Haedar Nashir: Di saat Ada Pemicu, Bisakah Kita Tetap Menjaga Silaturahmi?
Selasa, 09 Mei 2023 - 18:58 WIB
loading...
A
A
A
Pada masa-masa di mana silaturahmi sedang diuji, diperlukan keadaban yang melintas batas dan peradaban yang membangun semesta berkemajuan. “Kita selain ingin membangun keadaban, umat Islam dan agama yang lain memiliki tugas membangun peradaban,” ucap Haedar.
Menurut Haedar, ajaran utama dan pertama Al-Qur’an ialah “Iqra” yang menjadi penanda risalah Islam yang diturunkan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman. Artinya keberislaman yang semarak dan identitas verbal mesti disertai dengan gerakan pemikiran dan ikhtiar mengubah nasib umat Islam agar menjadi “khayra ummah”, yakni umat terbaik dan unggul dibandingkan dengan golongan lain yang lebih maju
Baca juga: Makna Khair al-Ummah Menurut Prof Haedar Nashir
Umat Islam Indonesia saat ini masih tertinggal terutama dalam ekonomi dan penguasaan IPTEK. Golongan mayoritas ini secara faktual belum menjadi kekuatan strategis yang menentukan kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan global. Karenanya umat Islam harus memacu diri secara dinamis dan progresif agar menjadi golongan umat dan golongan bangsa yang unggul di segala bidang kehidupan.
“Dengan cara apa membangun peradaban, tentu dengan penguasaan ilmu dan teknologi, membangun kekuatan ekonomi, mengembangkan dan menghayati nilai-nilai budaya, dan membangun sumber daya manusia. Saat ini, jujur, kita masih jauh tertinggal,” tutur Haedar.
Dalam rangka membangun peradaban maju, Haedar menekankan pentingnya pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Dia menyoroti Human Development Index dan Indeks Daya Saing Indonesia yang masih rendah, dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Haedar kemudian mengajak segenap pihak untuk introspeksi diri.
“Muhammadiyah, NU, saudara lintas iman, kita belum waktunya merayakan kelebihan-kelebihan kita, ada banyak titik lemah, karena ada banyak yang harus kita benahi bersama. Kita masih tertinggal, dan jangan merasa memposisikan diri seperti negara yang telah maju. Tapi kita tetap harus optimis,” ajak Haedar.
Kata Haedar, Syawal merupakan momentum untuk kembali mengingat arti penting kemajuan bangsa. “Membangun kemajuan layaknya berada di lorong sunyi, tidak mudah. Harus terus bersaing. Dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban. Jangan tertinggal oleh dunia Arab yang mulai merebut kemajuan. Kita tidak semestinya merendahkan mereka,” tuturnya.
Baca juga: Haedar Nashir: Politik Harus Jadi Pilar Pemersatu Bangsa
Menurut Haedar, ajaran utama dan pertama Al-Qur’an ialah “Iqra” yang menjadi penanda risalah Islam yang diturunkan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman. Artinya keberislaman yang semarak dan identitas verbal mesti disertai dengan gerakan pemikiran dan ikhtiar mengubah nasib umat Islam agar menjadi “khayra ummah”, yakni umat terbaik dan unggul dibandingkan dengan golongan lain yang lebih maju
Baca juga: Makna Khair al-Ummah Menurut Prof Haedar Nashir
Umat Islam Indonesia saat ini masih tertinggal terutama dalam ekonomi dan penguasaan IPTEK. Golongan mayoritas ini secara faktual belum menjadi kekuatan strategis yang menentukan kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan global. Karenanya umat Islam harus memacu diri secara dinamis dan progresif agar menjadi golongan umat dan golongan bangsa yang unggul di segala bidang kehidupan.
“Dengan cara apa membangun peradaban, tentu dengan penguasaan ilmu dan teknologi, membangun kekuatan ekonomi, mengembangkan dan menghayati nilai-nilai budaya, dan membangun sumber daya manusia. Saat ini, jujur, kita masih jauh tertinggal,” tutur Haedar.
Dalam rangka membangun peradaban maju, Haedar menekankan pentingnya pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Dia menyoroti Human Development Index dan Indeks Daya Saing Indonesia yang masih rendah, dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Haedar kemudian mengajak segenap pihak untuk introspeksi diri.
“Muhammadiyah, NU, saudara lintas iman, kita belum waktunya merayakan kelebihan-kelebihan kita, ada banyak titik lemah, karena ada banyak yang harus kita benahi bersama. Kita masih tertinggal, dan jangan merasa memposisikan diri seperti negara yang telah maju. Tapi kita tetap harus optimis,” ajak Haedar.
Kata Haedar, Syawal merupakan momentum untuk kembali mengingat arti penting kemajuan bangsa. “Membangun kemajuan layaknya berada di lorong sunyi, tidak mudah. Harus terus bersaing. Dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban. Jangan tertinggal oleh dunia Arab yang mulai merebut kemajuan. Kita tidak semestinya merendahkan mereka,” tuturnya.
Baca juga: Haedar Nashir: Politik Harus Jadi Pilar Pemersatu Bangsa
(mhy)
Lihat Juga :