Persoalan Israiliyyat Sudah Muncul sejak Zaman Nabi Muhammad SAW
Selasa, 24 Oktober 2023 - 10:25 WIB
loading...
Israiliyyat mulai menjadi persoalan serius ketika memasuki masa tabi‘in. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Muhsin dan Erha Saufan Hadana dalam bukunya berjudul "Studi Ulumul Qur'an" (Bambu Kuning Utama, 2020) menulis, persoalan israiliyyat sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad SAW . Hanya saja sahabat mengutipnya tidak berlebihan, yaitu pada batas wajar saja. Tetapi israiliyyat mulai menjadi persoalan serius ketika memasuki masa tabi‘in .
Di sanalah awal mula para ulama berusaha untuk mengkritisi riwayat israiliyyat yang ditemukan, seperti memberikan penilaian yang tentunya diiringi dengan disiplin ilmu tertentu. "Dan ada pula ulama yang tidak peduli terhadap keadaan israiliyyat," tulis A Umar Syam Manggabarani dalam Tesisnya berjudul "Israiliyyat dalam Kisah Nabi Yusuf as Perspektif Ibnu Katsir".
Kemungkinan dengan alasan hanya ingin menerima dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sedikit demi sedikit, israiliyyat mulai tersebar pada zaman sahabat.
Baca juga: Apakah Israiliyyat Ada Hubungannya dengan Israel dan Yahudi?
Umar Syam mengingatkan bangsa Yahudi dan Nasrani sama-sama mempunyai kitab samawi, yaitu Taurat dan Injil yang dipahami bahwa di dalamnya terdapat pembahasan yang sangat berkaitan erat dengan al-Qur‘an, yaitu soal akidah. "Itu juga menceritakan para nabi Al-Qur'an ," jelasnya.
Al-Qur'an dan dua kitab menjelaskan secara berbeda. Taurat dan Alkitab lebih spesifik daripada Al-Quran. Wajar, karena al-Qur‘an diturunkan jauh dari sejarah kehidupan para Nabi. "Maka sebenarnya tidak ada pertentangan antara kedua kitab tersebut dengan al-Qur‘an, bahkan saling melengkapi," tambahnya.
Tetapi sebaliknya, kata Umar Syam lagi, jika ada pertentangan, maka itu merupakan penjelasan yang dibuat-buat bersumber dari orang yang tidak suka dengan Islam. Demikian sikap benci itulah faktor lain dari adanya israiliyyat.
Jadi setiap bertemu, para sahabat bertanya langsung kepada Ahl al-Kitâb. Tetapi Mereka hanya sebatas menanyakan penjelasan kisah-kisah yang belum dipahami saja, itu pun mereka tidak membenarkan dan juga tidak menyalahkan.
Baca juga: Tafsir Israiliyyat: Menyoal Unsur Romantis Narasi Yusuf dan Zulaikha
Sikap sahabat itu tidak lain hanyakah untuk berpegang teguh dengan pesan Nabi Muhammad SAW untuk toleran kepada pendapat dari Ahl al-Kitâb. "Maka dari itu sahabat menyikapinya dengan teliti dan berhati-hati sekali terhadap riwayat yang berasal dari mereka," jelas Umar Syam.
Di sanalah awal mula para ulama berusaha untuk mengkritisi riwayat israiliyyat yang ditemukan, seperti memberikan penilaian yang tentunya diiringi dengan disiplin ilmu tertentu. "Dan ada pula ulama yang tidak peduli terhadap keadaan israiliyyat," tulis A Umar Syam Manggabarani dalam Tesisnya berjudul "Israiliyyat dalam Kisah Nabi Yusuf as Perspektif Ibnu Katsir".
Kemungkinan dengan alasan hanya ingin menerima dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sedikit demi sedikit, israiliyyat mulai tersebar pada zaman sahabat.
Baca juga: Apakah Israiliyyat Ada Hubungannya dengan Israel dan Yahudi?
Umar Syam mengingatkan bangsa Yahudi dan Nasrani sama-sama mempunyai kitab samawi, yaitu Taurat dan Injil yang dipahami bahwa di dalamnya terdapat pembahasan yang sangat berkaitan erat dengan al-Qur‘an, yaitu soal akidah. "Itu juga menceritakan para nabi Al-Qur'an ," jelasnya.
Al-Qur'an dan dua kitab menjelaskan secara berbeda. Taurat dan Alkitab lebih spesifik daripada Al-Quran. Wajar, karena al-Qur‘an diturunkan jauh dari sejarah kehidupan para Nabi. "Maka sebenarnya tidak ada pertentangan antara kedua kitab tersebut dengan al-Qur‘an, bahkan saling melengkapi," tambahnya.
Tetapi sebaliknya, kata Umar Syam lagi, jika ada pertentangan, maka itu merupakan penjelasan yang dibuat-buat bersumber dari orang yang tidak suka dengan Islam. Demikian sikap benci itulah faktor lain dari adanya israiliyyat.
Jadi setiap bertemu, para sahabat bertanya langsung kepada Ahl al-Kitâb. Tetapi Mereka hanya sebatas menanyakan penjelasan kisah-kisah yang belum dipahami saja, itu pun mereka tidak membenarkan dan juga tidak menyalahkan.
Baca juga: Tafsir Israiliyyat: Menyoal Unsur Romantis Narasi Yusuf dan Zulaikha
Sikap sahabat itu tidak lain hanyakah untuk berpegang teguh dengan pesan Nabi Muhammad SAW untuk toleran kepada pendapat dari Ahl al-Kitâb. "Maka dari itu sahabat menyikapinya dengan teliti dan berhati-hati sekali terhadap riwayat yang berasal dari mereka," jelas Umar Syam.
Lihat Juga :