Haedar Nashir: Di saat Ada Pemicu, Bisakah Kita Tetap Menjaga Silaturahmi?
Selasa, 09 Mei 2023 - 18:58 WIB
loading...
Haedar Nashir dalam acara Halalbilhalal yang berlangsung di Gedung Prof Dr H M Amin Abdullah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada Senin (08/05/2023). Foto/Ilustrasi: pp muhammadiyah
A
A
A
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, MSi mengatakan ujian silaturahmi bukan di kala normal. "Di kala normal insyaAllah bisa. Tapi di saat ada pemicu, bisakah kita tetap menjaga silaturahmi?” ujar Haedar.
Pernyataan Haedar ini disampaikan dalam acara Halalbilhalal yang berlangsung di Gedung Prof Dr H M Amin Abdullah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada Senin (08/05/2023). Haedar menyampaikan materi tentang Hikmah Syawalan di hadapan pemuka agama-agama dan civitas akademika UIN SUKA Jogja tersebut.
Menurut Haedar, Indonesia merupakan rumah besar yang menaungi seluruh agama-agama dan kepercayaan. “Negeri kita Indonesia tercinta ini, harus menciptakan rumah yang besar, menjadi rumah nyaman untuk semua perbedaan, untuk keragaman, hidup bersatu, damai dan penuh toleransi,” ujarnya.
Baca juga: Haedar Nashir: Waspadai Virus yang Ganggu Ukhuwah
Secara normatif, kata Haedar, ada banyak tuntunan menjaga silaturahmi. Di antara ciri “Ulil Albab” yang disebutkan dalam Al Quran ialah mereka yang senantiasa menjaga tali silaturahmi. “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar-Ra’du: 21).
Nabi SAW juga meletakkan silaturahmi satu mata rantai dengan perintah ibadah, salat, dan zakat sebagaimana sabdanya: “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari).
Dalam pidato akhir kerisalahan Nabi SAW pada Haji Wada juga banyak nilai-nilai kemanusiaan semesta yang inklusif. Dalam momen sakral tersebut, Nabi SAW mengajak untuk memuliakan kaum perempuan dan semua umat manusia, meniadakan riba, meluruhkan ego golongan, menghilangkan diskriminasi, dan menjadikan umat yang satu dalam keragaman.
Dalam QS Ali Imran ayat 103, Allah berfirman: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. Redaksi ayat ini memuat perintah sekaligus larangan. Artinya, umat Islam harus melakukan sesuatu yang positif dan pada saat yang bersamaan harus mencegah hal yang negatif. Umat Islam mesti menjaga silaturahmi sekaligus menghindari permusuhan.
Berdasarkan tuntunan normatif di atas, kata Haedar, ada banyak sekali perintah untuk menjaga silaturahmi dan larangan menghunus permusuhan. "Akan tetapi, ujian sesungguhnya ialah apakah umat Islam mampu menjaga silaturahmi dengan kelompok yang berbeda dalam kondisi yang tidak normal?" ujarnya sebagaimana dikututip laman resmi PP Muhammadiyah .
“Bagaimana nilai-nilai yang kaya itu terus kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada kesenjangan antara normatif dan empirik. Ujian silaturahmi bukan di kala normal, di kala normal insyaAllah bisa. Tapi di saat ada pemicu, bisakah kita tetap menjaga silaturahmi?” tambahnya.
Baca juga: Haedar Nashir Petakan Tantangan Mendasar Pasca-Reformasi
Menurut Haedar, sosial media banyak memicu untuk memutus silaturahmi. Hal ini menjadi ujian bagi setiap kalangan agar tetap sabar dan kebal dari berbagai virus perpecahan. Selain sosial media, pemicu perpecahan juga dapat terjadi karena ego-golongan. Diharapkan para pemimpin dan elit suatu golongan mesti mendinginkan suasana di saat kondisi panas membara.
