Ini Mengapa Resolusi PBB tentang Palestina Tak Bergigi

Jum'at, 27 Oktober 2023 - 18:26 WIB
loading...
Ini Mengapa Resolusi...
Israel telah berjuang keras selama bertahun-tahun untuk mendiskreditkan PBB. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Mantan anggota Kongres AS , Paul Findley (1921 – 2019) mengatakan Israel telah berjuang keras selama bertahun-tahun untuk mendiskreditkan Perserikatan Bangsa-Bangsa terutama karena PBB telah menjadi pihak pertama yang memaklumi hakikat konflik Israel- Palestina .

Pada 1969 Majelis Umum PBB mengambil langkah besar dengan mengubah persepsi dunia atas konflik tersebut. Ia mengeluarkan sebuah resolusi yang mengakui bangsa Palestina sebagai suatu bangsa tersendiri dan menegaskan "hak-hak mereka yang tak dapat dicabut."

Baca juga: 6 Omong Kosong Israel untuk Dirikan Negara Yahudi

Resolusi 2535 mencatat bahwa majelis mengakui "bahwa para pengungsi Arab Palestina muncul akibat penolakan atas hak-hak mereka yang tak dapat dicabut di bawah Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia Universal."

"Amerika Serikat ada di antara dua puluh dua negara yang memberikan suara menentang resolusi itu," tulis tulis Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995).

Dikeluarkannya resolusi itu menandai awal pengakuan dunia atas bangsa Palestina sebagai bangsa yang dicabut hak-hak dasarnya menurut hukum internasional. Sebelumnya Majelis dan sebagian besar pemerintahan non-Arab memusatkan perhatian pada bangsa Palestina sebagai individu-individu pengungsi dan korban perang.

Menurut Paul Findley, inilah sikap yang dengan gencar didukung Israel, yang telah lama berketetapan untuk memperlakukan orang-orang Palestina sebagai individu-individu dan bukan sebagai bagian dari suatu komunitas --sebagaimana orang-orang Yahudi tidak diakui sebagai suatu komunitas di Eropa Timur pada peralihan abad yang lalu.

Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan

Resolusi-resolusi Majelis selanjutnya antara 1970 dan 1974 menetapkan hak-hak mendasar bangsa Palestina. Majelis mengakui bahwa "rakyat Palestina mempunyai hak yang sama dan boleh menentukan nasibnya sendiri, sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa" (Resolusi 2672); menegaskan "keabsahan perjuangan bangsa yang berada di bawah kekuasaan penjajah dan pihak asing, [yang] mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri untuk merebut kembali hak itu dengan segala sarana yang mereka miliki" (Resolusi 2649); dan menyatakan bahwa hak-hak yang tidak dapat dicabut dari bangsa Palestina itu mencakup pertalian antara hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan hak kaum pengungsi untuk kembali (Resolusi 3089).

Dikeluarkannya resolusi-resolusi ini menjadi landasan hukum dan moral bagi perjuangan Palestina sebagaimana yang kita kenal sekarang. Dalam kata-kata ilmuwan Palestina Ghayth Armanazi: "Bangsa Palestina kini sepenuhnya didukung oleh masyarakat dunia dengan empat hak utama: hak untuk kembali, hak untuk menentukan nasib sendiri, hak untuk berjuang dan menerima bantuan dalam perjuangan mereka."

Amerika Serikat bersatu dengan Israel dalam memberikan suara melawan semua resolusi sebelumnya. Namun, Washington seraca rutin mendukung resolusi-resolusi yang menawarkan kepada orang-orang Palestina untuk kembali atau menerima kompensasi, seperti yang mula-mula dirumuskan dalam Resolusi Majelis Umum 194 pada 1948.

Baca juga: Omong Kosong dan Dalih Israel Invasi ke Lebanon Tahun 1982

Resolusi itu menetapkan bahwa "para pengungsi yang ingin kembali ke rumah-rumah mereka dan hidup damai dengan tetangga-tetangga mereka akan diizinkan untuk kembali secepatnya, dan bahwa kompensasi harus dibayarkan atas rumah dari orang-orang yang memilih untuk tidak kembali dan atas kehilangan atau kerusakan rumah itu."

