Kisah Pembebasan Al-Aqsha: Salib Besar Diungsikan ke Gereja Santo Aya Sophia
Rabu, 06 Desember 2023 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Amr memerintahkan Alqamah bin Hakim, Masruq al-Akki dan Abu Ayyub al-Maliki berikut semua angkatan perangnya agar bermarkas di Ajnadain.
Dia sendiri bersama mereka sedang mempertimbangkan kemungkinan menyerang Atrabun di Baitulmukadas. Mereka berpendapat akan menempatkan diri di sekitar kota itu sebelum mengadakan penyerangan dan dari arah laut akan memotong garis perjalanannya jika ia mundur, setelah itu akan membebaskan Rafah, Gaza, Sabastiah, Nablus, Lad, Amawas, Bait Jibrin dan Jaffa.
Sebagian dibebaskan dengan paksa, dan sebagian menyerah tanpa pertempuran dan dengan senang hati membayar jizyah.
Dengan demikian, hanya tinggal Baitulmukadas (Yerusalem) dan Ramlah yang karena masih kuat bertahan dikepung oleh pasukan Muslimin. Kala itu, mereka merasa sudah aman, tak ada yang akan menyerang mereka dari belakang.
Surat dari Atrabun
Sementara mereka sedang berpikir-pikir apa yang akan mereka perbuat, tiba-tiba Amr menerima surat dari Atrabun yang mengatakan “Anda teman saya dan sebanding dengan saya. Anda di tengah-tengah bangsa Anda sama dengan saya di tengah-tengah bangsa saya. Maka janganlah sesudah Ajnadain Anda mencoba-coba hendak membebaskan Palestina. Kembalilah dan janganlah Anda tertipu; Anda akan mengalami kehancuran seperti nasib mereka yang sebelum Anda!”
Baca juga: Kisah Upaya Israel Menjadikan Al Quds 100 Persen Yahudi
Amr tak habis heran ketika membaca surat itu. Surat itu dibalasnya dengan mengatakan bahwa “dialah yang akan membebaskan kota ini.”
Dimintanya kepada Atrabun agar ia berunding dulu dengan stafnya kalau-kalau mereka mau menasihatinya sebelum ia menyergapnya. Tetapi pasukan Muslimin sudah tak ada lagi di Ajnadain sehingga ia masih memerlukan adanya bala bantuan.
Selanjutnya Amr bin As menulis surat kepada Umar bin Khattan minta dikirim bala bantuan dan sekaligus meminta pendapatnya, dengan menyebutkan: “ ... Saya sedang bergulat dengan perang yang sungguh sulit untuk diterobos, dengan kota-kota yang masih banyak mempunyai persediaan. Sangat mengharapkan pendapat Anda.”
Dia sendiri bersama mereka sedang mempertimbangkan kemungkinan menyerang Atrabun di Baitulmukadas. Mereka berpendapat akan menempatkan diri di sekitar kota itu sebelum mengadakan penyerangan dan dari arah laut akan memotong garis perjalanannya jika ia mundur, setelah itu akan membebaskan Rafah, Gaza, Sabastiah, Nablus, Lad, Amawas, Bait Jibrin dan Jaffa.
Sebagian dibebaskan dengan paksa, dan sebagian menyerah tanpa pertempuran dan dengan senang hati membayar jizyah.
Dengan demikian, hanya tinggal Baitulmukadas (Yerusalem) dan Ramlah yang karena masih kuat bertahan dikepung oleh pasukan Muslimin. Kala itu, mereka merasa sudah aman, tak ada yang akan menyerang mereka dari belakang.
Surat dari Atrabun
Sementara mereka sedang berpikir-pikir apa yang akan mereka perbuat, tiba-tiba Amr menerima surat dari Atrabun yang mengatakan “Anda teman saya dan sebanding dengan saya. Anda di tengah-tengah bangsa Anda sama dengan saya di tengah-tengah bangsa saya. Maka janganlah sesudah Ajnadain Anda mencoba-coba hendak membebaskan Palestina. Kembalilah dan janganlah Anda tertipu; Anda akan mengalami kehancuran seperti nasib mereka yang sebelum Anda!”
Baca juga: Kisah Upaya Israel Menjadikan Al Quds 100 Persen Yahudi
Amr tak habis heran ketika membaca surat itu. Surat itu dibalasnya dengan mengatakan bahwa “dialah yang akan membebaskan kota ini.”
Dimintanya kepada Atrabun agar ia berunding dulu dengan stafnya kalau-kalau mereka mau menasihatinya sebelum ia menyergapnya. Tetapi pasukan Muslimin sudah tak ada lagi di Ajnadain sehingga ia masih memerlukan adanya bala bantuan.
Selanjutnya Amr bin As menulis surat kepada Umar bin Khattan minta dikirim bala bantuan dan sekaligus meminta pendapatnya, dengan menyebutkan: “ ... Saya sedang bergulat dengan perang yang sungguh sulit untuk diterobos, dengan kota-kota yang masih banyak mempunyai persediaan. Sangat mengharapkan pendapat Anda.”
Lihat Juga :