Kisah Pembebasan Al-Aqsha: Salib Besar Diungsikan ke Gereja Santo Aya Sophia
Rabu, 06 Desember 2023 - 05:30 WIB
loading...
Hagia Sophia, masjid yang sebelumnya menjadi gereja. anadulu agency
A
A
A
Kisah pembebasan al-Aqsha di era Umar bin Khattab tidaklah sederhana. Romawi takluk setelah didahului perang sengit antara pasukan muslim dan pasukan Kristen Romaw i.
Muhammad Husain Haekal mengisahkan Amr bin As yang kala itu ditunjuk menjadi panglima perang oleh Abu Ubaidah bin Jarrah , memutuskan menyerang Palestina setelah mengetahui kondisi musuh. Pasukan muslim dan Romawi bertemu di Ajnadain. Mereka saling berhadap-hadapan dalam pertempuran yang sengit.
Kedua pihak tahu benar, bagaimana dampaknya peristiwa hari itu bagi kehidupan Imperium Romawi dan bagi kehidupan Islam. "Oleh karena itu, pertempuran di Ajnadain berkecamuk begitu sengit, serupa dengan yang terjadi di Yarmuk, yang banyak menelan korban di kedua belah pihak," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Membebaskan Palestina dari Cengkeraman Romawi Selama Ribuan Tahun
Menurutnya, sampai beberapa lama kalah menang pada keduanya silih berganti. Tetapi pasukan Muslimin lebih tabah. Dalam pada itu berita-berita mengenai kemenangan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid di utara Syam sampai juga kepada mereka dan kepada pihak Romawi.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani penduduk Palestina bersikap sebagai penonton, baik terhadap penguasa atau terhadap penyerangnya. Mereka tidak tampak bersemangat memihak kepada Romawi ataupun tampak marah kepada pasukan Muslimin. Berita-berita tentang kemajuan saudara-saudaranya serta sikap penduduk sipil di sekitarnya itu menambah semangat dan ketabahan Amr dan pasukannya.
Atrabun Menarik Pasukannya
Sesudah matahari terbenam, Panglima Perang Romawu, Atrabun, melihat barisannya sudah mulai kacau dan anggota-anggota pasukannya tampak kelelahan. Ia menarik mundur pasukannya ke arah Yerusalem.
Setelah mundurnya pasukan musuh itu dilihat oleh Alqamah bin Hakim dan Masruq al-Akki, mereka memerintahkan anak buahnya agar memberi jalan. Atrabun dan pasukannya yang masih tersisa memasuki kota. Ia percaya pada kukuhnya benteng-benteng dan kuatnya perlawanan kota itu, dengan harapan pada suatu hari nasib tidak akan terlalu suram baginya. Dengan demikian harapan menang akan dapat menggantikan kekalahannya hari itu.
Baca juga: Palestina Menikmati Kekuasaan di Bawah Islam 1200 Tahun
Muhammad Husain Haekal mengisahkan Amr bin As yang kala itu ditunjuk menjadi panglima perang oleh Abu Ubaidah bin Jarrah , memutuskan menyerang Palestina setelah mengetahui kondisi musuh. Pasukan muslim dan Romawi bertemu di Ajnadain. Mereka saling berhadap-hadapan dalam pertempuran yang sengit.
Kedua pihak tahu benar, bagaimana dampaknya peristiwa hari itu bagi kehidupan Imperium Romawi dan bagi kehidupan Islam. "Oleh karena itu, pertempuran di Ajnadain berkecamuk begitu sengit, serupa dengan yang terjadi di Yarmuk, yang banyak menelan korban di kedua belah pihak," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Membebaskan Palestina dari Cengkeraman Romawi Selama Ribuan Tahun
Menurutnya, sampai beberapa lama kalah menang pada keduanya silih berganti. Tetapi pasukan Muslimin lebih tabah. Dalam pada itu berita-berita mengenai kemenangan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid di utara Syam sampai juga kepada mereka dan kepada pihak Romawi.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani penduduk Palestina bersikap sebagai penonton, baik terhadap penguasa atau terhadap penyerangnya. Mereka tidak tampak bersemangat memihak kepada Romawi ataupun tampak marah kepada pasukan Muslimin. Berita-berita tentang kemajuan saudara-saudaranya serta sikap penduduk sipil di sekitarnya itu menambah semangat dan ketabahan Amr dan pasukannya.
Atrabun Menarik Pasukannya
Sesudah matahari terbenam, Panglima Perang Romawu, Atrabun, melihat barisannya sudah mulai kacau dan anggota-anggota pasukannya tampak kelelahan. Ia menarik mundur pasukannya ke arah Yerusalem.
Setelah mundurnya pasukan musuh itu dilihat oleh Alqamah bin Hakim dan Masruq al-Akki, mereka memerintahkan anak buahnya agar memberi jalan. Atrabun dan pasukannya yang masih tersisa memasuki kota. Ia percaya pada kukuhnya benteng-benteng dan kuatnya perlawanan kota itu, dengan harapan pada suatu hari nasib tidak akan terlalu suram baginya. Dengan demikian harapan menang akan dapat menggantikan kekalahannya hari itu.
Baca juga: Palestina Menikmati Kekuasaan di Bawah Islam 1200 Tahun
Lihat Juga :