Syaikh Aidh Al Qorni : Sosok Muslim yang Humoris Lebih Mudah Sukses
Kamis, 04 Mei 2023 - 11:02 WIB
loading...
Syaikh Aidh Al-Qorni mengatakan sosok muslim yang sering tersenyum karena bercanda akan lebih mudah sukses dibanding yang lainnya misalnya yang suka cemberut, marah atau cepat tersinggung. Foto ilustrasi/sweetzone.uk
A
A
A
Banyak ulama yang berpendapat bahwa tawa dan senyum adalah salah satu sebab yang paling kuat yang membuat manusia agar lebih efektif dan produktif. Bahkan Imam Ibnul Jauzi (fuqaha, ahli ibadah) berkata bahwa para ulama yang mulia selalu senang dengan humor dan tertawa mendengarnya.
Selain itu, berhumor, tertawa, tersenyum, dan bercanda merupakan irama kehidupan yang tidak mungkin terhindarkan, apalagi jika kita hidup di tengah masyarakat. Bahkan dalam kondisi tertentu canda dan humor menjelma menjadi metode pendidikan yang jitu.
Syaikh 'Aidh Al Qorni dalam 'Ibtasim', menulis bahwa para ulama memberikan nasehat agar semua orang, dalam posisinya masing-masing dalam kehidupan ini, jika ingin hidup dengan tenang, rileks, dan berbahagia maka seseorang hendaklah penuh humor, senang bercanda, tersenyum mendengar cerita canda, dan tertawa. Hal itu untuk menciptakan nuansa kejernihan, kebersihan pikiran dari rasa penat, menghilangkan kesedihan, dan untuk mempersempit rasa bosan dalam kehidupan ini.
Dalam kitab 'al-Mausû’ah al-Kuwaitiyah', disebutkan bahwa bercanda tidak menghilangkan kesempurnaan, bahkan sebaliknya bercanda bisa menjadi pelengkap kesempurnaan jika sesuai dengan aturan syari’at. Misalnya, canda tapi tetap jujur tidak dusta, tujuannya untuk menarik dan menghibur orang-orang yang lemah, atau untuk menampakkan sikap lemah-lembut kepada mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bercanda, namun canda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersih dari segala yang terlarang dan tidak sering dalam rangka mewujudkan kemaslahatan
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmizi, dari Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang bernama Anas Radhiyallahu anhu, ada seorang laki-laki meminta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar dibawa serta di atas tunggangannya, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Aku akan membawamu dengan anak unta.” Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah ada unta yang tidak dilahirkan oleh unta betina.” (HR. Ahmad).
Artinya semua unta itu adalah anak dari unta betina yang melahirkannya.
Imam Ibnul Jauzi berkata bahwa bercanda dan tersenyum bisa menyegarkan jiwa dan menghibur hati setelah lelah berpikir. Dalam kitab 'al-Aqdul Faarid' dikatakan bahwa Allah Ta'ala lebih menyukai dan menyenangi perilaku hamba yang senang membuat orang lain tersenyum dan tertawa (namun tertawa yang tidak berlebihan dan tidak mengandung unsur kebohongan dan merendahkan orang lain) dibanding hamba yang selalu menunjukkan muka sedih dan mudah mengeluh.
Syaikh 'Aidh Al Qorni mengatakan sosok yang sering tersenyum karena suka bercanda akan lebih mudah sukses dibanding yang lainnya (sering cemberut, marah, terlalu serius, gampang tersinggung, tidak bergaul, dll). Karena orang yang suka humor lebih dapat menaklukan hati orang lain.
Selain itu, berhumor, tertawa, tersenyum, dan bercanda merupakan irama kehidupan yang tidak mungkin terhindarkan, apalagi jika kita hidup di tengah masyarakat. Bahkan dalam kondisi tertentu canda dan humor menjelma menjadi metode pendidikan yang jitu.
Syaikh 'Aidh Al Qorni dalam 'Ibtasim', menulis bahwa para ulama memberikan nasehat agar semua orang, dalam posisinya masing-masing dalam kehidupan ini, jika ingin hidup dengan tenang, rileks, dan berbahagia maka seseorang hendaklah penuh humor, senang bercanda, tersenyum mendengar cerita canda, dan tertawa. Hal itu untuk menciptakan nuansa kejernihan, kebersihan pikiran dari rasa penat, menghilangkan kesedihan, dan untuk mempersempit rasa bosan dalam kehidupan ini.
Dalam kitab 'al-Mausû’ah al-Kuwaitiyah', disebutkan bahwa bercanda tidak menghilangkan kesempurnaan, bahkan sebaliknya bercanda bisa menjadi pelengkap kesempurnaan jika sesuai dengan aturan syari’at. Misalnya, canda tapi tetap jujur tidak dusta, tujuannya untuk menarik dan menghibur orang-orang yang lemah, atau untuk menampakkan sikap lemah-lembut kepada mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bercanda, namun canda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersih dari segala yang terlarang dan tidak sering dalam rangka mewujudkan kemaslahatan
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmizi, dari Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang bernama Anas Radhiyallahu anhu, ada seorang laki-laki meminta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar dibawa serta di atas tunggangannya, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Aku akan membawamu dengan anak unta.” Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah ada unta yang tidak dilahirkan oleh unta betina.” (HR. Ahmad).
Artinya semua unta itu adalah anak dari unta betina yang melahirkannya.
Imam Ibnul Jauzi berkata bahwa bercanda dan tersenyum bisa menyegarkan jiwa dan menghibur hati setelah lelah berpikir. Dalam kitab 'al-Aqdul Faarid' dikatakan bahwa Allah Ta'ala lebih menyukai dan menyenangi perilaku hamba yang senang membuat orang lain tersenyum dan tertawa (namun tertawa yang tidak berlebihan dan tidak mengandung unsur kebohongan dan merendahkan orang lain) dibanding hamba yang selalu menunjukkan muka sedih dan mudah mengeluh.
Syaikh 'Aidh Al Qorni mengatakan sosok yang sering tersenyum karena suka bercanda akan lebih mudah sukses dibanding yang lainnya (sering cemberut, marah, terlalu serius, gampang tersinggung, tidak bergaul, dll). Karena orang yang suka humor lebih dapat menaklukan hati orang lain.
Lihat Juga :