Kisah Ikhwanul Muslimin: Puncak Aktivitas, Mendukung Penuh Perjuangan Rakyat Palestina
Minggu, 12 November 2023 - 11:31 WIB
loading...
Hasan al-Banna menyuarakan dukungan penuhnya terhadap perjuangan penduduk Palestina. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Al-Ikhwan al-Muslimun (IM) adalah sebuah gerakan Islam yang aktif menerapkan dan mempromosikan ajaran agama berdasarkan alQur’an dan Sunah secara ketat dalam kehidupan umat. Gerakan Islam yang bermakna“saudara-saudara Muslim“ ini didirikan di kota Ismailiyah, Mesir pada tahun 1928 dengan nama Jam’iyat Al-Ikhwan al-Muslimin.
Pendirinya adalah Hasan al-Banna, yang kemudian menjadi figur kharismatik dan dikenal sebagai “Pembimbing Agung” (al-Mursyid al-‘Am).
Bermula dari sebuah kelompok keagamaan yang sederhana al-Ikhwan al-Muslimin cepat berkembang, bahkan pernah merupakan kekuatan politik yang sangat berperan, khususnya di Mesir.
Baca juga: Kisah Ikhwanul Muslimin: Fase Pertama Bercorak Keagamaan dan Sosial
Musyarif dalam papernya berjudul "Hasan Al-Banna Al-Ikhwan Al-Muslimun" menyebut corak dan jenis aktivitas al-Ikhwan al-Muslimin dapat dibagi secara umum menjadi tiga fase: Fase pertama tahun (1928-1936) merupakan masa konsolidasi yang bercorak keagamaan dan sosial. Fase Kedua tahun (1936-1952) merupakan puncak aktivitas al-Ikhwan al-Muslimin secara terbuka.
Perjanjian yang ditandatangani antara Inggris dan Mesir pada 1936 telah mendorong al-Banna menyuarakan dukungan penuhnya terhadap perjuangan penduduk Palestina.
Keterbukaan dan keberanian al-Banna ini jelas sangat mempengaruhi jenis dan volume sambutan positif yang tumbuh diberbagai negara di Timur Tengah, terutama Siria.
Di Mesir sendiri al-Banna telah menjadi figur penting dalam aksi melemparkan kritik terhadap keberadaan Inggris. Hal ini bahkan telah mengakibatkan ia ditahan pada tahun 1941.
Sebenarnya semasa perang Dunia II, al-Ikhwan al-Muslimin telah menunjukkan kehandalannya bukan saja dalam kegiatan sosial dan organisasi keagamaan melainkan juga dalam mobilisasi massa. Bahkan berbagai barisan yang cukup terlatih, dan mungkin pasukan rahasia, telah dibina secara baik.
Baca juga: Kisah Hasan al-Banna: Tokoh Ikhwanul Muslimin Pembela Palestina
Pendirinya adalah Hasan al-Banna, yang kemudian menjadi figur kharismatik dan dikenal sebagai “Pembimbing Agung” (al-Mursyid al-‘Am).
Bermula dari sebuah kelompok keagamaan yang sederhana al-Ikhwan al-Muslimin cepat berkembang, bahkan pernah merupakan kekuatan politik yang sangat berperan, khususnya di Mesir.
Baca juga: Kisah Ikhwanul Muslimin: Fase Pertama Bercorak Keagamaan dan Sosial
Musyarif dalam papernya berjudul "Hasan Al-Banna Al-Ikhwan Al-Muslimun" menyebut corak dan jenis aktivitas al-Ikhwan al-Muslimin dapat dibagi secara umum menjadi tiga fase: Fase pertama tahun (1928-1936) merupakan masa konsolidasi yang bercorak keagamaan dan sosial. Fase Kedua tahun (1936-1952) merupakan puncak aktivitas al-Ikhwan al-Muslimin secara terbuka.
Perjanjian yang ditandatangani antara Inggris dan Mesir pada 1936 telah mendorong al-Banna menyuarakan dukungan penuhnya terhadap perjuangan penduduk Palestina.
Keterbukaan dan keberanian al-Banna ini jelas sangat mempengaruhi jenis dan volume sambutan positif yang tumbuh diberbagai negara di Timur Tengah, terutama Siria.
Di Mesir sendiri al-Banna telah menjadi figur penting dalam aksi melemparkan kritik terhadap keberadaan Inggris. Hal ini bahkan telah mengakibatkan ia ditahan pada tahun 1941.
Sebenarnya semasa perang Dunia II, al-Ikhwan al-Muslimin telah menunjukkan kehandalannya bukan saja dalam kegiatan sosial dan organisasi keagamaan melainkan juga dalam mobilisasi massa. Bahkan berbagai barisan yang cukup terlatih, dan mungkin pasukan rahasia, telah dibina secara baik.
Baca juga: Kisah Hasan al-Banna: Tokoh Ikhwanul Muslimin Pembela Palestina
Lihat Juga :