Memaknai Keberkahan Ramadan (21): Al-Qur'an Menyelamatkan Manusia dari Kesesatan
Kamis, 20 April 2023 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
Saya terkejut ketika dia menjawab: "I am angry".
Ketika saya tanya "kenapa marah?". Dia menjelaskan bahwa dia telah mulai bosan dengan kehidupannya yang menurutnya bagaikan mesin yang berputar 24 jam tanpa henti.
"Every morning I leave my home to my work. Then back to my home at night," katanya nampak kesal.
"On the weekend I spend most of time at night clubs (di akhir pekan saya habiskan waktu saya di rumah-rumah hiburan," lanjutnya.
"But I don't know for what all this," (saya tidak tahu untuk apa semua ini), katanya dengan suara yang agak meninggi.
Saya kemudian memulai merespons dengan mengatakan: "I'm sorry for you." Seolah saya ikut merasakan kebosanan hidup itu. Saya ingin dia merasa mendapat support dan motivasi.
Lalu saya tanya pekerjaannya. "What do you do?"
Dia jawab: "I am an architect" (saya seorang arsitektur).
Dalam hati saya bertanya: "Kok bisa ya? Seorang Insinyur di kota New York pastinya pintar dan sukses. Pekerjaan sebagai insinyur di kota dunia ini adalah salah satu pekerjaan yang prestigius (bergengsi). Tapi kenapa anak muda ini marah pada hidupnya?
Singkat cerita Mathew masuk Islam. Tapi bukan ini yang ingin saya sampaikan kali ini. Justeru yang ingin saya sampaikan adalah realita seorang anak muda, terdidik dan sukses. Tapi pada saat yang sama justeru marah pada diri dan kehidupannya.
Ketika saya tanya "kenapa marah?". Dia menjelaskan bahwa dia telah mulai bosan dengan kehidupannya yang menurutnya bagaikan mesin yang berputar 24 jam tanpa henti.
"Every morning I leave my home to my work. Then back to my home at night," katanya nampak kesal.
"On the weekend I spend most of time at night clubs (di akhir pekan saya habiskan waktu saya di rumah-rumah hiburan," lanjutnya.
"But I don't know for what all this," (saya tidak tahu untuk apa semua ini), katanya dengan suara yang agak meninggi.
Saya kemudian memulai merespons dengan mengatakan: "I'm sorry for you." Seolah saya ikut merasakan kebosanan hidup itu. Saya ingin dia merasa mendapat support dan motivasi.
Lalu saya tanya pekerjaannya. "What do you do?"
Dia jawab: "I am an architect" (saya seorang arsitektur).
Dalam hati saya bertanya: "Kok bisa ya? Seorang Insinyur di kota New York pastinya pintar dan sukses. Pekerjaan sebagai insinyur di kota dunia ini adalah salah satu pekerjaan yang prestigius (bergengsi). Tapi kenapa anak muda ini marah pada hidupnya?
Singkat cerita Mathew masuk Islam. Tapi bukan ini yang ingin saya sampaikan kali ini. Justeru yang ingin saya sampaikan adalah realita seorang anak muda, terdidik dan sukses. Tapi pada saat yang sama justeru marah pada diri dan kehidupannya.
Lihat Juga :