Amerika Serikat menegaskan kembali dukungannya pada rumusan kembali-atau-kompensasi sampai 12 Mei 1992. Perbedaan antara rumusan itu dan rumusan yang digunakan dalam Resolusi 3089 adalah bahwa yang terakhir ini menegaskan bahwa bangsa Palestina mempunyai "hak" untuk kembali.

Penunjang terakhir dalam posisi Palestina adalah pengakuan Majelis Umum atas Organisasi Pembebasan Palestina sebagai "wakil bangsa Palestina" pada 1974. Amerika Serikat juga menentang resolusi ini. Dua minggu kemudian, pertemuan negara-negara Arab di Rabat, Maroko, menetapkan Organisasi Pembebasan Palestina sebagai "satu-satunya wakil sah" dan suara bangsa Palestina.

Kementerian Luar Negeri AS akhirnya berselisih dengan Israel pada 12 November 1975, dengan menyatakan secara terbuka bahwa "dalam banyak hal, dimensi Palestina mengenai konflik Arab-Israel merupakan inti konflik itu.

Baca juga: Netanyahu: Putin Selamatkan Israel dari Resolusi PBB Soal Palestina

Resolusi terakhir... tidak akan mungkin kecuali jika persetujuan yang menentukan status yang adil dan permanen bagi orang-orang Arab yang mengganggap diri mereka sebagai bangsa Palestina disepakati.18 Deklarasi Wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk Masalah Timur Dekat, Harold H. Saunders, ini merupakan pernyataan resmi AS pertama yang panjang mengenai Palestina.

Kabinet Israel mengemukakan "kritik tajam" pada pernyataan Saunders, dengan menuduh bahwa pernyataan tersebut mengandung "banyak ketidaktelitian dan distorsi."

Kegemparan di Israel akibat pernyataan itu demikian hebatnya sehingga Menteri Luar Negeri Henry Kissinger menyatakan Dokumen Saunders, sebagaimana dokumen itu kemudian dikenal, sebagai "latihan akademis dan teoretis" --meskipun Kissinger sendiri telah secara cermat meninjaunya.

Orang-orang Arab untuk sementara terlambung semangatnya oleh pernyataan itu namun segera menyadari bahwa pernyataan tersebut tidak membuktikan adanya pergeseran dalam posisi AS.

Dokumen Saunders menjadi patokan penting dalam konflik Arab-Israel. Setelah ini, untuk pertama kalinya para analis AS mulai menganggap orang-orang Palestina sebagai suatu bangsa, bukan melalui fungsi mereka atau situasi mereka sebagai pengungsi, teroris, atau penduduk Arab yang dijajah.

Baca juga: Jejak Israel: Selalu Melecehkan Resolusi PBB 242
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
20 Jemaah Haji Dirawat...
20 Jemaah Haji Dirawat di RS Arab Saudi, Penyebabnya Kelelahan
Ternyata Tanah Palestina...
Ternyata Tanah Palestina Diharamkan untuk Bani Israil, Begini Penjelasan Surat Al-Maidah Ayat 26
Apakah Israel akan Hancur?...
Apakah Israel akan Hancur? Ini Nubuat Surat Al-Isra Ayat 7
Israel dan Bani Israil:...
Israel dan Bani Israil: Serupa Tapi Tak Sama
Masjid At-Thohir Los...
Masjid At-Thohir Los Angeles: Simbol Harmoni, Dakwah, dan Kepedulian Diaspora Indonesia di AS
Dompet Dhuafa Salurkan...
Dompet Dhuafa Salurkan 3.840 Paket Pangan untuk Warga Palestina
Rekomendasi
Temuan 123 Simbol Maya...
Temuan 123 Simbol Maya Ungkap Keberadaan Kota Misterius yang Hilang
3 Jenis Jenis Sesar,...
3 Jenis Jenis Sesar, Lengkap dengan Contohnya
Terlihat Jelas dan Nyata!...
Terlihat Jelas dan Nyata! Awan Berbentuk Muka Iblis Muncul di Langit
Artikel Terkini
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved