Sultan Abdul Hamid II Tumbang, Zionis Dirikan Negara Israel di Palestina
Minggu, 15 Oktober 2023 - 08:15 WIB
loading...
Sultan Abdul Hamid II. Foto: Ist
A
A
A
Setelah Sultan Abdul Hamid II tumbang, bumi Utsmani dikapling-kapling. Orang-orang Zionis - Inggris mendirikan negara Yahudi di Palestina . Ash-Shalabi mengatakan masa saat dipecatnya Sultan Abdul Hamid II dan mulai berkuasanya oposisi adalah masa di mana bersatu keinginan dua kutub: keinginan para penguasa baru dan keinginan para penjajah untuk meruntuhkan pemerintahan Utsmani.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" menceritakan setelah Sultan Abdul Hamid II diturunkan, yang memangku khilafah dan kesultanan Ottoman adalah saudaranya yang bernama Muhammad Rasyad.
Hanya saja pada hakikatnya, sultan baru itu tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Kekuasaan sebenarnya berada di tangan orang-orang Persatuan dan Pembangunan yang dikendalikan kaki tangan Zionis. Pemerintahan Utsmani diubah menjadi pemerintahan nasionalis yang fanatik dan menanggalkan pemerintahan Islami.
Baca juga: Kisah Zionis Menekan Sultan Ottoman untuk Menguasai Bumi Palestina
Tatkala terjadi Perang Dunia I (1914-1918 M), Turki bergabung dengan Jerman dan Austria , sementara itu Inggris berkat surat menyurat dengan Al-Husein Makmahun telah berhasil menyeret orang-orang Arab untuk menjadi sekutu Inggris-Prancis dan Rusia. Maka menyebarlah pemikiran nasionalisme Arab dan terjadilah benturan yang sangat hebat antara orang-orang Arab dan Turki.
Turki jatuh setelah kekalahan mereka di dalam perang dan pihak sekutu sebagai pemenang perang bersama Yunani mencaplok sebagian wilayah kekuasaannya. Selanjutnya, Astana berada di bawah kekuasaan Inggris, sedangkan khalifah seakan-akan menjadi tawanan di dalamnya.
Ash-Shalabi mengatakan sesungguhnya pemecatan Sultan Abdul Hamid II dan hadirnya organisasi Pembangunan dan Persatuan di dalam pemerintahan merupakan langkah asasi dalam rangka merealisasikan rencana yang telah dirancang pada saat perang berkecamuk dan setelah perang dalam fase yang bisa diringkas sebagai berikut:
Kesepakatan sekutu untuk membagi dunia Islam yang tunduk di bawah pemerintahan Utsmani di kalangan mereka. Ini bisa terlihat dari adanya kesepakatan Saikas Biku pada tahun 1334 H/1916 M yang dilakukan dengan cara rahasia, di mana saat itu orang-orang Arab dijanjikan kemerdekaan.
Baca juga: Jejak Zionis di Ottoman: Bermula dari Gadis Yahudi Roxelana
Di antara isi pokok dan penting perjanjian itu ialah: (a). Wilayah selatan Irak menjadi bagian Inggris, sedangkan bagian utara Suriah yang terdiri dari Libanon menjadi bagian Perancis; (b). Dua negara Arab yang terdiri dari Irak bagian Utara dan bagian Tengah dan Selatan Syam yang pertama -yang terdiri dari Irak Utara dan Yordan-berada di bawah dominasi Inggris sedangkan yang kedua yang terdiri dari bagian Tengah Syam dan kepulauan Faratiyah menjadi bagian Perancis; (c). Palestina menjadi masalah internasional; (d). Astana dan Selat Bosphorus serta Dardanil menjadi bagian Rusia.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" menceritakan setelah Sultan Abdul Hamid II diturunkan, yang memangku khilafah dan kesultanan Ottoman adalah saudaranya yang bernama Muhammad Rasyad.
Hanya saja pada hakikatnya, sultan baru itu tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Kekuasaan sebenarnya berada di tangan orang-orang Persatuan dan Pembangunan yang dikendalikan kaki tangan Zionis. Pemerintahan Utsmani diubah menjadi pemerintahan nasionalis yang fanatik dan menanggalkan pemerintahan Islami.
Baca juga: Kisah Zionis Menekan Sultan Ottoman untuk Menguasai Bumi Palestina
Tatkala terjadi Perang Dunia I (1914-1918 M), Turki bergabung dengan Jerman dan Austria , sementara itu Inggris berkat surat menyurat dengan Al-Husein Makmahun telah berhasil menyeret orang-orang Arab untuk menjadi sekutu Inggris-Prancis dan Rusia. Maka menyebarlah pemikiran nasionalisme Arab dan terjadilah benturan yang sangat hebat antara orang-orang Arab dan Turki.
Turki jatuh setelah kekalahan mereka di dalam perang dan pihak sekutu sebagai pemenang perang bersama Yunani mencaplok sebagian wilayah kekuasaannya. Selanjutnya, Astana berada di bawah kekuasaan Inggris, sedangkan khalifah seakan-akan menjadi tawanan di dalamnya.
Ash-Shalabi mengatakan sesungguhnya pemecatan Sultan Abdul Hamid II dan hadirnya organisasi Pembangunan dan Persatuan di dalam pemerintahan merupakan langkah asasi dalam rangka merealisasikan rencana yang telah dirancang pada saat perang berkecamuk dan setelah perang dalam fase yang bisa diringkas sebagai berikut:
Kesepakatan sekutu untuk membagi dunia Islam yang tunduk di bawah pemerintahan Utsmani di kalangan mereka. Ini bisa terlihat dari adanya kesepakatan Saikas Biku pada tahun 1334 H/1916 M yang dilakukan dengan cara rahasia, di mana saat itu orang-orang Arab dijanjikan kemerdekaan.
Baca juga: Jejak Zionis di Ottoman: Bermula dari Gadis Yahudi Roxelana
Di antara isi pokok dan penting perjanjian itu ialah: (a). Wilayah selatan Irak menjadi bagian Inggris, sedangkan bagian utara Suriah yang terdiri dari Libanon menjadi bagian Perancis; (b). Dua negara Arab yang terdiri dari Irak bagian Utara dan bagian Tengah dan Selatan Syam yang pertama -yang terdiri dari Irak Utara dan Yordan-berada di bawah dominasi Inggris sedangkan yang kedua yang terdiri dari bagian Tengah Syam dan kepulauan Faratiyah menjadi bagian Perancis; (c). Palestina menjadi masalah internasional; (d). Astana dan Selat Bosphorus serta Dardanil menjadi bagian Rusia.
Lihat Juga :