Unik! Jemaah Asal Bugis Kenakan Baju Kurung bak Ratu Usai Ibadah Haji
, - : WIB
loading...
A
A
A
JAKARTA - Ada banyak cara bagi jemaah haji untuk mengungkapkan rasa syukurnya usai menunaikan ibadah haji. Salah satunya, mengenakan pakaian kurung dan penutup kepala poci-poci seperti yang dilakukan jemaah haji asal Bugis ini.
Bagi jemaah haji perempuan, mereka mengenakan busana penuh warna, memakai penutup kepala berwarna emas layaknya seorang ratu. Begitu juga di tangan kanan dan kirinya melekat perhiasan dan kalung di lehernya.
Sedangkan untuk jemaah haji pria, mereka mengenakan terlihat sederhana hanya mengenakan penutup kepala, gamis, surban, kaca mata hitam. Namun hal itu tetap memperlihatkan keunikan jemaah haji asal Sulawesi Selatan (Sulsel) tersebut.
Baca juga: Irjen Kemenag Usulkan Opsi Pendamping Lansia pada Penyelenggaraan Haji 2024
Sebenarnya, bagi masyarakat Bugis, mengenakan pakaian dan perhiasan tersebut merupakan tradisi budaya yang sudah berlangsung lama dan turun temurun. Asnan Nompo (68) jemaah haji embarkasi Ujung Pandang kelompok terbang (kloter) UPG 3 merupakan salah satu jemaah yang tetap mempertahankan tradisi tersebut.
Dia tetap mengenakan pakaian baju kurung dan kerudung yang ada manik-manik keemasannya. Saat mengenakan pakaian tersebut di Paviliun atau Plaza Bandara King Abdul Azis Jeddah, Asnan dibantu petugas Jemaah haji dari Daerah Kerja (Daker) Bandara Petugas Pelaksana Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi Rina Nurmalia.
"Seluruh busana itu sudah dibawa sejak dari Tanah Air. Memang disiapkan khusus untuk dipakai saat pulang haji,” ujar Perawat Kloter UPG 3 Hastiah Hamadong Lukman, Jumat (7/7/2023).
Keunikan jemaah haji Indonesia juga mendapat perhatian dari petugas Wukalla Arab Saudi. Mereka sangat antusias mengabadikan momen Asnan memakai pakaian khas daerahnya.
“Sudah menjadi budaya warga Makassar, terutama dari Bugis. Itu sudah menjadi tradisi atau Sompa, layaknya menjalani wisuda. Makanya mereka menyiapkan khusus,” kata Hastiah.
Sebenarnya, pemakaian baju princess bling-bling tersebut kesepakatannya dipakai saat sampai embarkasi Ujung Pandang Makassar. Sebab, di embarkasi juga sudah disediakan perias yang siap mempercantik kaum perempuan usai menjalani haji.
Namun ada di antara mereka yang memilih untuk memakainya sejak masih di Arab Saudi. "Ini isinya baju buat dipakai nanti kalau sampai Makassar. Bajunya sudah saya bawa dari Indonesia dulu,” kata Cemba Aming Laiyying (60).
Sementara itu, Rina, petugas haji yang sudah beberapa kali bertugas di Daker Bandara mengaku budaya bling-bling dan princess itu sudah menjadi budaya jemaah haji dari kloter UPG. "Saya justru senang kalau diminta membantu menata busananya,” kata Rina.
Bagi jemaah haji perempuan, mereka mengenakan busana penuh warna, memakai penutup kepala berwarna emas layaknya seorang ratu. Begitu juga di tangan kanan dan kirinya melekat perhiasan dan kalung di lehernya.
Sedangkan untuk jemaah haji pria, mereka mengenakan terlihat sederhana hanya mengenakan penutup kepala, gamis, surban, kaca mata hitam. Namun hal itu tetap memperlihatkan keunikan jemaah haji asal Sulawesi Selatan (Sulsel) tersebut.
Baca juga: Irjen Kemenag Usulkan Opsi Pendamping Lansia pada Penyelenggaraan Haji 2024
Sebenarnya, bagi masyarakat Bugis, mengenakan pakaian dan perhiasan tersebut merupakan tradisi budaya yang sudah berlangsung lama dan turun temurun. Asnan Nompo (68) jemaah haji embarkasi Ujung Pandang kelompok terbang (kloter) UPG 3 merupakan salah satu jemaah yang tetap mempertahankan tradisi tersebut.
Dia tetap mengenakan pakaian baju kurung dan kerudung yang ada manik-manik keemasannya. Saat mengenakan pakaian tersebut di Paviliun atau Plaza Bandara King Abdul Azis Jeddah, Asnan dibantu petugas Jemaah haji dari Daerah Kerja (Daker) Bandara Petugas Pelaksana Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi Rina Nurmalia.
"Seluruh busana itu sudah dibawa sejak dari Tanah Air. Memang disiapkan khusus untuk dipakai saat pulang haji,” ujar Perawat Kloter UPG 3 Hastiah Hamadong Lukman, Jumat (7/7/2023).
Keunikan jemaah haji Indonesia juga mendapat perhatian dari petugas Wukalla Arab Saudi. Mereka sangat antusias mengabadikan momen Asnan memakai pakaian khas daerahnya.
“Sudah menjadi budaya warga Makassar, terutama dari Bugis. Itu sudah menjadi tradisi atau Sompa, layaknya menjalani wisuda. Makanya mereka menyiapkan khusus,” kata Hastiah.
Sebenarnya, pemakaian baju princess bling-bling tersebut kesepakatannya dipakai saat sampai embarkasi Ujung Pandang Makassar. Sebab, di embarkasi juga sudah disediakan perias yang siap mempercantik kaum perempuan usai menjalani haji.
Namun ada di antara mereka yang memilih untuk memakainya sejak masih di Arab Saudi. "Ini isinya baju buat dipakai nanti kalau sampai Makassar. Bajunya sudah saya bawa dari Indonesia dulu,” kata Cemba Aming Laiyying (60).
Sementara itu, Rina, petugas haji yang sudah beberapa kali bertugas di Daker Bandara mengaku budaya bling-bling dan princess itu sudah menjadi budaya jemaah haji dari kloter UPG. "Saya justru senang kalau diminta membantu menata busananya,” kata Rina.
(rca)
Lihat Juga :