Misteri Panji Gumilang, Al Chaidar: Biar Ganti Nama, Saya Mengenal Dia
Rabu, 05 Juli 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Seperti soal penerapan periodesasi hukum dan aturan yang selalu akan terjadi pengulangan. Sehingga jika dahulu masa di Makkah (Makkiyah) belum diwajibkan salat ataupun meninggalkan khamar, maka sekarang pun persis seperti itu.
Akibatnya, ketika saya dahulu berdakwah di kampus UI, tanpa ada rasa bersalah, saat itupun saya sambil minum vodka. Dan celakanya, justru hal itulah yang bisa menarik ribuan kaum muda, karena mereka senang mendapatkan ajaran itu. Seakan-akan menunjukkan bahwa tindakan mereka selama ini, seperti minum-minum adalah merupakan tindakan yang sesuai dengan fitrah. Berarti mereka selama ini tidak terlalu jauh dari Islam. Dan sekali lagi, karena itulah mereka tertarik dengan ajaran ini.
Baca juga: Ditanya Status Tersangka, Panji Gumilang: Urusannya Belum Selesai
Di dalam niatan saya menarik sebanyak mungkin pengikut, tidak ada latar belakang lain kecuali semata mata untuk kepentingan ekonomi NII.
Orang digiring masuk dulu, setelah itu baru diperas ekonominya. Atas tindakan rekrutmen saya ini, masuklah sekitar 2.000-an anggota, yang patuh dan taatnya hanya untuk Abu Toto. Kalau dijumlah hasil setoran yang saya berikan kepada pimpinan selama itu nggak kurang dari Rp2 miliar. Tapi, dasar niat dan keterpengaruhan kita dengan NII karena kering spiritual, kurang ilmu agama, maka sebenarnya ketika menjadi anggota NII Abu Toto sama sekali tak terobati.
Jika tadinya kita merasa teralienasi (terasing) dari kehidupan sosial yang ada, seharusnya dengan masuk ke dalam jemaah NII, akan kita dapatkan teman serta bisa bersosialisasi. Kenyataannya, kitapun masih tetap merasa sendiri juga.
Bahkan pada akhirnya kita diancam dengan ayat-ayat, dituduh malas, murtad atau kufur, karena kita sudah kesulitan untuk memberikan kontribusi ekonomi kepada NII. Maka faktor inilah yang pada akhirnya menyebabkan saya dan teman teman yang lain keluar dari NII.
Tentang Abu Toto, saya tidak tahu siapa nama aslinya, karena dia punya banyak nama. Saya mengenal betul dengan Abu Toto, karena memang jajaran saya waktu itu di Bekasi Barat. Dan sayapun tetap mengenali Abu Toto, sekalipun dia mengubah namanya menjadi AS Panji Gumilang, atau menjadi Syaikh Ma'had Al Zaytun di Indramayu itu.
Tiada niatan saya dalam menyusun buku tentang Abu Toto dengan KW 9-nya melainkan, berharap bisa menjadi kafarat kesalahan saya yang telah banyak menyesatkan umat dan melecehkan Islam, serta memberi tahu umat yang lain yang belum tahu, tentang apa dan siapa Abu Toto dengan NII KW9 maupun Ma'had Al Zaytunnya.
Baca juga: PPATK Periksa Aliran Uang 256 Rekening Milik Panji Gumilang
Saya pun sudah sempat membuktikan perlawanan saya kepada NII KW IX dengan menyekap mas'ul Shaleh maupun Ibrahim saya selama tiga hari di malja', dan sempat pula saya rampas dua kendaraan yang dipakainya serta sejumlah uang yang ada. Toh, pada akhirnya mereka tidak mampu berbuat apa-apa kepada saya.
Akibatnya, ketika saya dahulu berdakwah di kampus UI, tanpa ada rasa bersalah, saat itupun saya sambil minum vodka. Dan celakanya, justru hal itulah yang bisa menarik ribuan kaum muda, karena mereka senang mendapatkan ajaran itu. Seakan-akan menunjukkan bahwa tindakan mereka selama ini, seperti minum-minum adalah merupakan tindakan yang sesuai dengan fitrah. Berarti mereka selama ini tidak terlalu jauh dari Islam. Dan sekali lagi, karena itulah mereka tertarik dengan ajaran ini.
Baca juga: Ditanya Status Tersangka, Panji Gumilang: Urusannya Belum Selesai
Di dalam niatan saya menarik sebanyak mungkin pengikut, tidak ada latar belakang lain kecuali semata mata untuk kepentingan ekonomi NII.
Orang digiring masuk dulu, setelah itu baru diperas ekonominya. Atas tindakan rekrutmen saya ini, masuklah sekitar 2.000-an anggota, yang patuh dan taatnya hanya untuk Abu Toto. Kalau dijumlah hasil setoran yang saya berikan kepada pimpinan selama itu nggak kurang dari Rp2 miliar. Tapi, dasar niat dan keterpengaruhan kita dengan NII karena kering spiritual, kurang ilmu agama, maka sebenarnya ketika menjadi anggota NII Abu Toto sama sekali tak terobati.
Jika tadinya kita merasa teralienasi (terasing) dari kehidupan sosial yang ada, seharusnya dengan masuk ke dalam jemaah NII, akan kita dapatkan teman serta bisa bersosialisasi. Kenyataannya, kitapun masih tetap merasa sendiri juga.
Bahkan pada akhirnya kita diancam dengan ayat-ayat, dituduh malas, murtad atau kufur, karena kita sudah kesulitan untuk memberikan kontribusi ekonomi kepada NII. Maka faktor inilah yang pada akhirnya menyebabkan saya dan teman teman yang lain keluar dari NII.
Tentang Abu Toto, saya tidak tahu siapa nama aslinya, karena dia punya banyak nama. Saya mengenal betul dengan Abu Toto, karena memang jajaran saya waktu itu di Bekasi Barat. Dan sayapun tetap mengenali Abu Toto, sekalipun dia mengubah namanya menjadi AS Panji Gumilang, atau menjadi Syaikh Ma'had Al Zaytun di Indramayu itu.
Tiada niatan saya dalam menyusun buku tentang Abu Toto dengan KW 9-nya melainkan, berharap bisa menjadi kafarat kesalahan saya yang telah banyak menyesatkan umat dan melecehkan Islam, serta memberi tahu umat yang lain yang belum tahu, tentang apa dan siapa Abu Toto dengan NII KW9 maupun Ma'had Al Zaytunnya.
Baca juga: PPATK Periksa Aliran Uang 256 Rekening Milik Panji Gumilang
Saya pun sudah sempat membuktikan perlawanan saya kepada NII KW IX dengan menyekap mas'ul Shaleh maupun Ibrahim saya selama tiga hari di malja', dan sempat pula saya rampas dua kendaraan yang dipakainya serta sejumlah uang yang ada. Toh, pada akhirnya mereka tidak mampu berbuat apa-apa kepada saya.
(mhy)
Lihat Juga :