Berikut Ini Penyebab Kisah-Kisah Israiliyyat Mewarnai Tafsir Al-Quran
Selasa, 31 Oktober 2023 - 10:13 WIB
loading...
faktor semangat para sahabat dan tabiin untuk mengetahui tafsir-tafsir Al-Quran yang belum dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Ilusrasi: Ist
A
A
A
Riwayat israiliyyat masuk ke dalam tafsir bil ma'tsur secara tidak langsung karena persinggungan umat Islam di Madinah dengan umat Yahudi di sekitar Madinah. Ketika Islam datang secara alami terjadi diskusi antara Rasulullah SAW dengan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani ), masuklah sejumlah ahli kitab ke dalam agama Islam, ada yang baik keislamannya ada yang memang karena niatan untuk merusak agama Islam.
Amal Muhammad Abdurrahman Rabî dalam kitab "Al-Isrâîliyyât fî Tafsir ath-Thabarî Dirâsah fi al-Lughah wa al-Mashâdiru al-ʽÎbriyah" mengatakan percampuran antara umat Islam dan ahli kitab, kesamaan sebagian ajaran Islam dengan kitab Yahudi dan Nasrani, uslub gaya bahasa Al Qur'an yang jelas (tafshil) dan terkadang ringkas (îjaz) dalam menjelaskan sesuatu menjadi faktor pendorong untuk masuknya israiliyyat ke dalam riwayat-riwayat. Di samping juga faktor semangat para sahabat dan tabiin untuk mengetahui tafsir-tafsir Al-Qur'an yang belum dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
Baca juga: Israiliyyat yang Disampaikan Ibnu Katsir tentang Kisah Sapi Betina
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam kitab "Kaifa Nata'amal Ma'a Al-Qur'an", menjelaskan Al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab dalam dalâlât yang berbeda-beda ada yang sharîh, kinâyah, haqiqah, majâz, khâs, 'am, muthlaq, muqayyad, manthûq, mafhȗm, dan ada yang dipahami dengan isyârah maupun dengan 'ibarah.
Sedangkan manusia berbeda-beda dalam memahami dan mengetahuinya, ada yang tidak mengetahui kecuali makna yang lahir dan dekat, ada yang mengetahui makna yang dalam dan jauh. Bahkan ada yang memahami justru tidak sesuai dengan bentuk maknanya. "Karena itulah umat Islam memerlukan tafsir sebagai penjelas Al-Qur'an agar dapat memahami dengan baik dan mengamalkannya dengan benar," ujar Al-Qardhawi.
Pada mulanya tafsir hanya diriwayatkan dari mulut-kemulut, namun derajat ketelitian, ketsiqahan berbeda-beda setiap masa.
Para sahabat kebanyakan tsiqah, teliti (dhabt), dapat dipercaya (amanah) dalam periwayatan. Kemudian tersebarlah berita yang dibuat-buat (wadhʽ) dan kebohongan (kadzib) pada masa tabiʽin karena hawa nafsu dan kepentingan kelompok hingga tercampurlah antara yang benar dan dusta antara yang asli dan yang palsu.
Baca juga: Apakah Israiliyyat Ada Hubungannya dengan Israel dan Yahudi?
Darmaizar Arif dalam tesisnya berjudul "Israiliyyat dalam Kisah-Kisah Para Nabi" mengatakan masa kodifikasi (tadwin) dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H), ketika beliau meminta para ulama untuk mengumpulkan hadis-hadis yang sahih. Pada masa itu tafsir masih termasuk dalam bab pembahasan hadis, setelah itu barulah tafsir terpisah dari hadis dan berdiri sendiri.
Menurut Darmaizar Arif, sebenarnya israiliyyat telah merembes masuk pada dua masa di atas, pertama, masa periwayatan pada masa sahabat dengan jumlah sedikit dan berkembang secara luas pada masa tabi'in ketika banyaknya ahli kitab yang masuk ke dalam Islam. Kedua, pada masa kodifikasi tadwin.
Ketika masa kodifikasi dimulai riwayat-riwayat hadis mulai dibukukan, secara tidak langsung masuklah riwayat-riwayat isrâîliyyât ke dalam kitab-kitab ulama Islam. Kitab-kitab ini kemudian diwarisi oleh generasi selanjutnya dan terus dikutip dalam rangka penyebaran ilmu-ilmu Islam hingga sampai pada generasi kita saat ini.
