Catatan Perang Arab-Israel 1973: Kegagalan Intelijen Militer Israel Paling Besar
Senin, 16 Oktober 2023 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Meir berkata bahwa dia bersedia mengadakan pembicaraan damai namun meninggalkan kesan kuat bahwa dia tidak tergesa-gesa untuk melihat adanya suatu inisiatif diplomatik. Ketika Meir kembali ke tanah air, dia berkata "tidak ada dasar atau alasan untuk mengubah kebijaksanaan kita."
Menteri Pertahanan Moshe Dayan mendesak orang-orang Israel agar menetap di wilayah-wilayah pendudukan sebab tidak ada harapan akan adanya perundingan-perundingan Arab-Israel dalam waktu "sepuluh hingga lima belas tahun."
Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah poll menunjukkan bahwa mayoritas orang Israel tidak bersedia mengembalikan sebagian besar wilayah-wilayah pendudukan.
Pada April 1973, Presiden Mesir Anwar Sadat secara terbuka memberi peringatan dalam sebuah wawancara: "Semuanya sangat mengendurkan semangat. Pendeknya itu adalah sebuah kegagalan sempurna dan keputusasaan... Setiap pintu yang saya buka dihempaskan di muka saya oleh Israel --dengan restu Amerika... Telah tiba waktunya untuk sebuah kejutan... Segalanya di negeri ini sekarang tengah digerakkan untuk membuka kembali pertempuran yang kini tak terelakkan lagi."
Namun, kala itu, tidak ada pejabat tinggi di Israel atau Amerika yang menaruh perhatian.
Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan
Omong Kosong
Perdana Menteri Israel Golda Meir mengklaim memenangkan perang itu. "Kami memenangkan Perang Yom Kippur," ujarnya.
Paul Findley mengatakan itu omong kosong. Faktanya, Israel "memenangkan" perang 1973 sebagaimana Lyndon Johnson "memenangkan" Tet Offensive pada 1968 di Vietnam yang membawa bencana.
Negara-negara Arab mendapatkan kembali sebagian besar kehormatan diri mereka dari hasil-hasil awal mereka di medan perang. Ini benar terutama dalam kaitannya dengan tindakan Mesir yang secara spektakuler melintasi Terusan Suez, yang oleh hampir semua tokoh militer di seluruh dunia diyakini tidak mungkin dapat dilakukan mengingat kubu Israel yang demikian kuat sepanjang tepi timur terusan.
Menteri Pertahanan Moshe Dayan mendesak orang-orang Israel agar menetap di wilayah-wilayah pendudukan sebab tidak ada harapan akan adanya perundingan-perundingan Arab-Israel dalam waktu "sepuluh hingga lima belas tahun."
Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah poll menunjukkan bahwa mayoritas orang Israel tidak bersedia mengembalikan sebagian besar wilayah-wilayah pendudukan.
Pada April 1973, Presiden Mesir Anwar Sadat secara terbuka memberi peringatan dalam sebuah wawancara: "Semuanya sangat mengendurkan semangat. Pendeknya itu adalah sebuah kegagalan sempurna dan keputusasaan... Setiap pintu yang saya buka dihempaskan di muka saya oleh Israel --dengan restu Amerika... Telah tiba waktunya untuk sebuah kejutan... Segalanya di negeri ini sekarang tengah digerakkan untuk membuka kembali pertempuran yang kini tak terelakkan lagi."
Namun, kala itu, tidak ada pejabat tinggi di Israel atau Amerika yang menaruh perhatian.
Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan
Omong Kosong
Perdana Menteri Israel Golda Meir mengklaim memenangkan perang itu. "Kami memenangkan Perang Yom Kippur," ujarnya.
Paul Findley mengatakan itu omong kosong. Faktanya, Israel "memenangkan" perang 1973 sebagaimana Lyndon Johnson "memenangkan" Tet Offensive pada 1968 di Vietnam yang membawa bencana.
Negara-negara Arab mendapatkan kembali sebagian besar kehormatan diri mereka dari hasil-hasil awal mereka di medan perang. Ini benar terutama dalam kaitannya dengan tindakan Mesir yang secara spektakuler melintasi Terusan Suez, yang oleh hampir semua tokoh militer di seluruh dunia diyakini tidak mungkin dapat dilakukan mengingat kubu Israel yang demikian kuat sepanjang tepi timur terusan.
Lihat Juga :