Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis di Zaman Azali, Mengapa Dia Disiksa?
Minggu, 20 Agustus 2023 - 14:01 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Makna Ucapan Umar bin Khattab, Lari dari Takdir Tuhan kepada Takdir-Nya yang Lain
Tidak ada perbedaan di antara keduanya, bahkan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan dalam urusan agama di dalam kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul lebih banyak dan lebih besar daripada penjelasan tentang urusan-urusan dunia. Maka kewajiban mereka adalah menempuh jalan yang menghatarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan, bukan menempuh jalan yang menyerempet mereka pada kebinasaan dan kesengsaraan.
"Kemudian kami katakan, ketika si kafir memilih kekafiran sama sekali tidak merasa ada orang yang memaksanya. Bahkan perasaannya mengatakan bahwa bahwa ia melakukan hal itu dengan kehendak dan ikhtiarnya. Maka apakah ketika memilih kekufuran ia tahu apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya? Jawabannya, tentu tidak. Karena kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditetapkan terjadi pada kita kecuali sesudah terjadi. Adapun sebelum terjadi, kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita karena hal ini termasuk perkara ghaib," ujar Syaikh Al-'Utsaimin.
Selanjutnya, kata Syaikh Al-'Utsaimin lagi, sekarang kami katakan kepada orang itu: sebelum terjerumus kepada kekafiran, di depan Anda ada dua perkara; hidayah dan kesesatan. Lalu mengapa Anda tidak menempuh jalan hidayah dengan anggapan bahwa Allah telah menetapkannya untukmu?
Mengapa Anda menempuh jalan sesat lalu setelah menempuhnya Anda beralasan bahwa Allah telah menetapkannya?
Kami tegaskan kepada Anda sebelum memasuki jalan ini, apakah Anda mempunyai pengetahuan bahwa hal ini telah ditetapkan kepadamu? Ia pasti menjawab: "Tidak". Dan mustahil jawabannya : "Ya".
Jadi apabila ia mengatakan: "Tidak". Kami tegaskan lagi kalau begitu mengapa Anda tidak menempuh jalan hidayah seraya menganggap bahwa Allah telah menetapkan hal itu kepadamu. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka" ( QS Ash-Shaf : 5)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah). Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar" ( QS Al-Lail :5-10)
Baca juga: Apakah Amal Bisa Mengubah Takdir?
Ketika Nabi SAW memberitahu para sahabat bahwa tidak ada seorangpun kecuali telah dicatat tempat duduknya di jannah dan tempat duduknya di neraka, para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami boleh meninggalkan amalan dan bersandar pada apa yang telah ditetapkan? Beliau bersabda: "Tidak. Beramallah kalian, karena tiap-tiap orang dimudahkan kepada sesuatu yang diciptakan baginya"
Tidak ada perbedaan di antara keduanya, bahkan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan dalam urusan agama di dalam kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul lebih banyak dan lebih besar daripada penjelasan tentang urusan-urusan dunia. Maka kewajiban mereka adalah menempuh jalan yang menghatarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan, bukan menempuh jalan yang menyerempet mereka pada kebinasaan dan kesengsaraan.
"Kemudian kami katakan, ketika si kafir memilih kekafiran sama sekali tidak merasa ada orang yang memaksanya. Bahkan perasaannya mengatakan bahwa bahwa ia melakukan hal itu dengan kehendak dan ikhtiarnya. Maka apakah ketika memilih kekufuran ia tahu apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya? Jawabannya, tentu tidak. Karena kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditetapkan terjadi pada kita kecuali sesudah terjadi. Adapun sebelum terjadi, kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita karena hal ini termasuk perkara ghaib," ujar Syaikh Al-'Utsaimin.
Selanjutnya, kata Syaikh Al-'Utsaimin lagi, sekarang kami katakan kepada orang itu: sebelum terjerumus kepada kekafiran, di depan Anda ada dua perkara; hidayah dan kesesatan. Lalu mengapa Anda tidak menempuh jalan hidayah dengan anggapan bahwa Allah telah menetapkannya untukmu?
Mengapa Anda menempuh jalan sesat lalu setelah menempuhnya Anda beralasan bahwa Allah telah menetapkannya?
Kami tegaskan kepada Anda sebelum memasuki jalan ini, apakah Anda mempunyai pengetahuan bahwa hal ini telah ditetapkan kepadamu? Ia pasti menjawab: "Tidak". Dan mustahil jawabannya : "Ya".
Jadi apabila ia mengatakan: "Tidak". Kami tegaskan lagi kalau begitu mengapa Anda tidak menempuh jalan hidayah seraya menganggap bahwa Allah telah menetapkan hal itu kepadamu. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman: "Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka" ( QS Ash-Shaf : 5)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah). Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar" ( QS Al-Lail :5-10)
Baca juga: Apakah Amal Bisa Mengubah Takdir?
Ketika Nabi SAW memberitahu para sahabat bahwa tidak ada seorangpun kecuali telah dicatat tempat duduknya di jannah dan tempat duduknya di neraka, para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami boleh meninggalkan amalan dan bersandar pada apa yang telah ditetapkan? Beliau bersabda: "Tidak. Beramallah kalian, karena tiap-tiap orang dimudahkan kepada sesuatu yang diciptakan baginya"
Lihat Juga :