Omong Kosong dan Dalih Israel Invasi ke Lebanon Tahun 1982
Senin, 16 Oktober 2023 - 15:10 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan
Sebagaimana ditulis oleh seorang kritikus Israel tentang Menteri Pertahanan Ariel ("Arik") Sharon: "Arik Sharon memungut sebuah negeri yang relatif damai, yang perbatasan utaranya tenang-tenang saja sepanjang tahun, dan mencemplungkannya ke dalam pusaran besar kematian dan kehancuran yang akibat-akibat petakanya menyebar ke segala penjuru."
Omong Kosong
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Menachem Begin bilang: "Kami tidak menginginkan satu inci pun dari wilayah Lebanon." Ucapan yang menurut Paul Findley sebagai omong kosong.
Faktanya, ujar Paul Findley, lebih dari satu dasawarsa setelah invasi Israel pada 1982 Israel terus menguasai Lebanon Selatan. Menjelang akhir 1992, masih ada sekitar seribu pasukan Israel yang menduduki "sabuk keamanari" yang direbut Israel pada 1978 dan diperluas hingga dua belas mil masuk ke wilayah Lebanon pada 1982.
"Sabuk keamanan" ini (beberapa orang Israel menyebutnya "Tepi Utara") merupakan 9 persen dari wilayah Lebanon dan menambah lagi beberapa mil persegi pada daftar tanah Arab yang telah dicaplok Israel sejak 1948.
Baca juga: Catatan Perang Atrisi: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Golda Meir
Sejak awal berdirinya Israel, para pemimpinnya telah berambisi untuk mengambil alih bagian selatan Lebanon. Misalnya, pada 1955, Moshe Dayan, waktu itu kepala staf, mendiskusikan masalah itu dengan Perdana Menteri David Ben-Gurion, dan mengatakan bahwa "satu-satunya hal yang penting adalah menemukan seorang perwira, meski hanya seorang mayor [di Lebanon]."
"Kita harus merebut hatinya atau membelinya dengan uang, untuk membuatnya setuju menyatakan diri sebagai penyelamat penduduk Maronite [Kristen]. Selanjutnya angkatan bersenjata Israel akan memasuki Lebanon, menduduki wilayah yang diperlukan, dan menciptakan sebuah rezim Kristen yang akan bersekutu dengan Israel. Wilayah dari Litani ke arah selatan akan sepenuhnya dicaplok Israel dan segala sesuatunya akan beres."
Baca juga: Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi
Sebagaimana ditulis oleh seorang kritikus Israel tentang Menteri Pertahanan Ariel ("Arik") Sharon: "Arik Sharon memungut sebuah negeri yang relatif damai, yang perbatasan utaranya tenang-tenang saja sepanjang tahun, dan mencemplungkannya ke dalam pusaran besar kematian dan kehancuran yang akibat-akibat petakanya menyebar ke segala penjuru."
Omong Kosong
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Menachem Begin bilang: "Kami tidak menginginkan satu inci pun dari wilayah Lebanon." Ucapan yang menurut Paul Findley sebagai omong kosong.
Faktanya, ujar Paul Findley, lebih dari satu dasawarsa setelah invasi Israel pada 1982 Israel terus menguasai Lebanon Selatan. Menjelang akhir 1992, masih ada sekitar seribu pasukan Israel yang menduduki "sabuk keamanari" yang direbut Israel pada 1978 dan diperluas hingga dua belas mil masuk ke wilayah Lebanon pada 1982.
"Sabuk keamanan" ini (beberapa orang Israel menyebutnya "Tepi Utara") merupakan 9 persen dari wilayah Lebanon dan menambah lagi beberapa mil persegi pada daftar tanah Arab yang telah dicaplok Israel sejak 1948.
Baca juga: Catatan Perang Atrisi: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Golda Meir
Sejak awal berdirinya Israel, para pemimpinnya telah berambisi untuk mengambil alih bagian selatan Lebanon. Misalnya, pada 1955, Moshe Dayan, waktu itu kepala staf, mendiskusikan masalah itu dengan Perdana Menteri David Ben-Gurion, dan mengatakan bahwa "satu-satunya hal yang penting adalah menemukan seorang perwira, meski hanya seorang mayor [di Lebanon]."
"Kita harus merebut hatinya atau membelinya dengan uang, untuk membuatnya setuju menyatakan diri sebagai penyelamat penduduk Maronite [Kristen]. Selanjutnya angkatan bersenjata Israel akan memasuki Lebanon, menduduki wilayah yang diperlukan, dan menciptakan sebuah rezim Kristen yang akan bersekutu dengan Israel. Wilayah dari Litani ke arah selatan akan sepenuhnya dicaplok Israel dan segala sesuatunya akan beres."
Baca juga: Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi
(mhy)
Lihat Juga :