Kisah Penaklukan Islam ke Prancis, Andalusia, dan Spanyol Islam
Minggu, 01 Januari 2023 - 08:09 WIB
loading...
Abdurrahman ad-Dakhil adalah peletak dasar pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol atau Andalusia. Foto/Ilustrasi: wikipedia
A
A
A
Penaklukan Islam atas semenanjung Iberia merupakan kelanjutan dari penaklukan Islam atas Afrika Utara. Penaklukan-penaklukan ini terjadi sebagai hasil dari ekspedisi-eksedisi militer.
William Montgomery Watt (1909-2006) dalam buku yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996) menyebut pada tahun 710 Masehi, ketika peninjauan pertama terjadi, seluruh semenanjung bersamaan dengan sebuah provinsi di Prancis sebelah tenggara yang berada di bawah kekuasaan bangsa Visigoth; namun raja yang baru saja naik tahta, Roderick, yang kebetulan kekuasaan kerajaannya telah diperselisihkan.
Ketika umat Islam mencapai wilayah ini pada tahun 711 Masehi dengan 7.000 tentara, raja Roderick menyerah di medan laga dan menghilangkan jejaknya.
"Sejak tahun 716 Masehi, umat Islam akhirnya menguasai seluruh semenanjung dan bahkan menguasai Narbonne di Prancis selatan," tutur pakar studi-studi keislaman dari Britania Raya, seorang orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat itu.
Selanjutnya serangan-serangan yang dilancarkan ke Prancis, baik dari pantai barat maupun dari lembah Rhone, namun ekspedisi militer ini digagalkan oleh Charles Martel di Tours pada tahun 732 Masehi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa serangan-serangan atas Prancis itu merugikan kaum muslimin dan dapat dihentikan oleh pasukan Prancis, sekalipun Narbonne masih tetap diduduki sampai akhir tahun 751 Masehi.
Baca juga: Sejarah Kekhalifahan Kordoba: Era Spanyol, Prancis, dan Portugal di Bawah Kekuasaan Muslimin
Neo-Bani Umayah
Al Andalus adalah provinsi pertama dinasti Bani Umayyah di Damaskus. Sejak jatuhnya Bani Ummayah pada tahun 750 Masehi, seorang pangeran muda Bani Umayah yang terhindar dari penghancuran keluarganya oleh Bani Abbasiah, pada tahun 756 Masehi mulai membangun kerajaan Bani Umayah di Spanyol yang merdeka.
Maka Neo-Bani Umayyah terus menguasai Al Andalus sampai dua setengah abad lamanya, dan dari tahun 930 sampai 1.000 Masehi negeri ini mengalami masa kejayaannya.
Pada tahun 976 Masehi, seorang putera ke-11 (yang baru berusia 11 tahun waktu itu) dinobatkan menjadi raja. Maka pada masa ini pemerintahan berada di tangan Pengurus Rumah Tangga Kerajaan (kepala menteri) yang membuktikan anak yang menggantikannya sebagai seorang penguasa yang kuat.
Namun demikian, sepeninggalnya pada tahun 1.008 Masehi mulailah negeri ini mengalami proses disintegrasi. Tidak lama lagi gubernemen mengontrol seluruh negeri, sekalipun sampai tahun 1.031 Masehi putera-putera kerajaan Bani Ummayah menuntut kekuasaan.
Dari tahun 1009 sampai 1091 Masehi yang dikenal sebagai zaman "raja-raja golongan" (reyes de taifas, muluk al-thawa'if), disebut demikian karena pada saat itu ada kurang lebih tiga raja yang tidak saling berhubungan satu sama lain.
Perpecahan kerajaan Islam ini memberi kesempatan kepada pangeran-pangeran Kristen di Spanyol barat laut, hiterto, yang semi merdeka dan harus membayar upeti kepada pemerintah pusat Islam, berusaha menjadikan kekuasaannya merdeka secara penuh dan memperluas wilayah teritorial yang dikuasai oleh Islam.
William Montgomery Watt (1909-2006) dalam buku yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996) menyebut pada tahun 710 Masehi, ketika peninjauan pertama terjadi, seluruh semenanjung bersamaan dengan sebuah provinsi di Prancis sebelah tenggara yang berada di bawah kekuasaan bangsa Visigoth; namun raja yang baru saja naik tahta, Roderick, yang kebetulan kekuasaan kerajaannya telah diperselisihkan.
Ketika umat Islam mencapai wilayah ini pada tahun 711 Masehi dengan 7.000 tentara, raja Roderick menyerah di medan laga dan menghilangkan jejaknya.
"Sejak tahun 716 Masehi, umat Islam akhirnya menguasai seluruh semenanjung dan bahkan menguasai Narbonne di Prancis selatan," tutur pakar studi-studi keislaman dari Britania Raya, seorang orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat itu.
Selanjutnya serangan-serangan yang dilancarkan ke Prancis, baik dari pantai barat maupun dari lembah Rhone, namun ekspedisi militer ini digagalkan oleh Charles Martel di Tours pada tahun 732 Masehi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa serangan-serangan atas Prancis itu merugikan kaum muslimin dan dapat dihentikan oleh pasukan Prancis, sekalipun Narbonne masih tetap diduduki sampai akhir tahun 751 Masehi.
Baca juga: Sejarah Kekhalifahan Kordoba: Era Spanyol, Prancis, dan Portugal di Bawah Kekuasaan Muslimin
Neo-Bani Umayah
Al Andalus adalah provinsi pertama dinasti Bani Umayyah di Damaskus. Sejak jatuhnya Bani Ummayah pada tahun 750 Masehi, seorang pangeran muda Bani Umayah yang terhindar dari penghancuran keluarganya oleh Bani Abbasiah, pada tahun 756 Masehi mulai membangun kerajaan Bani Umayah di Spanyol yang merdeka.
Maka Neo-Bani Umayyah terus menguasai Al Andalus sampai dua setengah abad lamanya, dan dari tahun 930 sampai 1.000 Masehi negeri ini mengalami masa kejayaannya.
Pada tahun 976 Masehi, seorang putera ke-11 (yang baru berusia 11 tahun waktu itu) dinobatkan menjadi raja. Maka pada masa ini pemerintahan berada di tangan Pengurus Rumah Tangga Kerajaan (kepala menteri) yang membuktikan anak yang menggantikannya sebagai seorang penguasa yang kuat.
Namun demikian, sepeninggalnya pada tahun 1.008 Masehi mulailah negeri ini mengalami proses disintegrasi. Tidak lama lagi gubernemen mengontrol seluruh negeri, sekalipun sampai tahun 1.031 Masehi putera-putera kerajaan Bani Ummayah menuntut kekuasaan.
Dari tahun 1009 sampai 1091 Masehi yang dikenal sebagai zaman "raja-raja golongan" (reyes de taifas, muluk al-thawa'if), disebut demikian karena pada saat itu ada kurang lebih tiga raja yang tidak saling berhubungan satu sama lain.
Perpecahan kerajaan Islam ini memberi kesempatan kepada pangeran-pangeran Kristen di Spanyol barat laut, hiterto, yang semi merdeka dan harus membayar upeti kepada pemerintah pusat Islam, berusaha menjadikan kekuasaannya merdeka secara penuh dan memperluas wilayah teritorial yang dikuasai oleh Islam.
Lihat Juga :