Kisah Dua Orang Yahudi Meludahi Kepala Biara Kristen di Yerusalem
Selasa, 06 Februari 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Umat Kristen Palestina di Gaza juga berulang kali menyuarakan keprihatinan atas ancaman terhadap komunitas mereka akibat pemboman Israel di wilayah tersebut.
Hammam Farah, seorang Kristen Palestina yang tinggal di Kanada, yang telah kehilangan beberapa kerabatnya dalam aksi pengeboman saat ini, mengatakan kepada MEE tahun lalu bahwa salah satu “komunitas Kristen tertua di dunia” saat ini menghadapi “ancaman kepunahan”.
Baca juga: Hamas: AS Mensponsori Perang Genosida Israel di Gaza
Menurut Farah, terdapat sekitar 3.000 umat Kristen sebelum pengepungan dan blokade Israel di Gaza dimulai pada tahun 2007. Jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar 1.000 orang. Mereka meninggalkan Gaza karena kondisi yang tidak manusiawi akibat blokade Israel selama bertahun-tahun.
Jumlah tersebut menurut sejak 7 Oktober, menjadi 800 orang, dan lebih banyak lagi yang dikhawatirkan meninggal karena jumlah korban tewas di Gaza meningkat setiap hari.
Umat Kristen mencari perlindungan di gereja-gereja selama pemboman yang terus-menerus terjadi, termasuk di gereja bersejarah St Porphyrius, yang dibom pada 19 Oktober.
Farah mengatakan dia telah kehilangan banyak anggota keluarganya dalam “kampanye genosida” Israel, yang memaksa umat Kristen untuk meninggalkan rumah mereka dan pergi ke gereja.
“Langit-langit runtuh [di gereja St Porphyrius], menewaskan 18 orang, termasuk sepupu saya, Soliman. Dia berusia 35 tahun. Istrinya menderita luka serius dan patah punggung, patah pinggul, dan patah rahang. Mereka memiliki dua anak kecil. Anak laki-laki yang menyaksikan ayah mereka tewas di bawah reruntuhan,” katanya.
Baca juga: Genosida Israel: Jika Hamas Dibubarkan, Kelompok Perlawanan Lain Menggantikannya
Hammam Farah, seorang Kristen Palestina yang tinggal di Kanada, yang telah kehilangan beberapa kerabatnya dalam aksi pengeboman saat ini, mengatakan kepada MEE tahun lalu bahwa salah satu “komunitas Kristen tertua di dunia” saat ini menghadapi “ancaman kepunahan”.
Baca juga: Hamas: AS Mensponsori Perang Genosida Israel di Gaza
Menurut Farah, terdapat sekitar 3.000 umat Kristen sebelum pengepungan dan blokade Israel di Gaza dimulai pada tahun 2007. Jumlah tersebut menyusut menjadi sekitar 1.000 orang. Mereka meninggalkan Gaza karena kondisi yang tidak manusiawi akibat blokade Israel selama bertahun-tahun.
Jumlah tersebut menurut sejak 7 Oktober, menjadi 800 orang, dan lebih banyak lagi yang dikhawatirkan meninggal karena jumlah korban tewas di Gaza meningkat setiap hari.
Umat Kristen mencari perlindungan di gereja-gereja selama pemboman yang terus-menerus terjadi, termasuk di gereja bersejarah St Porphyrius, yang dibom pada 19 Oktober.
Farah mengatakan dia telah kehilangan banyak anggota keluarganya dalam “kampanye genosida” Israel, yang memaksa umat Kristen untuk meninggalkan rumah mereka dan pergi ke gereja.
“Langit-langit runtuh [di gereja St Porphyrius], menewaskan 18 orang, termasuk sepupu saya, Soliman. Dia berusia 35 tahun. Istrinya menderita luka serius dan patah punggung, patah pinggul, dan patah rahang. Mereka memiliki dua anak kecil. Anak laki-laki yang menyaksikan ayah mereka tewas di bawah reruntuhan,” katanya.
Baca juga: Genosida Israel: Jika Hamas Dibubarkan, Kelompok Perlawanan Lain Menggantikannya
(mhy)
Lihat Juga :