Khotbah Jumat: Menaati dan Menasihati Pemimpin adalah Wajib
Kamis, 29 Februari 2024 - 11:15 WIB
loading...
A
A
A
Nah, kelompok kecil saja membutuhkan pemimpin, apalagi kelompok besar masyarakat yang terorganisir dalam sebuah kehidupan bernegara yang pastinya juga harus memiliki pemerintahan. Adapun pentingnya keberadaaan pemerintahan di sebuah negara pernah disampaikan Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin:
“Agama dan kekuasaan negara adalah dua saudara kembar. Agama menjadi pondasi, sedangkan kekuasaan negara adalah pengawalnya. Sesuatu yang tidak punya fondasi, tentu akan runtuh, sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal, mereka juga bakal tersia-siakan.”
Jika mencoba memahami pernyataan al-Ghazali secara lebih jauh, ada pemahaman bahwa negara memang wajib hadir agar kemaslahatan masyarakat dapat diwujudkan. Sebagai konsekuensi agar tujuan tersebut tercapai, negara harus punya pemimpin yang nantinya akan berusaha mewujudkan kemaslahatan masyarakat.
Maka dari itu, dalam Islam hadirnya seorang pemimpin sebuah negara tidak saja wajib aqli, namun juga wajib syar’i. Adapun konsekuensi logisnya berarti menaati pemimpin negara hukumnya adalah wajib. Sebaliknya, segala bentuk pembangkangan terhadap pemimpin negara yang sah adalah pelanggaran hukum yang berat. Allah SWT pernah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
Kata ‘ulil amri’ pada firman Allah di atas bisa dimaknai sebagai para pemegang otoritas dalam urusan umat. Mereka merupakan orang-orang yang bertugas memegang kendali atas semua urusan publik.
Menurut Ibnu Katsir, Ketaatan terhadap pemimpin dalam ayat di atas bersifat umum. Tak hanya kepada umara, namun juga kepada ulama. Jadi, soal agama kita taat kepada ulama, sedangkan terkait kenegaraan kita taat kepada pemerintah.
Hadirin Jemaah Jumat, Rahimakumullah,
Agama Islam menghendaki hubungan antara rakyat dan pemerintah sebagai sebuah ikatan yang harmonis. Di satu sisi, pemimpin mencintai rakyatnya, di sisi lain rakyat pun mencintai pemimpinnya. Pemimpin mendoakan rakyatnya, dan rakyat pun turut mendoakan pemimpinnya.
Sebaliknya, Islam menentang hubungan yang buruk antara pemimpin dan rakyat. Misal, seperti pemimpin melaknat rakyatnya dan rakyat juga melaknat pemimpinnya. Hal ini pernah dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Sebaliknya, sejelek-jelek pemimpin kalian adalah kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, kalian mengutuk mereka dan mereka pun mengutuk kalian. ”Mereka berkata, “Kemudian kami bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami memerangi mereka ketika itu?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka mendirikan shalat bersama kalian, tidak selama mereka masih mendirikan shalat bersama kalian. Dan barangsiapa dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian dia melihat pemimpinnya bermaksiat kepada Allah, hendaknya dia membenci dari perbuatan (maksiat) tersebut dan janganlah dia melepas dari ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim)
اَلدِّيْنُ والْمُلْكُ تَوْأَمَانِ، فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، فَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ
“Agama dan kekuasaan negara adalah dua saudara kembar. Agama menjadi pondasi, sedangkan kekuasaan negara adalah pengawalnya. Sesuatu yang tidak punya fondasi, tentu akan runtuh, sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal, mereka juga bakal tersia-siakan.”
Jika mencoba memahami pernyataan al-Ghazali secara lebih jauh, ada pemahaman bahwa negara memang wajib hadir agar kemaslahatan masyarakat dapat diwujudkan. Sebagai konsekuensi agar tujuan tersebut tercapai, negara harus punya pemimpin yang nantinya akan berusaha mewujudkan kemaslahatan masyarakat.
Maka dari itu, dalam Islam hadirnya seorang pemimpin sebuah negara tidak saja wajib aqli, namun juga wajib syar’i. Adapun konsekuensi logisnya berarti menaati pemimpin negara hukumnya adalah wajib. Sebaliknya, segala bentuk pembangkangan terhadap pemimpin negara yang sah adalah pelanggaran hukum yang berat. Allah SWT pernah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًاࣖ
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
Kata ‘ulil amri’ pada firman Allah di atas bisa dimaknai sebagai para pemegang otoritas dalam urusan umat. Mereka merupakan orang-orang yang bertugas memegang kendali atas semua urusan publik.
Menurut Ibnu Katsir, Ketaatan terhadap pemimpin dalam ayat di atas bersifat umum. Tak hanya kepada umara, namun juga kepada ulama. Jadi, soal agama kita taat kepada ulama, sedangkan terkait kenegaraan kita taat kepada pemerintah.
Hadirin Jemaah Jumat, Rahimakumullah,
Agama Islam menghendaki hubungan antara rakyat dan pemerintah sebagai sebuah ikatan yang harmonis. Di satu sisi, pemimpin mencintai rakyatnya, di sisi lain rakyat pun mencintai pemimpinnya. Pemimpin mendoakan rakyatnya, dan rakyat pun turut mendoakan pemimpinnya.
Sebaliknya, Islam menentang hubungan yang buruk antara pemimpin dan rakyat. Misal, seperti pemimpin melaknat rakyatnya dan rakyat juga melaknat pemimpinnya. Hal ini pernah dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ، قَالُوا: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ؟ قَالَ: لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Sebaliknya, sejelek-jelek pemimpin kalian adalah kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, kalian mengutuk mereka dan mereka pun mengutuk kalian. ”Mereka berkata, “Kemudian kami bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami memerangi mereka ketika itu?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka mendirikan shalat bersama kalian, tidak selama mereka masih mendirikan shalat bersama kalian. Dan barangsiapa dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian dia melihat pemimpinnya bermaksiat kepada Allah, hendaknya dia membenci dari perbuatan (maksiat) tersebut dan janganlah dia melepas dari ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim)
Lihat Juga :