Lagu Tombo Ati: Nasihat Sunan Bonang dari Referensi Banyak Kitab
Jum'at, 23 Februari 2024 - 10:09 WIB
loading...
A
A
A
Selain karena kondisi malam hari yang lebih tenang dan lebih damai sehingga mengondisikan diri untuk beribadah saat itu. Begitu juga karena pada waktu itu seseorang bisa memanfaatkannya sebagai waktu untuk berdoa dan memohon ampunan, dimana waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang tepat untuk berdo’a.
Ketiga, Berkumpul dengan Orang-orang Baik (Mujalasat ash-Shalihin)
Orang-orang baik atau saleh adalah orang-orang yang selalu menebar kebaikan dan membawa nilai-nilai positif bagi orang lain. Orang-orang seperti ini akan memberikan nasihat dan saran yang baik untuk siapapun yang berada di sekitarnya, dan selalu berusaha untuk tidak menyakiti dengan perbuatan dan lisannya.
Poin ini adalah satu-satunya terapi obat hati yang berkaitan dengan sisi sosial dalam kehidupan seseorang. Karena diri seseorang terpengaruh atau berpengaruh dengan kondisi sosial di sekitarnya, di sisi lain setiap orang tidak bisa hidup sendiri. Akan tetapi orang-orang shalih selalu memberikan dukungan kepada orang lain untuk berbuat baik dan tangguh dalam menghadapi kehidupan, bukan sebaliknya.
Baca juga: Teka-teki Hilangnya Pesantren Sunan Bonang Secara Misterius
Keempat, Banyak Berpuasa (Khola al-Bathn)
Berpuasa memang membuat fisik sedikit merasa lemah karena tidak mengkonsumsi makanan dan minuman, tidak seperti biasanya. Di sisi lain, kondisi yang lebih lemah itu juga menjadikan seseorang kemudian bersifat lebih lembut dari biasanya. Jikapun dalam kondisi puasa seseorang itu marah, dia akan menyesal karena dengan marah itu kondisi fisiknya menjadi lebih lemah dan cepat lapar.
Kelima, Zikir di Waktu Malam (at-Tadharru’ ‘inda as-Sahr)
Laman PP Muhammadiyah menjelaskan terdapat perbedaan dalam “Obat Hati” versi bahasa Jawa atau bahasa Indonesia dengan yang bahasa Arab pada poin ini. Karena kata “at-Tadharru’” makna asalnya adalah merendahkan diri, dengan bertobat dan berdoa.
Sedangkan yang diajarkan Sunan Bonang, atau dalam syairnya adalah “zikir wengi ingkang suwe”, atau zikir malam dalam waktu yang lama. Ini tentu saja menyesuaikan dengan kondisi masyarakat Jawa saat itu. Karena dengan zikir, masyarakat Jawa akan lebih memahami apa yang perlu dilakukan untuk mengobati kondisi mereka. Karena dzikir merupakan jalan dan metode untuk merendah diri dihadapan Allah. Sehingga lebih spesifik dan lebih mudah dipahami.
Baca juga: Kisah Sunan Bonang Dihadang Buta Locaya saat Mengislamkan Kediri
Berikut lirik Lagu Tombo Ati Bahasa Jawa dan Indonesia
Ketiga, Berkumpul dengan Orang-orang Baik (Mujalasat ash-Shalihin)
Orang-orang baik atau saleh adalah orang-orang yang selalu menebar kebaikan dan membawa nilai-nilai positif bagi orang lain. Orang-orang seperti ini akan memberikan nasihat dan saran yang baik untuk siapapun yang berada di sekitarnya, dan selalu berusaha untuk tidak menyakiti dengan perbuatan dan lisannya.
Poin ini adalah satu-satunya terapi obat hati yang berkaitan dengan sisi sosial dalam kehidupan seseorang. Karena diri seseorang terpengaruh atau berpengaruh dengan kondisi sosial di sekitarnya, di sisi lain setiap orang tidak bisa hidup sendiri. Akan tetapi orang-orang shalih selalu memberikan dukungan kepada orang lain untuk berbuat baik dan tangguh dalam menghadapi kehidupan, bukan sebaliknya.
Baca juga: Teka-teki Hilangnya Pesantren Sunan Bonang Secara Misterius
Keempat, Banyak Berpuasa (Khola al-Bathn)
Berpuasa memang membuat fisik sedikit merasa lemah karena tidak mengkonsumsi makanan dan minuman, tidak seperti biasanya. Di sisi lain, kondisi yang lebih lemah itu juga menjadikan seseorang kemudian bersifat lebih lembut dari biasanya. Jikapun dalam kondisi puasa seseorang itu marah, dia akan menyesal karena dengan marah itu kondisi fisiknya menjadi lebih lemah dan cepat lapar.
Kelima, Zikir di Waktu Malam (at-Tadharru’ ‘inda as-Sahr)
Laman PP Muhammadiyah menjelaskan terdapat perbedaan dalam “Obat Hati” versi bahasa Jawa atau bahasa Indonesia dengan yang bahasa Arab pada poin ini. Karena kata “at-Tadharru’” makna asalnya adalah merendahkan diri, dengan bertobat dan berdoa.
Sedangkan yang diajarkan Sunan Bonang, atau dalam syairnya adalah “zikir wengi ingkang suwe”, atau zikir malam dalam waktu yang lama. Ini tentu saja menyesuaikan dengan kondisi masyarakat Jawa saat itu. Karena dengan zikir, masyarakat Jawa akan lebih memahami apa yang perlu dilakukan untuk mengobati kondisi mereka. Karena dzikir merupakan jalan dan metode untuk merendah diri dihadapan Allah. Sehingga lebih spesifik dan lebih mudah dipahami.
Baca juga: Kisah Sunan Bonang Dihadang Buta Locaya saat Mengislamkan Kediri
Berikut lirik Lagu Tombo Ati Bahasa Jawa dan Indonesia
Lihat Juga :