Kisah Sufi: Ketika Semua Orang Bagaikan Raja
Kamis, 14 Desember 2023 - 07:31 WIB
loading...
Versi ini muncul dalam sebuah tulisan darwis pengembara yang dikutip dari sebuah cerita yang dianggap berasal dari Amir Sultan. iIustrasi: Ist
A
A
A
Berikut ini kisah sufi dinukil dari Tales of The Dervishes karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi"
Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.
Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata:
"Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian. Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.
Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.
Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.
Pemuda itu harus mengadakan perjalanan ke sebuah negara bernama Misr, dengan menyamar. Oleh karena itu, ia diberi petunjuk-petunjuk untuk pengembaraannya itu, dan berpakaian sesuai dengan samarannya, yang sama sekali tak menunjukkan bahwa ia putra seorang raja. Tugasnya adalah membawa pulang batu permata tertentu dari Misr, yang dijagai oleh raksasa yang menakutkan.
Ketika para pengawalnya meninggal, tinggallah Dhat sendirian. Namun tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang lain yang mempunyai tujuan sama dengannya, dan mereka berdua pun bersama-sama mempertahankan ingatan tentang asal-usul mereka yang mulia. Tetapi, karena pengaruh udara dan makanan di negeri itu, rasa kantuk pun mulai menyerang keduanya, dan Dhat pun melupakan tujuannya.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Bertahun-tahun lamanya pangeran itu hidup di Misr, melakukan pekerjaan rendah demi mencari nafkah tampaknya, ia tak lagi sadar tentang tugas yang harus dikerjakannya.
Dengan suatu cara yang lazim bagi mereka namun tak diketahui orang lain, orang-orang Sharq bisa mengetahui keadaan menakutkan yang dialami Dhat, dan mereka itu pun bekerja sama untuk membebaskannya dari 'tidur' dan memampukannya terus bertekun mencapai tujuannya. Sebuah pesan pun disampaikan secara gaib kepada Sang Pangeran Muda, isinya, "Bangun! Sebab kau ini putra seorang raja, disuruh mengambil batu permata tertentu, dan kepada kami kau harus kembali."
Konon, di sebuah negeri di mana semua orang bagaikan raja, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh hal-hal yang tidak bisa diucapkan oleh lidah manusia dalam istilah-istilah yang diketahuinya.
Negeri Sharq itu tampak memuaskan bagi pangeran muda, Dhat, sampai suatu hari orang tuanya berkata:
"Sayang, Nak, sudah kebiasaan di negeri kita ini bahwa setiap pangeran raja, yang telah mencapai usia tertentu, harus pergi berkelana menempuh ujian. Hal ini dimaksudkan agar seorang pangeran bisa layak mewarisi kerajaan ini; supaya dalam nama baik dan kenyataan, seorang anak raja akan mencapai dengan waspada penuh dan kerja keras suatu derajat kelaki-lakian yang tak dapat diperoleh dengan cara lain.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Demikianlah kebiasaan itu sejak semula, dan akan terus begitu sampai akhir.
Karena itulah, Pangeran Dhat pun bersiap melakukan perjalanannya, dan keluarganya pun membekalinya dengan makanan terbaik yang bisa mereka temukan; suatu makanan khusus yang bisa menguatkannya selama dalam perantauan, tetapi dalam jangka pendek jumlahnya tak terbatas.
Mereka juga memberinya bekal-bekal lain, yang tak mungkin disebutkan, untuk melindunginya, apabila dipergunakan dengan tepat.
Pemuda itu harus mengadakan perjalanan ke sebuah negara bernama Misr, dengan menyamar. Oleh karena itu, ia diberi petunjuk-petunjuk untuk pengembaraannya itu, dan berpakaian sesuai dengan samarannya, yang sama sekali tak menunjukkan bahwa ia putra seorang raja. Tugasnya adalah membawa pulang batu permata tertentu dari Misr, yang dijagai oleh raksasa yang menakutkan.
Ketika para pengawalnya meninggal, tinggallah Dhat sendirian. Namun tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang lain yang mempunyai tujuan sama dengannya, dan mereka berdua pun bersama-sama mempertahankan ingatan tentang asal-usul mereka yang mulia. Tetapi, karena pengaruh udara dan makanan di negeri itu, rasa kantuk pun mulai menyerang keduanya, dan Dhat pun melupakan tujuannya.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Bertahun-tahun lamanya pangeran itu hidup di Misr, melakukan pekerjaan rendah demi mencari nafkah tampaknya, ia tak lagi sadar tentang tugas yang harus dikerjakannya.
Dengan suatu cara yang lazim bagi mereka namun tak diketahui orang lain, orang-orang Sharq bisa mengetahui keadaan menakutkan yang dialami Dhat, dan mereka itu pun bekerja sama untuk membebaskannya dari 'tidur' dan memampukannya terus bertekun mencapai tujuannya. Sebuah pesan pun disampaikan secara gaib kepada Sang Pangeran Muda, isinya, "Bangun! Sebab kau ini putra seorang raja, disuruh mengambil batu permata tertentu, dan kepada kami kau harus kembali."
Lihat Juga :