Kisah Nabi Musa Tak Sengaja Membunuh Orang Mesir dan Menikahi Putri Nabi Syuaib
Rabu, 03 Mei 2023 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Musa pun membantu kedua gadis itu. Beliau mengambilkan air minum untuk ternak kedua gadis tersebut. Musa kembali berteduh di suatu tempat dan berdoa agar Allah memberinya pertolongan atas memenuhi kebutuhannya.
Artinya: "Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku." (Surat Al-Qashash ayat 24)
Ternyata dua gadis yang telah ditolongnya itu menceritakan kebaikan pemuda penolong (Nabi Musa) kepada ayah mereka Nabi Syu'aib. Tak lama kemudian, Nabi Musa dipanggil ke rumah Nabi Syua'ib.
Putri Nabi Syu'aib mengusulkan kepada ayahnya agar mempekerjakan Musa karena beliau adalah sosok yang Al-Qawiyyul Amin. Pujian atau gelar kepada Nabi Musa ini diartikan dengan orang yang kuat lagi dapat dipercaya.
Nabi Syuaib pun mengajak Musa berbincang-bincang. Beliau mengutarakan keinginannya untuk menikahkan Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai mahar perkawinan ini, Musa harus bekerja menggembalakan kambing selama delapan tahun. Kalau Musa menyanggupi bekerja sepuluh tahun maka itu lebih baik.
Ini adalah tawaran yang amat simpatik dan melegakan hati Musa, sebagai seorang pelarian yang ingin menghindarkan diri dari maut. Berikut kisahnya diabadikan dalam Al-Qur'an. "Dia (Syuaib) berkata, "Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik." (QS. Al-Qasas Ayat 27)
Setelah sepuluh tahun bekerja menyempurnakan perjanjian dengan Nabi Syuaib, Musa pun memohon ijin untuk kembali ke Mesir dan mengajak serta istrinya. Nabi Syu'aib pun mengijinkannya.
Kemudian terjadilah pengangkatan Nabi Musa menjadi Nabi dan dibekali dengan sejumlah mukjizat. Pengangkatan Musa sebagai Nabi terjadi di Bukit Tursina. Demikian sekelumit kisah Nabi Musa dalam pelariannya hingga menikah dengan putri Nabi Syuaib yang dalam riwayat dikenal sangat pemalu dan selalu menjaga dirinya ('iffah).
Baca Juga: Belajar dari Istri Nabi Musa : Selalu Menjaga Rasa Malu
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
Artinya: "Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku." (Surat Al-Qashash ayat 24)
Ternyata dua gadis yang telah ditolongnya itu menceritakan kebaikan pemuda penolong (Nabi Musa) kepada ayah mereka Nabi Syu'aib. Tak lama kemudian, Nabi Musa dipanggil ke rumah Nabi Syua'ib.
Putri Nabi Syu'aib mengusulkan kepada ayahnya agar mempekerjakan Musa karena beliau adalah sosok yang Al-Qawiyyul Amin. Pujian atau gelar kepada Nabi Musa ini diartikan dengan orang yang kuat lagi dapat dipercaya.
Nabi Syuaib pun mengajak Musa berbincang-bincang. Beliau mengutarakan keinginannya untuk menikahkan Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai mahar perkawinan ini, Musa harus bekerja menggembalakan kambing selama delapan tahun. Kalau Musa menyanggupi bekerja sepuluh tahun maka itu lebih baik.
Ini adalah tawaran yang amat simpatik dan melegakan hati Musa, sebagai seorang pelarian yang ingin menghindarkan diri dari maut. Berikut kisahnya diabadikan dalam Al-Qur'an. "Dia (Syuaib) berkata, "Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik." (QS. Al-Qasas Ayat 27)
Setelah sepuluh tahun bekerja menyempurnakan perjanjian dengan Nabi Syuaib, Musa pun memohon ijin untuk kembali ke Mesir dan mengajak serta istrinya. Nabi Syu'aib pun mengijinkannya.
Kemudian terjadilah pengangkatan Nabi Musa menjadi Nabi dan dibekali dengan sejumlah mukjizat. Pengangkatan Musa sebagai Nabi terjadi di Bukit Tursina. Demikian sekelumit kisah Nabi Musa dalam pelariannya hingga menikah dengan putri Nabi Syuaib yang dalam riwayat dikenal sangat pemalu dan selalu menjaga dirinya ('iffah).
Baca Juga: Belajar dari Istri Nabi Musa : Selalu Menjaga Rasa Malu
(rhs)
Lihat Juga :