Ini Mengapa Ummu Jamil Membawa Kayu untuk Membakar Abu Lahab
Kamis, 07 Maret 2024 - 15:13 WIB
loading...
Di neraka, Ummu Jamil membawa kayu bakar untuk menyiksa suaminya. Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas , Atiyyah Al-Jadah, Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid, bahwa Ummu Jamil , istri Abu Lahab , sering meletakkan ranting-ranting berduri di jalan-jalan yang dilalui oleh Rasulullah SAW .
Ibnu Jarir mengatakan bahwa istri Abu Lahab mengejek Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang fakir, dan dia pernah mencari kayu bakar , oleh karena itulah maka ia dijuluki dengan sebutan 'Hammalatal Hatab' sebagai cemoohan terhadapnya.
"Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, tetapi dia tidak menisbatkannya kepada siapa pun. Pendapat yang benar adalah yang pertama; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui," tulis Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa dahulu istri Abu Lahab mempunyai sebuah kalung yang mewah, lalu ia mengatakan, "Sesungguhnya aku akan membelanjakan kalung ini (menjualnya) untuk biaya memusuhi Muhammad SAW." Maka Allah menghukumnya dengan tali dari api neraka yang dikalungkan di lehernya (kelak di hari kemudian).
Baca juga: Nasib Abu Lahab Ditulis Dalam Surat Al-Lahab
Ibnu Jarir mengatakan dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa dalam surat al-Lahab ayat 5 kata al-masadd artinya sabut. Urwah ibnuz Zubair mengatakan bahwa al-masadd artinya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Telah diriwayatkan pula dari As-Sauri bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.
Al-Jauhari mengatakan bahwa al-masadd adalah sabut, dan al-masadd juga berarti tali yang terbuat dari sabut atau kulit pohon, dan adakalanya terbuat dari kulit unta atau bulunya. Dalam bahasa Arab disebutkan masadtul habla atau amsuduhu masdan, artinya ialah engkau pintal tali itu dengan pintalan yang baik.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Yang di lehernya ada tali dari sabut. ( Al-Lahab : 5) Yakni pasung leher yang terbuat dari besi, tidakkah engkau perhatikan bahwa orang-orang Arab menyebut anak unta yang pertama masad?
Ibnu Abu Hatim mengatakan dari Asma binti Abu Bakar yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman Allah SWT: Binasalah kedua tangan Abu Lahab. ( Al-Lahab : 1) Maka datanglah wanita yang bermata juling (yaitu Ummu Jamil binti Harb) seraya menyumpah-nyumpah, sedangkan tangannya memegang batu seraya mengucapkan kata-kata bersyair, "Dia telah mencela agama nenek moyang kami, agamanya kutolak dan perintahnya kutentang."
Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk di masjid ditemani sahabat Abu Bakar. Ketika sahabat Abu Bakar melihat Ummu Jamil, ia berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, Ummu Jamil datang, dan aku mengkhawatirkan keselamatanmu bila dia melihatmu." Maka Rasulullah SAW bersabda: Dia tidak akan dapat melihatku.
Baca juga: Hukum Bacaan Tajwid Surat Al Lahab, Pahami Sebelum Membacanya!
Dan Nabi SAW membaca suatu ayat Al-Qur'an sebagai perlindungan buat dirinya, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. ( QS Al-Isra : 45)
Ibnu Jarir mengatakan bahwa istri Abu Lahab mengejek Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang fakir, dan dia pernah mencari kayu bakar , oleh karena itulah maka ia dijuluki dengan sebutan 'Hammalatal Hatab' sebagai cemoohan terhadapnya.
"Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, tetapi dia tidak menisbatkannya kepada siapa pun. Pendapat yang benar adalah yang pertama; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui," tulis Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa dahulu istri Abu Lahab mempunyai sebuah kalung yang mewah, lalu ia mengatakan, "Sesungguhnya aku akan membelanjakan kalung ini (menjualnya) untuk biaya memusuhi Muhammad SAW." Maka Allah menghukumnya dengan tali dari api neraka yang dikalungkan di lehernya (kelak di hari kemudian).
Baca juga: Nasib Abu Lahab Ditulis Dalam Surat Al-Lahab
Ibnu Jarir mengatakan dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa dalam surat al-Lahab ayat 5 kata al-masadd artinya sabut. Urwah ibnuz Zubair mengatakan bahwa al-masadd artinya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Telah diriwayatkan pula dari As-Sauri bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.
Al-Jauhari mengatakan bahwa al-masadd adalah sabut, dan al-masadd juga berarti tali yang terbuat dari sabut atau kulit pohon, dan adakalanya terbuat dari kulit unta atau bulunya. Dalam bahasa Arab disebutkan masadtul habla atau amsuduhu masdan, artinya ialah engkau pintal tali itu dengan pintalan yang baik.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Yang di lehernya ada tali dari sabut. ( Al-Lahab : 5) Yakni pasung leher yang terbuat dari besi, tidakkah engkau perhatikan bahwa orang-orang Arab menyebut anak unta yang pertama masad?
Ibnu Abu Hatim mengatakan dari Asma binti Abu Bakar yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman Allah SWT: Binasalah kedua tangan Abu Lahab. ( Al-Lahab : 1) Maka datanglah wanita yang bermata juling (yaitu Ummu Jamil binti Harb) seraya menyumpah-nyumpah, sedangkan tangannya memegang batu seraya mengucapkan kata-kata bersyair, "Dia telah mencela agama nenek moyang kami, agamanya kutolak dan perintahnya kutentang."
Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk di masjid ditemani sahabat Abu Bakar. Ketika sahabat Abu Bakar melihat Ummu Jamil, ia berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, Ummu Jamil datang, dan aku mengkhawatirkan keselamatanmu bila dia melihatmu." Maka Rasulullah SAW bersabda: Dia tidak akan dapat melihatku.
Baca juga: Hukum Bacaan Tajwid Surat Al Lahab, Pahami Sebelum Membacanya!
Dan Nabi SAW membaca suatu ayat Al-Qur'an sebagai perlindungan buat dirinya, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
وَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجاباً مَسْتُوراً
Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. ( QS Al-Isra : 45)
Lihat Juga :