Sosok Ahmed Yassin, Tokoh Pendiri Hamas yang Terbunuh Setelah Sholat Subuh
Selasa, 10 Oktober 2023 - 15:10 WIB
loading...
A
A
A
Sempat ditahan karena dianggap membentuk organisasi ilegal oleh Israel, Ahmed Yassin mendirikan Hamas pada 1987. Sekadar informasi, waktu itu ia tercatat sebagai salah satu petinggi Ikhwanul Muslimin yang berbasis di Gaza.
Pada 1989, ia kembali ditangkap karena tuduhan menghasut kekerasan. Sekitar 1997, Ahmed Yassin baru dibebaskan setelah sebuah kesepakatan terjadi antara Israel dan Raja Husain dari Yordania.
Menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara, kondisi kesehatan Ahmed Yassin memburuk. Ia bahkan sudah mulai kehilangan penglihatan serta menderita penyakit pernapasan.
Meski demikian, kondisi tak lantas membuat pengaruhnya di Hamas luntur. Selama pemberontakan kedua (Intifada al-Aqsa) 2000, Yassin sempat mengusulkan inisiatif gencatan senjata.
Melihat potensinya sebagai ancaman besar, Perdana Menteri Israel waktu itu, Ariel Sharon, secara terbuka menyerukan pembunuhan terhadap Ahmed Yassin. Sekitar 6 September 2003, sebuah jet tempur F-16 menyerang rumah persinggahan Yasin. Waktu itu, ia masih selamat dan mengalami luka ringan.
Namun, Israel kembali memburunya. Pada 22 Maret 2004, Syaikh Ahmed Yassin terbunuh bersama sembilan orang lain akibat serangan helikopter Israel. Waktu itu, tokoh pendiri Hamas tersebut menjadi sasaran ketika keluar dari sebuah masjid setelah menunaikan sholat Subuh.
Kematian Syaikh Ahmed Yassin mendapat tanggapan beragam dari dunia. Setelahnya, protes pun dilakukan warga Palestina dengan mengutuk tindakan biadab Israel.
Tak hanya kecaman dari dunia internasional, pemimpin Brigade Al-Aqsa di Tepi Barat juga menyampaikan kemarahannya. Ia menyebut pihaknya bakal segera melakukan pembalasan yang setimpal terhadap Israel.
Baca Juga: Profil Hamas, Gerakan Perlawanan Islam Bermakna Semangat
Pada 1989, ia kembali ditangkap karena tuduhan menghasut kekerasan. Sekitar 1997, Ahmed Yassin baru dibebaskan setelah sebuah kesepakatan terjadi antara Israel dan Raja Husain dari Yordania.
Menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara, kondisi kesehatan Ahmed Yassin memburuk. Ia bahkan sudah mulai kehilangan penglihatan serta menderita penyakit pernapasan.
Meski demikian, kondisi tak lantas membuat pengaruhnya di Hamas luntur. Selama pemberontakan kedua (Intifada al-Aqsa) 2000, Yassin sempat mengusulkan inisiatif gencatan senjata.
Melihat potensinya sebagai ancaman besar, Perdana Menteri Israel waktu itu, Ariel Sharon, secara terbuka menyerukan pembunuhan terhadap Ahmed Yassin. Sekitar 6 September 2003, sebuah jet tempur F-16 menyerang rumah persinggahan Yasin. Waktu itu, ia masih selamat dan mengalami luka ringan.
Namun, Israel kembali memburunya. Pada 22 Maret 2004, Syaikh Ahmed Yassin terbunuh bersama sembilan orang lain akibat serangan helikopter Israel. Waktu itu, tokoh pendiri Hamas tersebut menjadi sasaran ketika keluar dari sebuah masjid setelah menunaikan sholat Subuh.
Kematian Syaikh Ahmed Yassin mendapat tanggapan beragam dari dunia. Setelahnya, protes pun dilakukan warga Palestina dengan mengutuk tindakan biadab Israel.
Tak hanya kecaman dari dunia internasional, pemimpin Brigade Al-Aqsa di Tepi Barat juga menyampaikan kemarahannya. Ia menyebut pihaknya bakal segera melakukan pembalasan yang setimpal terhadap Israel.
Baca Juga: Profil Hamas, Gerakan Perlawanan Islam Bermakna Semangat
(rhs)
Lihat Juga :