Bingung Ikut Jemaah yang Mana? Ini Jawaban Ustaz Ahmad Sarwat
Jum'at, 11 Agustus 2023 - 19:39 WIB
loading...
A
A
A
Sekolah Islam dan kampus milik umat Islam sudah tidak lagi mengajarkan detail syariah, kurikulumnya sudah lama berganti dengan kurikulum yang rendah mutunya. Wajar kalau alumni dan lulusannya masih terbilang sangat awam. Lalu bagaimana dengan sekolah dan kampus umum? Tentu jauh lebih awam lagi.
Penghafal Quran masih cukup banyak, bahkan qari' dan qari'ah yang suaranya merdu dan nafasnya panjang masih terus bermunculan lewat beragam MTQ. Sayangnya, jarang sekali kita temukan tempat dilahirkannya para mufassir yang mengerti hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
2. Terurainya Tali Persaudaraan (Al-Furqah wa At-Tafakkuk wa Inhilalurrawabith)
Salah satu hambatan utama dalam tubuh jemaah muslimin sekarang ini adalah adanya perpecahan internal umat Islam sendiri. Tiap orang yang punya massa bikin kelompok sendiri-sendiri, masing-masing membanggakan kelompoknya dan menjelekkan kelompok lain.
Berkelompok itu tidak dilarang, tetapi saling menjelekkan itu haram, apalagi saling menyakiti dan merasa paling besar sendiri, jauh lebih haram lagi. Berbagai kelompok umat Islam itu kadang dimotori oleh elit yang rajin memprovokasi anggotanya agar selalu membanggakan diri. Slogannya adalah "mari kita besarkan kelompok kita".
Perjuangan dan jihad yang dilakukan bukan lagi semata demi keseluruhan umat Islam, tetapi dibatasi hanya untuk kelompoknya saja. Memperjuangkan kelompok sudah dianggap memperjuangkan Islam. Konyolnya, menggebuki kelompok lain, juga dianggap jihad dan perjuangan.
Masing-masing kelompok mendirikan amil zakat dan lembaga infaq sendiri-sendiri. Biar kalau ada yang berzakat, infaq atau sedekah, bantuannya tidak disalurkan kepada semua umat Islam, tetapi khusus hanya untuk fakir miskin yang berafiliasi kepada kelompoknya.
Bahkan tiap kelompok mendirikan lembaga fatwa sendiri-sendiri. Lembaga ini tidak didirikan demi kepentingan seluruh umat Islam, tetapi khusus hanya untuk kepentingan kelompok. Prinsip yang berkembang adalah jam'iyah qabla islam. Untuk kepentingan kelompok kita dulu, baru nanti kalau ada sisanya buat di luar kelompok.
3. Elit Berebutan Kekuasaan Duniawi (Mushara'atul Hukkam 'alad-Dunia)
Umat Islam semakin lemah lagi ketika para penguasa dan elitnya tidak pernah berhenti dari memperebutkan jabatan dan kursi kekuasaan. Alasannya kadang lucu dan aneh, logikanya pun susah dipahami.
Kalau bukan saya yang jadi penguasa, maka penguasa lain pasti kafir atau sekuler. Maka apapun yang terjadi, saya harus jadi penguasa. Karena cuma saya satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menjamin tegaknya Islam. Tanpa saya, Islam akan hancur. Bila saya tidak berkuasa, Islam pasti lenyap.
Sekilas kalimat di atas sangat menyentuh, ngakunya si calon penguasa ingin menegakkan Islam dan hukum-hukumnya. Tetapi ketika ada syarat bahwa yang berkuasa itu harus dirinya dan tidak boleh orang lain, maka kalimat itu jadi amat memalukan.
Penghafal Quran masih cukup banyak, bahkan qari' dan qari'ah yang suaranya merdu dan nafasnya panjang masih terus bermunculan lewat beragam MTQ. Sayangnya, jarang sekali kita temukan tempat dilahirkannya para mufassir yang mengerti hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
2. Terurainya Tali Persaudaraan (Al-Furqah wa At-Tafakkuk wa Inhilalurrawabith)
Salah satu hambatan utama dalam tubuh jemaah muslimin sekarang ini adalah adanya perpecahan internal umat Islam sendiri. Tiap orang yang punya massa bikin kelompok sendiri-sendiri, masing-masing membanggakan kelompoknya dan menjelekkan kelompok lain.
Berkelompok itu tidak dilarang, tetapi saling menjelekkan itu haram, apalagi saling menyakiti dan merasa paling besar sendiri, jauh lebih haram lagi. Berbagai kelompok umat Islam itu kadang dimotori oleh elit yang rajin memprovokasi anggotanya agar selalu membanggakan diri. Slogannya adalah "mari kita besarkan kelompok kita".
Perjuangan dan jihad yang dilakukan bukan lagi semata demi keseluruhan umat Islam, tetapi dibatasi hanya untuk kelompoknya saja. Memperjuangkan kelompok sudah dianggap memperjuangkan Islam. Konyolnya, menggebuki kelompok lain, juga dianggap jihad dan perjuangan.
Masing-masing kelompok mendirikan amil zakat dan lembaga infaq sendiri-sendiri. Biar kalau ada yang berzakat, infaq atau sedekah, bantuannya tidak disalurkan kepada semua umat Islam, tetapi khusus hanya untuk fakir miskin yang berafiliasi kepada kelompoknya.
Bahkan tiap kelompok mendirikan lembaga fatwa sendiri-sendiri. Lembaga ini tidak didirikan demi kepentingan seluruh umat Islam, tetapi khusus hanya untuk kepentingan kelompok. Prinsip yang berkembang adalah jam'iyah qabla islam. Untuk kepentingan kelompok kita dulu, baru nanti kalau ada sisanya buat di luar kelompok.
3. Elit Berebutan Kekuasaan Duniawi (Mushara'atul Hukkam 'alad-Dunia)
Umat Islam semakin lemah lagi ketika para penguasa dan elitnya tidak pernah berhenti dari memperebutkan jabatan dan kursi kekuasaan. Alasannya kadang lucu dan aneh, logikanya pun susah dipahami.
Kalau bukan saya yang jadi penguasa, maka penguasa lain pasti kafir atau sekuler. Maka apapun yang terjadi, saya harus jadi penguasa. Karena cuma saya satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menjamin tegaknya Islam. Tanpa saya, Islam akan hancur. Bila saya tidak berkuasa, Islam pasti lenyap.
Sekilas kalimat di atas sangat menyentuh, ngakunya si calon penguasa ingin menegakkan Islam dan hukum-hukumnya. Tetapi ketika ada syarat bahwa yang berkuasa itu harus dirinya dan tidak boleh orang lain, maka kalimat itu jadi amat memalukan.
Lihat Juga :