Pra Islam: Ketika Orang-Orang Arab Menjadi Penyekat antara Romawi dan Persia
Rabu, 10 Januari 2024 - 09:32 WIB
loading...
A
A
A
Penduduk selatan terdiri atas orang-orang Hadramaut, Yaman, Oman dan Bahrain. Mereka itulah yang mula-mula sekali mengadakan hubungan dagang demikian, sebab mereka lebih maju dan lebih makmur daripada penduduk utara, karena tanah mereka yang subur serta hubungannya dengan Persia yang langsung.
Itu sebabnya, kebanyakan kabilah yang pindah ke Irak dan ke Syam dan menetap di sana itu dari kabilah-kabilah selatan.
Banu Gassan yang mendirikan kerajaannya di sebelah timur Syam dari suku Azd, yakni salah satu kabilah Oman yang masih keturunan Kahlan di Yaman.
Begitu juga kabilah-kabilah Quda'ah, Tanukh dan Kalb yang tinggal di perbatasan Syam masih keturunan Himyar di Yaman.
Menurut Haekal, sudah wajar bila kabilah-kabilah selatan itu akan menetap di Irak, karena Irak berdekatan dengan Hadramaut serta segala hubungannya dengan kabilah-kabilah Hanifah, Taglib dan sebagainya.
Beberapa suku dari kabilah-kabilah ini sejak dahulu kala sudah bermigrasi ke pedalaman Syam. Mereka tinggal di sana bebas dan jauh dari kekuasaan yang ada di daerah pemukiman Irak atau pemukiman Syam.
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Setelah bendungan Ma'rib roboh kemudian jalur perdagangan terbagi antara jalan pedalaman dengan jalan laut, beberapa suku dan kabilah lain juga pindah ke Hijaz, kemudian sebagian suku ini pindah lagi ke Syam, mencari penghasilan yang lebih besar dan peradaban yang lebih menyenangkan daripada peradaban di pedalaman.
Persia dan Romawi
Kala itu, kekuasaan di Irak dan di Syam silih berganti antara kedua imperium Persia dan Romawi. Adakalanya Persia merebut Syam dari Romawi lalu digabung dengan Irak yang ada di bawah kekuasaannya.
Itu sebabnya, kebanyakan kabilah yang pindah ke Irak dan ke Syam dan menetap di sana itu dari kabilah-kabilah selatan.
Banu Gassan yang mendirikan kerajaannya di sebelah timur Syam dari suku Azd, yakni salah satu kabilah Oman yang masih keturunan Kahlan di Yaman.
Begitu juga kabilah-kabilah Quda'ah, Tanukh dan Kalb yang tinggal di perbatasan Syam masih keturunan Himyar di Yaman.
Menurut Haekal, sudah wajar bila kabilah-kabilah selatan itu akan menetap di Irak, karena Irak berdekatan dengan Hadramaut serta segala hubungannya dengan kabilah-kabilah Hanifah, Taglib dan sebagainya.
Beberapa suku dari kabilah-kabilah ini sejak dahulu kala sudah bermigrasi ke pedalaman Syam. Mereka tinggal di sana bebas dan jauh dari kekuasaan yang ada di daerah pemukiman Irak atau pemukiman Syam.
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Setelah bendungan Ma'rib roboh kemudian jalur perdagangan terbagi antara jalan pedalaman dengan jalan laut, beberapa suku dan kabilah lain juga pindah ke Hijaz, kemudian sebagian suku ini pindah lagi ke Syam, mencari penghasilan yang lebih besar dan peradaban yang lebih menyenangkan daripada peradaban di pedalaman.
Persia dan Romawi
Kala itu, kekuasaan di Irak dan di Syam silih berganti antara kedua imperium Persia dan Romawi. Adakalanya Persia merebut Syam dari Romawi lalu digabung dengan Irak yang ada di bawah kekuasaannya.
Lihat Juga :