Memaknai Keberkahan Ramadan (8): Puasa Hadir untuk Menata Hati
Minggu, 02 April 2023 - 18:02 WIB
loading...
Puasa Ramadan hadir dengan keberkahan yang sangat penting, salah satunya berperan menjaga dan menata hati. Foto/SINDOnews
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Warna hidup manusia itu terbentuk oleh suasana hatinya. Segala gerak-gerik hidupnya adalah gambaran dari suasana hati. Dan karenanya hati adalah penentu hitam putih, sehat sakit atau baik buruknya prilaku manusia.
Hakikat inilah yang digambarkan secara sederhana oleh Rasulullah SAW : "Sungguh dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah yang jika baik, baiklah seluruh anggota tubuhnya. Tapi jika rusak, rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Itulah hati." (Al-Hadis)
Berbagai kerusakan yang digambarkan oleh Al-Qur'an ini: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena apa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia." Realita dari rusaknya prilaku akibat dari rusaknya hati.
Pada sisi inilah puasa hadir dengan keberkahan yang sangat penting. Yaitu untuk membentuk (shaping) warna batin (hati) manusia. Bentukan batin itulah kemudian yang menentukan bentuk karakternya.
Ada dua alasan utama kenapa puasa begitu penting dalam membentuk warna batin manusia. Pertama, karena puasa adalah bentuk ibadah yang bersentuhan langsung dengan kata hati yang paling dalam. Puasa adalah amalan yang benar-benar terbebas dari intervensi pihak ketiga. Puasa merupakan aktivitas ubudiyah yang ekslusif antara seorang hamba dan Tuhannya.
Koneksi hati seorang hamba dengan sang Khalik secara dekat ini (qariib) dengan sendirinya menyuburkan hati dan jiwa sang hamba tersebut.
Kedua, hati itu dasarnya suci (fitrah) rentang ternodai dan kotor. Karenanya hati bisa sakit, bahkan bisa buta dan mati. Hal itu karena Allah juga menciptakan satu elemen lain dalam diri manusia yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan kehidupannya. Namun elemen jika tidak terkontrol akan menjadi instrumen destruktif bagi kehidupan. Itulah hawa nafsu manusia.
Kerusakan pertama yang akan terjadi oleh hawa nafsu yang tidak terkontrol adalah rusaknya kesucian hati manusia. Dan ketika hati mengalami kerusakan maka hati itu tidak lagi mampu memainkan peranan furqan. Sebuah cahaya batin (nurani) untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan.
Di sinilah puasa yang memang esensinya Al-Imsak atau menahan, mengontrol atau mengendalikan disyariatkan untuk itu (mengontrol kecenderungan hawa nafsu yang buas. Puasa berperan menjaga hati agar tidak merusak kesuciannya. Pada posisi inilah puasa memang dikenal sebagai جنة (junnah) atau perisai (shield).
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Warna hidup manusia itu terbentuk oleh suasana hatinya. Segala gerak-gerik hidupnya adalah gambaran dari suasana hati. Dan karenanya hati adalah penentu hitam putih, sehat sakit atau baik buruknya prilaku manusia.
Hakikat inilah yang digambarkan secara sederhana oleh Rasulullah SAW : "Sungguh dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah yang jika baik, baiklah seluruh anggota tubuhnya. Tapi jika rusak, rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Itulah hati." (Al-Hadis)
Berbagai kerusakan yang digambarkan oleh Al-Qur'an ini: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena apa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia." Realita dari rusaknya prilaku akibat dari rusaknya hati.
Pada sisi inilah puasa hadir dengan keberkahan yang sangat penting. Yaitu untuk membentuk (shaping) warna batin (hati) manusia. Bentukan batin itulah kemudian yang menentukan bentuk karakternya.
Ada dua alasan utama kenapa puasa begitu penting dalam membentuk warna batin manusia. Pertama, karena puasa adalah bentuk ibadah yang bersentuhan langsung dengan kata hati yang paling dalam. Puasa adalah amalan yang benar-benar terbebas dari intervensi pihak ketiga. Puasa merupakan aktivitas ubudiyah yang ekslusif antara seorang hamba dan Tuhannya.
Koneksi hati seorang hamba dengan sang Khalik secara dekat ini (qariib) dengan sendirinya menyuburkan hati dan jiwa sang hamba tersebut.
Kedua, hati itu dasarnya suci (fitrah) rentang ternodai dan kotor. Karenanya hati bisa sakit, bahkan bisa buta dan mati. Hal itu karena Allah juga menciptakan satu elemen lain dalam diri manusia yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan kehidupannya. Namun elemen jika tidak terkontrol akan menjadi instrumen destruktif bagi kehidupan. Itulah hawa nafsu manusia.
Kerusakan pertama yang akan terjadi oleh hawa nafsu yang tidak terkontrol adalah rusaknya kesucian hati manusia. Dan ketika hati mengalami kerusakan maka hati itu tidak lagi mampu memainkan peranan furqan. Sebuah cahaya batin (nurani) untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan.
Di sinilah puasa yang memang esensinya Al-Imsak atau menahan, mengontrol atau mengendalikan disyariatkan untuk itu (mengontrol kecenderungan hawa nafsu yang buas. Puasa berperan menjaga hati agar tidak merusak kesuciannya. Pada posisi inilah puasa memang dikenal sebagai جنة (junnah) atau perisai (shield).
Lihat Juga :