Gambaran Ketika Nyawa Dicabut Menurut Imam Al-Ghazali
Kamis, 24 Agustus 2023 - 05:10 WIB
loading...
Ketika nyawa dicabut saat itu manusia benar-benar mengalami kepayahan. Jika saja ia mampu berteriak, ia akan berteriak karena rasa sakitnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Dalam satu kajian Gus Musa Muhammad menceritakan bagaimana gambaran saat nyawa dicabut dari tubuh manusia. Gus Musa menukil keterangan Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya Ihya Ulumuddin.
Siapakah yang ingin mengetahui besarnya penderitaan saat Sakaratul Maut. Pedihnya tidak dapat diketahui dengan sebenarnya kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Kita pada saatnya nanti akan merasakan kepedihan itu.
Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menyebut Sakaratul Maut hanya dialami makhluk yang memiliki roh. Roh-lah yang sejatinya merasakan kepedihan Sakaratul Maut. Jika badan seseorang terimpa luka, bekas kepedihan fisik itu akan menjalar sampai ke roh. Jika ia terbakar, rasa sakit yang dialami badan akan terasa pula oleh roh.
Saat kepedihan pencabut nyawa menyerang roh, rasanya akan menenggelamkan semuanya. Rohlah yang ditarik dari badan. Dicerabut dari tiap urat badan, ditarik perlahan dari urat saraf, dari sendi-sendi dari pokok setiap rambut dan kulit dari ujung kepala hingga tapak kaki. Tergambar betapa menyakitkannya.
Manusia pada hari itu benar-benar kepayahan. Seorang penyair pernah berkata tentang Sakaratul Maut. "Sungguh kematian itu lebih sakit daripada pukulan dengan pedang, gergajian dengan gergaji, dan guntingan dengan gunting."
Sakit fisik hanya akan terasa jika ada roh di dalamnya. Sebab, rasa sakit pada fisik sejatinya dirasakan oleh roh. Lalu, apa jadinya jika roh itu sendiri yang dicabut?
Sang Imam melanjutkan, akal manusia pada saat itu benar-benar kacau balau. Lisan telah dibisukan, tak sanggup berkata apa-apa tanpa pertolongan Allah. Semua anggota badan telah dilemahkan. Tak ada upaya dan usaha kecuali hanya dari Allah. Persis seperti dzikir yang kita sebut setiap saat.
Jika saja ia mampu berteriak, ia akan berteriak karena rasa sakitnya. Namun, ia tidak sanggup. Jika tersisa kekuatan pada seseorang yang dicabut nyawanya, tentu ia akan mengerahkan semua kekuatan untuk menahan rasa sakit.
Kepedihan itu makin dalam menuju dua biji mata naik terus ke pelupuk mata. Kedua bibir sudah mengerut seperti asalnya. Anak jemarinya berubah menjadi kehijau-hijauan. Jika satu urat saja ditarik, sakitnya pun akan luar biasa. Apalagi, roh diangkat dari setiap inci urat tanpa kecuali.
Lalu, setiap anggota badan dari seluruh anggota badan mati secara bertahap. Dinginlah kedua tapak kakinya, lalu ke betisnya, kemudian menjalar ke pahanya. Dari setiap badan, ada anggota yang sekarat tahap demi tahap hingga mencapai kerongkongannya.
"Jika sudah seperti ini, terputuslah pandangannya pada dunia dan ditutup baginya pintu taubat. Diterima taubat seorang hamba selama belum sekarat." (HR at-Tirmidzi)
Maka, lihatlah kesaksian Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang menemani Rasulullah ﷺ hingga saat-saat terakhirnya. Beliau berkata, "Tidaklah aku iri hari kepada seseorang yang Allah memudahkan atas kematiannya sesudah yang aku lihat dari kesulitan wafatnya Rasulullah ﷺ."
Maka, benarlah jika kematian yang tiba-tiba itu sejatinya sebuah kenikmatan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Kematian secara tiba-tiba adalah kesenangan bagi orang mukmin dan penyesalan atas orang yang berbuat maksiat." (HR Ahmad)
Siapakah yang ingin mengetahui besarnya penderitaan saat Sakaratul Maut. Pedihnya tidak dapat diketahui dengan sebenarnya kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Kita pada saatnya nanti akan merasakan kepedihan itu.
Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menyebut Sakaratul Maut hanya dialami makhluk yang memiliki roh. Roh-lah yang sejatinya merasakan kepedihan Sakaratul Maut. Jika badan seseorang terimpa luka, bekas kepedihan fisik itu akan menjalar sampai ke roh. Jika ia terbakar, rasa sakit yang dialami badan akan terasa pula oleh roh.
Saat kepedihan pencabut nyawa menyerang roh, rasanya akan menenggelamkan semuanya. Rohlah yang ditarik dari badan. Dicerabut dari tiap urat badan, ditarik perlahan dari urat saraf, dari sendi-sendi dari pokok setiap rambut dan kulit dari ujung kepala hingga tapak kaki. Tergambar betapa menyakitkannya.
Manusia pada hari itu benar-benar kepayahan. Seorang penyair pernah berkata tentang Sakaratul Maut. "Sungguh kematian itu lebih sakit daripada pukulan dengan pedang, gergajian dengan gergaji, dan guntingan dengan gunting."
Sakit fisik hanya akan terasa jika ada roh di dalamnya. Sebab, rasa sakit pada fisik sejatinya dirasakan oleh roh. Lalu, apa jadinya jika roh itu sendiri yang dicabut?
Sang Imam melanjutkan, akal manusia pada saat itu benar-benar kacau balau. Lisan telah dibisukan, tak sanggup berkata apa-apa tanpa pertolongan Allah. Semua anggota badan telah dilemahkan. Tak ada upaya dan usaha kecuali hanya dari Allah. Persis seperti dzikir yang kita sebut setiap saat.
Jika saja ia mampu berteriak, ia akan berteriak karena rasa sakitnya. Namun, ia tidak sanggup. Jika tersisa kekuatan pada seseorang yang dicabut nyawanya, tentu ia akan mengerahkan semua kekuatan untuk menahan rasa sakit.
Kepedihan itu makin dalam menuju dua biji mata naik terus ke pelupuk mata. Kedua bibir sudah mengerut seperti asalnya. Anak jemarinya berubah menjadi kehijau-hijauan. Jika satu urat saja ditarik, sakitnya pun akan luar biasa. Apalagi, roh diangkat dari setiap inci urat tanpa kecuali.
Lalu, setiap anggota badan dari seluruh anggota badan mati secara bertahap. Dinginlah kedua tapak kakinya, lalu ke betisnya, kemudian menjalar ke pahanya. Dari setiap badan, ada anggota yang sekarat tahap demi tahap hingga mencapai kerongkongannya.
"Jika sudah seperti ini, terputuslah pandangannya pada dunia dan ditutup baginya pintu taubat. Diterima taubat seorang hamba selama belum sekarat." (HR at-Tirmidzi)
Maka, lihatlah kesaksian Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang menemani Rasulullah ﷺ hingga saat-saat terakhirnya. Beliau berkata, "Tidaklah aku iri hari kepada seseorang yang Allah memudahkan atas kematiannya sesudah yang aku lihat dari kesulitan wafatnya Rasulullah ﷺ."
Maka, benarlah jika kematian yang tiba-tiba itu sejatinya sebuah kenikmatan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Kematian secara tiba-tiba adalah kesenangan bagi orang mukmin dan penyesalan atas orang yang berbuat maksiat." (HR Ahmad)
Lihat Juga :