Kisah Sufi: Ketika Semua Orang Bagaikan Raja
Kamis, 14 Desember 2023 - 07:31 WIB
loading...
A
A
A
Pesan tersebut membangunkan Sang Pangeran, yang segera pula melanjutkan perjalanannya. Ketika ia telah berhadapan dengan Penjaga Berlian, dipergunakannya suara-suara gaib untuk menidurkannya; dan putra raja pun berhasil mengambil dari penjagaan Si Raksasa, batu mutiara yang tak ternilai harganya itu.
Kemudian, Dhat, yang dipimpin oleh Suara, berganti pakaian dan menelusuri kembali langkahnya sampai ke negeri Sharq.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Dalam waktu yang sangat singkat, Dhat pun telah mengenakan lagi jubahnya yang lama, dan kembali ke negeri ayahnya, rumahnya. Tetapi kali ini, lewat pengalaman-pengalamannya, ia bisa menyaksikan bahwa negeri itu kini lebih megah daripada sebelumnya, suatu tempat yang aman baginya; lalu, ia menyadari bahwa kerajaan ayahnya itu merupakan tempat yang diketahui secara samar-samar oleh orang-orang Misr sebagai Salamat: yang mereka artikan Kepatuhan, namun yang Sang Pangeran kini sadari maknanya adalah kedamaian.
===
Idries Shah mengatakan tema hampir mirip terdapat pula pada "Himne Jiwa" (Hymn of the Soul) dalam Perjanjian Baru Apokripa. Filsuf Ibnu Sina (wafat 1038), di Barat dikenal sebagai Avicenna, telah menguraikan bahan yang sama dalam alegorinya tentang Keterasingan Jiwa, atau juga, Puisi Jiwa.
Versi ini muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara yang dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syeh dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Kemudian, Dhat, yang dipimpin oleh Suara, berganti pakaian dan menelusuri kembali langkahnya sampai ke negeri Sharq.
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Dalam waktu yang sangat singkat, Dhat pun telah mengenakan lagi jubahnya yang lama, dan kembali ke negeri ayahnya, rumahnya. Tetapi kali ini, lewat pengalaman-pengalamannya, ia bisa menyaksikan bahwa negeri itu kini lebih megah daripada sebelumnya, suatu tempat yang aman baginya; lalu, ia menyadari bahwa kerajaan ayahnya itu merupakan tempat yang diketahui secara samar-samar oleh orang-orang Misr sebagai Salamat: yang mereka artikan Kepatuhan, namun yang Sang Pangeran kini sadari maknanya adalah kedamaian.
===
Idries Shah mengatakan tema hampir mirip terdapat pula pada "Himne Jiwa" (Hymn of the Soul) dalam Perjanjian Baru Apokripa. Filsuf Ibnu Sina (wafat 1038), di Barat dikenal sebagai Avicenna, telah menguraikan bahan yang sama dalam alegorinya tentang Keterasingan Jiwa, atau juga, Puisi Jiwa.
Versi ini muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara yang dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan, Syeh dari Bokhara, yang mengajar di Istanbul dan meninggal pada tahun 1429.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
(mhy)
Lihat Juga :