Pra Islam: Ketika Orang-Orang Arab Menjadi Penyekat antara Romawi dan Persia
Rabu, 10 Januari 2024 - 09:32 WIB
loading...
Orang-orang Arab yang merantau ke pedalaman Syam sering bergabung dengan pasukan Persia atau pasukan Romawi. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada masa pra-Islam, orang-orang Arab sudah banyak merantau ke Syam dan ke Irak . Mereka menetap di wilayah tersebut, terutama di perbatasan daerah-daerah pemukiman Irak dan Syam.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengatakan orang-orang Arab yang migrasi ke Syam dan Irak ini akhirnya mendirikan pemerintahan sendiri.
Mereka berhimpun dalam dua keamiran (kedaulatan) Arab yakni keamiran Banu Lakhm dan keamiran Banu Gassan. Dua keemiran inilah nantinya yang banyak berjasa dalam perluasan dan kedaulatan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq .
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
Migrasi orang-orang Arab dari selatan ke utara itu terjadi sejak sebelum pecahnya bendungan Ma'rib dan sebelum Romawi mengalihkan jalur perdagangannya dari darat ke laut.
Migrasi ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum terjadinya kedua peristiwa itu, dengan bahaya luar biasa yang harus mereka hadapi dalam kehidupan di negeri-negeri Arab itu.
Ahli-ahli geneanologi menyebutkan bahwa kabilah-kabilah yang suka berpindah-pindah itu sudah sering terjadi sejak sebelum kedatangan Islam. Sudah tentu kejadian ini berjalan sejak lama sekali.
Orang-orang Arab itu sudah saling mengadakan hubungan dagang dengan negeri-negeri tetangganya dengan membawa komoditas dari Timur Jauh ke Syam, Mesir dan Romawi . Demikian juga sebaliknya, mereka membawa komoditas itu dari Syam, Mesir dan Romawi ke Timur Jauh.
Perdagangan yang melintasi Semenanjung Arab ini melalui dua jalur: jalur Hadramaut ke Bahrain di Teluk Persia kemudian ke Syam, dan jalur Hadramaut ke Yaman, lalu Hijaz terus ke Syam. Makkah ketika itu berada di pertengahan jalur kedua itu.
Baca juga: Ashhabul Ukhdud: Kisah Pembakaran Orang-Orang Beriman Pra-Islam
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengatakan orang-orang Arab yang migrasi ke Syam dan Irak ini akhirnya mendirikan pemerintahan sendiri.
Mereka berhimpun dalam dua keamiran (kedaulatan) Arab yakni keamiran Banu Lakhm dan keamiran Banu Gassan. Dua keemiran inilah nantinya yang banyak berjasa dalam perluasan dan kedaulatan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq .
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
Migrasi orang-orang Arab dari selatan ke utara itu terjadi sejak sebelum pecahnya bendungan Ma'rib dan sebelum Romawi mengalihkan jalur perdagangannya dari darat ke laut.
Migrasi ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum terjadinya kedua peristiwa itu, dengan bahaya luar biasa yang harus mereka hadapi dalam kehidupan di negeri-negeri Arab itu.
Ahli-ahli geneanologi menyebutkan bahwa kabilah-kabilah yang suka berpindah-pindah itu sudah sering terjadi sejak sebelum kedatangan Islam. Sudah tentu kejadian ini berjalan sejak lama sekali.
Orang-orang Arab itu sudah saling mengadakan hubungan dagang dengan negeri-negeri tetangganya dengan membawa komoditas dari Timur Jauh ke Syam, Mesir dan Romawi . Demikian juga sebaliknya, mereka membawa komoditas itu dari Syam, Mesir dan Romawi ke Timur Jauh.
Perdagangan yang melintasi Semenanjung Arab ini melalui dua jalur: jalur Hadramaut ke Bahrain di Teluk Persia kemudian ke Syam, dan jalur Hadramaut ke Yaman, lalu Hijaz terus ke Syam. Makkah ketika itu berada di pertengahan jalur kedua itu.
Baca juga: Ashhabul Ukhdud: Kisah Pembakaran Orang-Orang Beriman Pra-Islam
Lihat Juga :