Lain dari pada itu, kata Haedar, kepentingan juga kadang menjadi sumbu perpecahan yang memutus tali silaturahmi. Induk segala berhala, kutip Rumi, adalah hawa nafsu. Banyak fenomena terjadi di masyarakat, antarkerabat keluarga dapat pecah hanya karena berebut harta warisan. Dalam skala yang lebih luas, berebut kekuasaan politik juga cenderung menghasilkan konflik yang nir-produktif.
Pernyataan Haedar ini disampaikan dalam acara Halalbilhalal yang berlangsung di Gedung Prof Dr H M Amin Abdullah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada Senin (08/05/2023). Haedar menyampaikan materi tentang Hikmah Syawalan di hadapan pemuka agama-agama dan civitas akademika UIN SUKA Jogja tersebut.
Menurut Haedar, Indonesia merupakan rumah besar yang menaungi seluruh agama-agama dan kepercayaan. “Negeri kita Indonesia tercinta ini, harus menciptakan rumah yang besar, menjadi rumah nyaman untuk semua perbedaan, untuk keragaman, hidup bersatu, damai dan penuh toleransi,” ujarnya.
Baca juga: Haedar Nashir: Waspadai Virus yang Ganggu Ukhuwah
Secara normatif, kata Haedar, ada banyak tuntunan menjaga silaturahmi. Di antara ciri “Ulil Albab” yang disebutkan dalam Al Quran ialah mereka yang senantiasa menjaga tali silaturahmi. “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar-Ra’du: 21).
Nabi SAW juga meletakkan silaturahmi satu mata rantai dengan perintah ibadah, salat, dan zakat sebagaimana sabdanya: “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari).
Dalam pidato akhir kerisalahan Nabi SAW pada Haji Wada juga banyak nilai-nilai kemanusiaan semesta yang inklusif. Dalam momen sakral tersebut, Nabi SAW mengajak untuk memuliakan kaum perempuan dan semua umat manusia, meniadakan riba, meluruhkan ego golongan, menghilangkan diskriminasi, dan menjadikan umat yang satu dalam keragaman.
Dalam QS Ali Imran ayat 103, Allah berfirman: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. Redaksi ayat ini memuat perintah sekaligus larangan. Artinya, umat Islam harus melakukan sesuatu yang positif dan pada saat yang bersamaan harus mencegah hal yang negatif. Umat Islam mesti menjaga silaturahmi sekaligus menghindari permusuhan.
Berdasarkan tuntunan normatif di atas, kata Haedar, ada banyak sekali perintah untuk menjaga silaturahmi dan larangan menghunus permusuhan. "Akan tetapi, ujian sesungguhnya ialah apakah umat Islam mampu menjaga silaturahmi dengan kelompok yang berbeda dalam kondisi yang tidak normal?" ujarnya sebagaimana dikututip laman resmi PP Muhammadiyah .
“Bagaimana nilai-nilai yang kaya itu terus kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada kesenjangan antara normatif dan empirik. Ujian silaturahmi bukan di kala normal, di kala normal insyaAllah bisa. Tapi di saat ada pemicu, bisakah kita tetap menjaga silaturahmi?” tambahnya.
Baca juga: Haedar Nashir Petakan Tantangan Mendasar Pasca-Reformasi
Menurut Haedar, sosial media banyak memicu untuk memutus silaturahmi. Hal ini menjadi ujian bagi setiap kalangan agar tetap sabar dan kebal dari berbagai virus perpecahan. Selain sosial media, pemicu perpecahan juga dapat terjadi karena ego-golongan. Diharapkan para pemimpin dan elit suatu golongan mesti mendinginkan suasana di saat kondisi panas membara.
Lain dari pada itu, kata Haedar, kepentingan juga kadang menjadi sumbu perpecahan yang memutus tali silaturahmi. Induk segala berhala, kutip Rumi, adalah hawa nafsu. Banyak fenomena terjadi di masyarakat, antarkerabat keluarga dapat pecah hanya karena berebut harta warisan. Dalam skala yang lebih luas, berebut kekuasaan politik juga cenderung menghasilkan konflik yang nir-produktif.
Lihat Juga :