Persoalan Israiliyyat Sudah Muncul sejak Zaman Nabi Muhammad SAW
Selasa, 24 Oktober 2023 - 10:25 WIB
loading...
A
A
A
Mohd Nazri Ahmad dan Muhd Najib Abdul Kadir dalam "Israiliyyat: Pengaruh dalam Kitab Tafsir" (Sanon Printing Corporation, 2004) bahkan menyebut para sahabat pun tak segan untuk berdebat dengan Ahl al-Kitab jika memang penjelasannya tidak sesuai dengan al-Qur‘an dan hadis.
Sebagian besar informasi yang berasal dari kelompok Yahudi berasal dari kisah empat orang: Abdullah bin Salam, Ka'ab bin Al-Akhbar, Wahab bin Munabbih, dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij.
Para ahli memiliki gagasan berbeda tentang hukum dan bagaimana mereka seharusnya diberitahu. Perbedaan yang paling utama adalah pada masa lalu Ka'ab bin Al-Akhbar, sedangkan Abdullah bin Salam berada di puncak bidang ilmu.
Baca juga: Adegan Terlarang Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha dalam Tafsir Israiliyyat
Imam Bukhari dan ahli lainnya menerima cerita yang diceritakan Abdullah bin Salam. Namun, kisah-kisah yang diceritakan Ka'ab bin Al-Akhbar dan Wahab bin Munabbih tidak diterima dan dikritik.
Rasulullah SAW telah mengatakan kepada umat Islam untuk tidak membiarkan sumber-sumber ini mengubah mereka. Abu Hanifah menulis bahwa orang Yahudi dari Ahl al-Kitab biasa membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan kemudian menjelaskannya kepada umat Islam dalam bahasa Arab.
Thameem Ushama dalam "Metodologi Tafsir Al-Qur'an" menyebut seorang sahabat terkenal bernama Ibnu Mas'ud pernah berkata: “Janganlah meminta penjelasan tafsir kepada Ahl al-Kitâb, karena mereka tidak mampu memberikan petunjuk yang benar, mereka sendiri berada dalam kesalahan.”
"Al-Qur'an bercerita agar manusia dapat belajar dari apa yang dilalui tokoh atau orang yang bercerita dan bagaimana akhir kisahnya," tambah M. Quraish Shihab dalam "Kaidah Tafsir" (Lentara Hati, 2013)
Selanjutnya, Philip K. Hitti dalam "History Of The Arabs" Palgrave Macmillan, 2002) mengatakan Al-Qur'an tidak hanya bercerita; itu juga mengajarkan pelajaran moral dan mengatakan bahwa sepanjang sejarah, Tuhan selalu memberi penghargaan kepada orang baik dan menghukum orang jahat.
Baca juga: Ini Mengapa Ibnu Katsir Memasukkan Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsirnya
Sebagian besar informasi yang berasal dari kelompok Yahudi berasal dari kisah empat orang: Abdullah bin Salam, Ka'ab bin Al-Akhbar, Wahab bin Munabbih, dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij.
Para ahli memiliki gagasan berbeda tentang hukum dan bagaimana mereka seharusnya diberitahu. Perbedaan yang paling utama adalah pada masa lalu Ka'ab bin Al-Akhbar, sedangkan Abdullah bin Salam berada di puncak bidang ilmu.
Baca juga: Adegan Terlarang Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha dalam Tafsir Israiliyyat
Imam Bukhari dan ahli lainnya menerima cerita yang diceritakan Abdullah bin Salam. Namun, kisah-kisah yang diceritakan Ka'ab bin Al-Akhbar dan Wahab bin Munabbih tidak diterima dan dikritik.
Rasulullah SAW telah mengatakan kepada umat Islam untuk tidak membiarkan sumber-sumber ini mengubah mereka. Abu Hanifah menulis bahwa orang Yahudi dari Ahl al-Kitab biasa membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan kemudian menjelaskannya kepada umat Islam dalam bahasa Arab.
Thameem Ushama dalam "Metodologi Tafsir Al-Qur'an" menyebut seorang sahabat terkenal bernama Ibnu Mas'ud pernah berkata: “Janganlah meminta penjelasan tafsir kepada Ahl al-Kitâb, karena mereka tidak mampu memberikan petunjuk yang benar, mereka sendiri berada dalam kesalahan.”
"Al-Qur'an bercerita agar manusia dapat belajar dari apa yang dilalui tokoh atau orang yang bercerita dan bagaimana akhir kisahnya," tambah M. Quraish Shihab dalam "Kaidah Tafsir" (Lentara Hati, 2013)
Selanjutnya, Philip K. Hitti dalam "History Of The Arabs" Palgrave Macmillan, 2002) mengatakan Al-Qur'an tidak hanya bercerita; itu juga mengajarkan pelajaran moral dan mengatakan bahwa sepanjang sejarah, Tuhan selalu memberi penghargaan kepada orang baik dan menghukum orang jahat.
Baca juga: Ini Mengapa Ibnu Katsir Memasukkan Kisah-Kisah Israiliyyat dalam Tafsirnya
Lihat Juga :