"Seperti kitab tafsir Muqâtil bin Sulaimân, tafsir ath-Thabarî dari tafsir-tafsir generasi awal umat Islam," sebutnya.
Dalam pandangan Ibnu Khaldun dalam "Muqaddimah", masuknya israiliyyat dalam kitab-kitab generasi awal umat Islam karena bangsa arab bukanlah ahli kitab dan tidak memiliki pengetahuan tentang itu.
Amal Muhammad Abdurrahman Rabî dalam kitab "Al-Isrâîliyyât fî Tafsir ath-Thabarî Dirâsah fi al-Lughah wa al-Mashâdiru al-ʽÎbriyah" mengatakan percampuran antara umat Islam dan ahli kitab, kesamaan sebagian ajaran Islam dengan kitab Yahudi dan Nasrani, uslub gaya bahasa Al Qur'an yang jelas (tafshil) dan terkadang ringkas (îjaz) dalam menjelaskan sesuatu menjadi faktor pendorong untuk masuknya israiliyyat ke dalam riwayat-riwayat. Di samping juga faktor semangat para sahabat dan tabiin untuk mengetahui tafsir-tafsir Al-Qur'an yang belum dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
Baca juga: Israiliyyat yang Disampaikan Ibnu Katsir tentang Kisah Sapi Betina
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam kitab "Kaifa Nata'amal Ma'a Al-Qur'an", menjelaskan Al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab dalam dalâlât yang berbeda-beda ada yang sharîh, kinâyah, haqiqah, majâz, khâs, 'am, muthlaq, muqayyad, manthûq, mafhȗm, dan ada yang dipahami dengan isyârah maupun dengan 'ibarah.
Sedangkan manusia berbeda-beda dalam memahami dan mengetahuinya, ada yang tidak mengetahui kecuali makna yang lahir dan dekat, ada yang mengetahui makna yang dalam dan jauh. Bahkan ada yang memahami justru tidak sesuai dengan bentuk maknanya. "Karena itulah umat Islam memerlukan tafsir sebagai penjelas Al-Qur'an agar dapat memahami dengan baik dan mengamalkannya dengan benar," ujar Al-Qardhawi.
Pada mulanya tafsir hanya diriwayatkan dari mulut-kemulut, namun derajat ketelitian, ketsiqahan berbeda-beda setiap masa.
Para sahabat kebanyakan tsiqah, teliti (dhabt), dapat dipercaya (amanah) dalam periwayatan. Kemudian tersebarlah berita yang dibuat-buat (wadhʽ) dan kebohongan (kadzib) pada masa tabiʽin karena hawa nafsu dan kepentingan kelompok hingga tercampurlah antara yang benar dan dusta antara yang asli dan yang palsu.
Baca juga: Apakah Israiliyyat Ada Hubungannya dengan Israel dan Yahudi?
Darmaizar Arif dalam tesisnya berjudul "Israiliyyat dalam Kisah-Kisah Para Nabi" mengatakan masa kodifikasi (tadwin) dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H), ketika beliau meminta para ulama untuk mengumpulkan hadis-hadis yang sahih. Pada masa itu tafsir masih termasuk dalam bab pembahasan hadis, setelah itu barulah tafsir terpisah dari hadis dan berdiri sendiri.
Menurut Darmaizar Arif, sebenarnya israiliyyat telah merembes masuk pada dua masa di atas, pertama, masa periwayatan pada masa sahabat dengan jumlah sedikit dan berkembang secara luas pada masa tabi'in ketika banyaknya ahli kitab yang masuk ke dalam Islam. Kedua, pada masa kodifikasi tadwin.
Ketika masa kodifikasi dimulai riwayat-riwayat hadis mulai dibukukan, secara tidak langsung masuklah riwayat-riwayat isrâîliyyât ke dalam kitab-kitab ulama Islam. Kitab-kitab ini kemudian diwarisi oleh generasi selanjutnya dan terus dikutip dalam rangka penyebaran ilmu-ilmu Islam hingga sampai pada generasi kita saat ini.
"Seperti kitab tafsir Muqâtil bin Sulaimân, tafsir ath-Thabarî dari tafsir-tafsir generasi awal umat Islam," sebutnya.
Dalam pandangan Ibnu Khaldun dalam "Muqaddimah", masuknya israiliyyat dalam kitab-kitab generasi awal umat Islam karena bangsa arab bukanlah ahli kitab dan tidak memiliki pengetahuan tentang itu.
Lihat Juga :