Memaknai Keberkahan Ramadan (1): Sering Kali Dipahami Terbatas pada Aspek Ritual
Senin, 27 Maret 2023 - 23:16 WIB
loading...
A
A
A
Keberkahan Ramadan tidak saja pada aspek ritualnya. Tapi pada semua sisi dari bulan ini memiliki keutamaan dan keberkahannya.
Di antara keberkahan Ramadan adalah bahwa bulan ini adalah bulan muhasabah. Yaitu bulan kalkulasi-kalkulasi dalam banyak hal. Seperti yang pernah diingatkan oleh Umar: "Lakukanlah kalkulasi pada diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat) kelak."
Satu di antara hal yang urgen untuk selalu dikalkulasi atau dihitung-hitung adalah kenyataan hidup yang kerap salah kaprah dan salah destinasi. Manusia sering berpikir jika hidup dunianya panjang. Bahkan seringkali merasa hidup dunianya yang nyaman itu akan menjadikannya seolah-olah akan hidup abadi (Al-Lumazah).
Selain salah kaprah juga manusia seringkali salah destinasi dalam hidupnya. Manusia menjadikan dunia ini sebagai destinasi hidup. Akibatnya semua hidupnya diorientasikan untuk memenuhi hajat dunianya. Sementara kehidupan Sesungguhnya (Akhirat dalam istilah Al-Qur'an lahiya al-hayawanu) mereka lalaikan.
Situasi ini digambarkan oleh Surah Ar-Rum: "Mereka mengetahui lahiriyah kehidupan dunia tapi mengenai Akhirat mereka lalaikan."
Keadaan tersebut terjadi karena manusia lengket (attached) dengan sangat dekat dengan dunia ini. Mereka terlalu melebih-lebihkan kehidupan dunianya (bal tu'tsirunal hayatad dunia).
Di sinilah puasa melatih seseorang untuk melepaskan ikatan atau kungkungan dunianya. Dengan puasa orang beriman belajar meletakkan dunianya pada porsi dan posisi yang sesuai. Mungkin ungkapan yang indah tentang itu adalah: "Letakkan dunia ini di tanganmu dan bukan di hatimu." Atau "milikilah dunia ini tapi jangan dimiliki oleh dunia."
Dengan berpuasa, seorang Mukmin akan melakukan reorientasi destinasi hidup. Dari material oriented life menjadi akhirah oriented life. Insya Allah!
Baca Juga: 3 Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali
Di antara keberkahan Ramadan adalah bahwa bulan ini adalah bulan muhasabah. Yaitu bulan kalkulasi-kalkulasi dalam banyak hal. Seperti yang pernah diingatkan oleh Umar: "Lakukanlah kalkulasi pada diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat) kelak."
Satu di antara hal yang urgen untuk selalu dikalkulasi atau dihitung-hitung adalah kenyataan hidup yang kerap salah kaprah dan salah destinasi. Manusia sering berpikir jika hidup dunianya panjang. Bahkan seringkali merasa hidup dunianya yang nyaman itu akan menjadikannya seolah-olah akan hidup abadi (Al-Lumazah).
Selain salah kaprah juga manusia seringkali salah destinasi dalam hidupnya. Manusia menjadikan dunia ini sebagai destinasi hidup. Akibatnya semua hidupnya diorientasikan untuk memenuhi hajat dunianya. Sementara kehidupan Sesungguhnya (Akhirat dalam istilah Al-Qur'an lahiya al-hayawanu) mereka lalaikan.
Situasi ini digambarkan oleh Surah Ar-Rum: "Mereka mengetahui lahiriyah kehidupan dunia tapi mengenai Akhirat mereka lalaikan."
Keadaan tersebut terjadi karena manusia lengket (attached) dengan sangat dekat dengan dunia ini. Mereka terlalu melebih-lebihkan kehidupan dunianya (bal tu'tsirunal hayatad dunia).
Di sinilah puasa melatih seseorang untuk melepaskan ikatan atau kungkungan dunianya. Dengan puasa orang beriman belajar meletakkan dunianya pada porsi dan posisi yang sesuai. Mungkin ungkapan yang indah tentang itu adalah: "Letakkan dunia ini di tanganmu dan bukan di hatimu." Atau "milikilah dunia ini tapi jangan dimiliki oleh dunia."
Dengan berpuasa, seorang Mukmin akan melakukan reorientasi destinasi hidup. Dari material oriented life menjadi akhirah oriented life. Insya Allah!
Baca Juga: 3 Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali
(rhs)
Lihat Juga :