Catatan Sejarah: Omong Kosong Yitzhak Rabin tentang Resolusi PBB 242
Sabtu, 14 Oktober 2023 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Mereka meyakinkan negara-negara Arab bahwa demikianlah permasalahannya, dan negara-negara Arab selanjutnya berkeras bahwa Israel harus menarik diri tanpa syarat. Namun Israel berkeyakinan bahwa perundingan-perundingan itu harus mencakup semua aspek dari penarikan dan perdamaian, termasuk penempatan kembali bukan hanya para pengungsi Palestina melainkan para pengungsi Yahudi dari negara-negara Arab juga.
Karena masalah khusus menyangkut perundingan-perundingan pendahuluan itulah maka Israel mogok melaksanakan resolusi selama enam tahun.
Amerika Serikat berulang kali mendesak Israel untuk menarik diri tanpa perundingan-perundingan terinci tetapi Israel menolak, dan mendesak diadakannya perundingan-perundingan langsung.
Pada 9 Juni 1970, Menteri Luar Negeri AS, William Rogers, mengecam pendirian Israel dengan mengatakan: "Israel harus menjelaskan bahwa ia menerima prinsip penarikan sebagaimana dinyatakan dalam resolusi Dewan Keamanan bulan November 1967 dan bahwa ia tidak lagi mendesakkan rumusan 'perundingan-perundingan langsung tanpa prasyarat.'" Namun Israel menolak.
Perang pecah pada 1973 ketika Mesir dan Syria berusaha mendobrak kemacetan diplomatik dengan serangan militer atas wilayah Arab yang dikuasai Israel.
Baca juga: Paul Findley Sebut Daftar Omong Kosong Israel Dirikan Negara Yahudi di Bumi Palestina
Masalah perundingan-perundingan awal akhirnya terselesaikan pada akhir perang 1973 dengan keluarnya Resolusi PBB 338, yang menyatakan bahwa "perundingan-perundingan akan dimulai oleh kedua belah pihak yang berkepentingan dengan dukungan selayaknya demi tercapainya perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah."
Akan tetapi, setelah memenangkan soal itu, Israel lantas mulai berkeras bahwa penarikan tidak berarti dari semua garis depan. Ia tetap mempertahankan penafsiran unik atas Resolusi 242 itu hingga hari ini.
Karena masalah khusus menyangkut perundingan-perundingan pendahuluan itulah maka Israel mogok melaksanakan resolusi selama enam tahun.
Amerika Serikat berulang kali mendesak Israel untuk menarik diri tanpa perundingan-perundingan terinci tetapi Israel menolak, dan mendesak diadakannya perundingan-perundingan langsung.
Pada 9 Juni 1970, Menteri Luar Negeri AS, William Rogers, mengecam pendirian Israel dengan mengatakan: "Israel harus menjelaskan bahwa ia menerima prinsip penarikan sebagaimana dinyatakan dalam resolusi Dewan Keamanan bulan November 1967 dan bahwa ia tidak lagi mendesakkan rumusan 'perundingan-perundingan langsung tanpa prasyarat.'" Namun Israel menolak.
Perang pecah pada 1973 ketika Mesir dan Syria berusaha mendobrak kemacetan diplomatik dengan serangan militer atas wilayah Arab yang dikuasai Israel.
Baca juga: Paul Findley Sebut Daftar Omong Kosong Israel Dirikan Negara Yahudi di Bumi Palestina
Masalah perundingan-perundingan awal akhirnya terselesaikan pada akhir perang 1973 dengan keluarnya Resolusi PBB 338, yang menyatakan bahwa "perundingan-perundingan akan dimulai oleh kedua belah pihak yang berkepentingan dengan dukungan selayaknya demi tercapainya perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah."
Akan tetapi, setelah memenangkan soal itu, Israel lantas mulai berkeras bahwa penarikan tidak berarti dari semua garis depan. Ia tetap mempertahankan penafsiran unik atas Resolusi 242 itu hingga hari ini.
(mhy)
Lihat Juga :