kata "isytara" (transaksi antara Allah dan hamba) sebagai penggambaran komitmen ketaatan seorang hamba pada Tuhannya. Tapi itu tidak dimaksudkan sebagai kalkulasi-kalkulasi yang harus terjadi antara hamba dan Tuhannya.
Keberkahan Ramadan hendaknya dipahami dengan makna yang lebih luas dan komprehensif. Bahwa Ramadan adalah bulan berbagai ritual yang pahalanya dilipatgandakan itu pasti. Amalan-amalan wajib dilipat gandakan pahalanya. Sunnah-sunnah dinilai dengan penilaian amalan wajib. Umrah misalnya di bulan Ramadan dimaknai seolah amalan haji.
Bulan Ramadan ini memang dahsyat. Kita kenal bahwa Allah melebihkan sebagian waktu dan/atau tempat tertentu di atas waktu dan tempat yang lain. Ada waktu-waktu atau tempat-tempat tertentu yang yang diberikan keutamaan (fadhilah) lebih dari lainnya.
Contoh tempat yang diutamakan misalnya adalah Masjidil Haram dan Multazam. Demikian pula padang Arafah di hari Arafah. Mihrab (tempat Imam memimpin sholat) itu bukan sembarang tempat. Tapi di sana Allah jadikan doa lebih utama dan diutamakan dalam pengabulan. Doa Nabi Zakariya yang meminta anak di Mihrab dan di kabulkan ketika itu juga. Padahal logikanya Nabi Zakariya tidak mungkin lagi punya anak.
Untuk waktu yang diutamakan ambillah sebagai contoh waktu sahur. Yaitu 2/3 malam hingga menjelang masuk waktu fajar. Keutamaan sahur sesungguhnya bukan saja karena di saat itu orang-orang yang akan berpuasa menikmati makanan yang penuh keberkahan (sahur). Tapi karena waktu sahur itu Allah turun ke langit dunia (terdekat) membuka kesempatan bagi yang berdoa untuk dikabulkan dan bagi yang meminta ampun diampuni.
Allah menegaskan keutamaan waktu itu dalam Al-Quran: "Dan mereka yang diwaktu sahur beristigfar." (Al-Qur'an)
Lihat Juga :