3 Bagian Ilmu Agama Menurut Guru Sufi Abu Nasr as-Sarraj
Rabu, 13 September 2023 - 10:27 WIB
loading...
A
A
A
Rasulullah SAW bersabda, “Manusia itu semuanya sama, berjajar laksana gerigi sisir. Tak ada kelebihan yang satu atas yang lain kecuali dalam ilmu dan takwa.”
Barangsiapa mendapatkan kesulitan tentang pokok-pokok dan cabang-cabang ajaran agama, implikasi-implikasi hukumnya, makna-makna spiritualnya, sanksi dan stipulasinya, baik secara lahiriah maupun batinnya, hendaknya selalu merujuk kepada tiga golongan tersebut: ahli hadis, ahli fiqih, dan kaum Sufi.
Masing-masing golongan memiliki ciri khusus dalam teori dan praktik, hakikat dan keadaan spiritual tertentu. Masing-masing memiliki penafsiran tentang pengetahuan dan amal, tingkatan dan ekspresi spiritual, pemahaman mendalam dan kedudukan, pengertian dan pendekatan yang mendalam dalam menafsirkan sumber-sumber yang ada.
Hal-hal ini hanya bisa diketahui oleh mereka yang belajar dalam masing-masing sekolah, dan yang bodoh tidak mengerti apa-apa. Tidak satu pun kelompok sanggup menguasai seluruh teori dan praktik serta tingkat-tingkat spiritual. Tiap-tiap mereka memiliki kedudukan tertentu yang telah Allah sediakan, dan yang Allah telah letakkan baginya.
Abu Nasr as-Sarraj sendiri merupakan pesuluk dan syaikh (guru) Sufi yang lahir di Tus, Iran dan wafat pada 988 M (377 H). Semasa hidupnya, Sarraj kerap berkelana dan menetap di berbagai kota di dunia Islam seperti Tabriz, Naishapur, Kairo, Ramla, Damaskus, Baghdad, dan Basra.
Baca juga: Informasi Kiamat dalam Hadis tentang Dialog Rasulullah SAW dengan Jibril
Barangsiapa mendapatkan kesulitan tentang pokok-pokok dan cabang-cabang ajaran agama, implikasi-implikasi hukumnya, makna-makna spiritualnya, sanksi dan stipulasinya, baik secara lahiriah maupun batinnya, hendaknya selalu merujuk kepada tiga golongan tersebut: ahli hadis, ahli fiqih, dan kaum Sufi.
Masing-masing golongan memiliki ciri khusus dalam teori dan praktik, hakikat dan keadaan spiritual tertentu. Masing-masing memiliki penafsiran tentang pengetahuan dan amal, tingkatan dan ekspresi spiritual, pemahaman mendalam dan kedudukan, pengertian dan pendekatan yang mendalam dalam menafsirkan sumber-sumber yang ada.
Hal-hal ini hanya bisa diketahui oleh mereka yang belajar dalam masing-masing sekolah, dan yang bodoh tidak mengerti apa-apa. Tidak satu pun kelompok sanggup menguasai seluruh teori dan praktik serta tingkat-tingkat spiritual. Tiap-tiap mereka memiliki kedudukan tertentu yang telah Allah sediakan, dan yang Allah telah letakkan baginya.
Abu Nasr as-Sarraj sendiri merupakan pesuluk dan syaikh (guru) Sufi yang lahir di Tus, Iran dan wafat pada 988 M (377 H). Semasa hidupnya, Sarraj kerap berkelana dan menetap di berbagai kota di dunia Islam seperti Tabriz, Naishapur, Kairo, Ramla, Damaskus, Baghdad, dan Basra.
Baca juga: Informasi Kiamat dalam Hadis tentang Dialog Rasulullah SAW dengan Jibril
(mhy)
Lihat Juga :