Kisah Penaklukan Persia: Begini Perubahan Jati Diri Bangsa-Bangsa dalam Keluarga
Sabtu, 30 Desember 2023 - 08:37 WIB
loading...
Akibatnya hati mereka akan berubah dan Allah akan mengubah pula nasib mereka. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kemenangan muslim atas dua kekuatan raksasa kala itu, Persia dan Romawi , di era Khalifah Umar bin Kattab membuat masyarakat setempat berbondong-bondong memeluk agama Islam . Di sisi lain, orang-orang Arab juga bergairah dalam menghirup kenikmatan hidup setelah ada rampasan perang yang memberi kemudahan kepada mereka.
Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Umar bin Khattab" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut bahwa memang benar, dalam hati bangsa-bangsa yang sudah ditaklukkan itu - terutama Iran - masih tertanam rasa dendam kepada pihak pemenang yang dapat timbul dari waktu ke waktu.
"Tetapi dendam ini tidak sampai menghentikan interaksi yang wajar dengan segala akibat perkembangannya pada mentalitas kedua pihak, yang menang dan yang kalah, atau akan mengubah pandangan mereka kembali pada cara hidup mereka yang lama," tutur Haekal.
Baca juga: Kisah Kegagalan Penaklukan Konstantinopel sebelum Al-Fatih
Akibat perkembangan ini, kata Haekal lagi, tidak pula menghentikan saling pendekatan dalam pandangan yang dampaknya di masa Umar belum terlihat. Sungguhpun begitu ia tetap bekerja, dan kerjanya mengakibatkan lahirnya dampak itu sesudah beberapa tahun kemudian ketika Ali bin Abi Thalib menjadikan Kufah ibu kotanya.
Setelah itu datang Mu'awiah dengan mengubah Damsyik menjadi ibu kotanya. Kemudian dalam alam pemikiran orang Arab timbul aliran-aliran pikiran yang dibawa oleh filsafat Yunani, dilanjutkan dengan masuknya kesenian Persia dan sistem pemerintahan Persia dalam tata kehidupan Islam, yang berakhir dengan dijadikannya Bagdad sebagai ibu kota dunia.
Di masa Khalifah Umar bin Khattab perkembangan itu berjalan begitu cepat, sekalipun dampaknya tak terlihat di depan mata. Langkah ini telah merintis lahirnya peradaban baru yang di dalamnya terhimpun agama yang dianut kaum Muslimin dan filsafat Yunani, Persia dan Mesir, berikut ilmu, seni dan adat budayanya.
Dengan demikian dirintis pula sistem baru dalam tata kehidupan yang meliputi segi-segi politik, ekonomi, sosial dan cara berpikir, yang kemudian melebur ke dalam kehidupan masyarakat umum dan dalam kehidupan pribadi.
Menurut Haekal, tidak terlihatnya dampak perkembangan ini di masa Umar karena masyarakat Arab waktu itu sedang sibuk memikirkan persoalannya sendiri dalam menghadapi musuh serta bagaimana harus mengatasinya, dan karena bangsa-bangsa yang sedang sibuk mengurus diri sendiri itu juga lupa memikirkan segalanya selain melihat bencana kekalahan yang sedang menimpa mereka.
Baca juga: Misi Hadis Penaklukan Konstantinopel, Bukan Sekadar Hagia Shopia
Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Umar bin Khattab" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut bahwa memang benar, dalam hati bangsa-bangsa yang sudah ditaklukkan itu - terutama Iran - masih tertanam rasa dendam kepada pihak pemenang yang dapat timbul dari waktu ke waktu.
"Tetapi dendam ini tidak sampai menghentikan interaksi yang wajar dengan segala akibat perkembangannya pada mentalitas kedua pihak, yang menang dan yang kalah, atau akan mengubah pandangan mereka kembali pada cara hidup mereka yang lama," tutur Haekal.
Baca juga: Kisah Kegagalan Penaklukan Konstantinopel sebelum Al-Fatih
Akibat perkembangan ini, kata Haekal lagi, tidak pula menghentikan saling pendekatan dalam pandangan yang dampaknya di masa Umar belum terlihat. Sungguhpun begitu ia tetap bekerja, dan kerjanya mengakibatkan lahirnya dampak itu sesudah beberapa tahun kemudian ketika Ali bin Abi Thalib menjadikan Kufah ibu kotanya.
Setelah itu datang Mu'awiah dengan mengubah Damsyik menjadi ibu kotanya. Kemudian dalam alam pemikiran orang Arab timbul aliran-aliran pikiran yang dibawa oleh filsafat Yunani, dilanjutkan dengan masuknya kesenian Persia dan sistem pemerintahan Persia dalam tata kehidupan Islam, yang berakhir dengan dijadikannya Bagdad sebagai ibu kota dunia.
Di masa Khalifah Umar bin Khattab perkembangan itu berjalan begitu cepat, sekalipun dampaknya tak terlihat di depan mata. Langkah ini telah merintis lahirnya peradaban baru yang di dalamnya terhimpun agama yang dianut kaum Muslimin dan filsafat Yunani, Persia dan Mesir, berikut ilmu, seni dan adat budayanya.
Dengan demikian dirintis pula sistem baru dalam tata kehidupan yang meliputi segi-segi politik, ekonomi, sosial dan cara berpikir, yang kemudian melebur ke dalam kehidupan masyarakat umum dan dalam kehidupan pribadi.
Menurut Haekal, tidak terlihatnya dampak perkembangan ini di masa Umar karena masyarakat Arab waktu itu sedang sibuk memikirkan persoalannya sendiri dalam menghadapi musuh serta bagaimana harus mengatasinya, dan karena bangsa-bangsa yang sedang sibuk mengurus diri sendiri itu juga lupa memikirkan segalanya selain melihat bencana kekalahan yang sedang menimpa mereka.
Baca juga: Misi Hadis Penaklukan Konstantinopel, Bukan Sekadar Hagia Shopia
Lihat Juga :