Pengadilan Prancis Perkuat Larangan Perempuan Berjilbab Bermain Sepak Bola di Lapangan
Rabu, 12 Juli 2023 - 15:58 WIB
loading...
Sekelompok wanita yang menamakan diri Les Hijabeuses bermain sepak bola di taman Luksemburg menghadap Senat Prancis di Paris pada 26 Januari 2022. (MEE)
A
A
A
Pengadilan Tinggi Administrasi Prancis memutuskan bahwa Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dapat terus melarang pemain berhijab di lapangan. Keputusan tersebut diambil pada saat umat Islam di seluruh dunia sedang menikmati perayaan Iduladha .
Aktivis olahraga pemenang penghargaan yang berfokus pada persimpangan rasisme dan misogini dalam olahraga, Shireen Ahmed, menulis keputusan tersebut secara efektif menghapus perempuan berhijab dari semua kesempatan untuk berpartisipasi dalam permainan indah - bermain, melatih, memimpin, dan berpartisipasi di level sepak bola mana pun di Prancis.
"Masalah di balik semua ini berakar pada laïcité, konsep sekularisme Prancis dan alasan FFF ingin menjauhkan simbol agama dari sepak bola," ujar Shireen Ahmed dalam tulisannya berjudul "France's ban on hijab in women's football is an act of state racism" yang dilansir Midle East Eye (MEE) 11 Juli 2023.
Baca juga: Kisah Penaklukan Islam ke Prancis, Andalusia, dan Spanyol Islam
FFF menyatakan bahwa mengizinkan jilbab di atau dekat lapangan bertentangan dengan undang-undang tahun 1905 tentang sekularisme.
Les Hijabeuses, sekelompok wanita muda di Prancis yang menentang kebijakan diskriminatif FFF, berpendapat bahwa beberapa pemain non-Muslim membuat gerakan tanda salib sebelum keluar lapangan dan memiliki tato figur dan simbol Kristen yang terlihat jelas.
Aturan tersebut tidak diterapkan secara merata. Ini terutama diberlakukan pada wanita berkulit coklat dan hitam yang Muslim dan memakai jilbab, meskipun juga melarang kippah dan sorban.
Hak Asasi Manusia
Shireen Ahmed mengatakan beberapa hari lagi, para pemain sepak bola wanita berlaga di Piala Dunia Wanita di Australia dan Selandia Baru.
"Putusan pengadilan tersebut adalah tamparan bagi siapa pun yang mengadvokasi kesetaraan gender dalam sepak bola, apalagi hanya beberapa minggu sebelum acara internasional yang bertujuan memberikan kesempatan dan perwakilan yang lebih besar bagi atlet wanita," ujarnya.
Aktivis olahraga pemenang penghargaan yang berfokus pada persimpangan rasisme dan misogini dalam olahraga, Shireen Ahmed, menulis keputusan tersebut secara efektif menghapus perempuan berhijab dari semua kesempatan untuk berpartisipasi dalam permainan indah - bermain, melatih, memimpin, dan berpartisipasi di level sepak bola mana pun di Prancis.
"Masalah di balik semua ini berakar pada laïcité, konsep sekularisme Prancis dan alasan FFF ingin menjauhkan simbol agama dari sepak bola," ujar Shireen Ahmed dalam tulisannya berjudul "France's ban on hijab in women's football is an act of state racism" yang dilansir Midle East Eye (MEE) 11 Juli 2023.
Baca juga: Kisah Penaklukan Islam ke Prancis, Andalusia, dan Spanyol Islam
FFF menyatakan bahwa mengizinkan jilbab di atau dekat lapangan bertentangan dengan undang-undang tahun 1905 tentang sekularisme.
Les Hijabeuses, sekelompok wanita muda di Prancis yang menentang kebijakan diskriminatif FFF, berpendapat bahwa beberapa pemain non-Muslim membuat gerakan tanda salib sebelum keluar lapangan dan memiliki tato figur dan simbol Kristen yang terlihat jelas.
Aturan tersebut tidak diterapkan secara merata. Ini terutama diberlakukan pada wanita berkulit coklat dan hitam yang Muslim dan memakai jilbab, meskipun juga melarang kippah dan sorban.
Hak Asasi Manusia
Shireen Ahmed mengatakan beberapa hari lagi, para pemain sepak bola wanita berlaga di Piala Dunia Wanita di Australia dan Selandia Baru.
"Putusan pengadilan tersebut adalah tamparan bagi siapa pun yang mengadvokasi kesetaraan gender dalam sepak bola, apalagi hanya beberapa minggu sebelum acara internasional yang bertujuan memberikan kesempatan dan perwakilan yang lebih besar bagi atlet wanita," ujarnya.
Lihat Juga :