Ramadan Momentum Tingkatkan Kualitas Ibadah dan Solidaritas Sesama Manusia
Minggu, 17 Maret 2024 - 15:58 WIB
loading...
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Dawah Wal Irsyad (PB-DDI), Dr Muh Suaib Tahir. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Da'wah Wal Irsyad (PB-DDI), Dr Muh Suaib Tahir mengingatkan bahwa bulan suci Ramadan tidak hanya berkaitan dengan memperbanyak ibadah wajib dan sunah, tapi juga meningkatkan solidaritas sosial . Sebab, ibadah yang benar selayaknya mencakup dua dimensi, yakni hubungan dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan dengan sesama manusia (horizontal).
"Menjadi suatu keharusan bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara ibadah kepada Tuhan dan kewajiban sosial terhadap sesama manusia," kata Dr Suaib dalam keterangannya dikutip, Minggu (17/3/2024).
Ia menekankan pentingnya memahami konteks ruang dan waktu dalam menjalankan ibadah. Umat Islam sebaiknya bisa mempertimbangkan lokalitas dan menjaga rasa toleransi dalam menjalankan ibadah. Prinsipnya adalah menghormati lingkungan sekitar serta tidak mengganggu orang lain.
Dalam konteks memaknai Pancasila sebagai landasan bernegara Indonesia, jabolan Al Azhar Mesir ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai keimanan kepada Tuhan, kemanusiaan, dan persatuan sangat relevan dengan suasana Ramadan.
"Bulan suci Ramadan memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk memperkuat iman kepada Tuhan, merasakan empati terhadap penderitaan sesama manusia, dan mempererat silaturahmi antarindividu dan komunitas," katanya.
Dr Suaib menjelaskan, puasa Ramadan dalam konteks ibadah, erat kaitannya dengan konsep ketuhanan. Dalam Pancasila, ketuhanan diletakkan di poin pertama, menandakan signifikansinya yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pada seluruh agama dan keyakinan yang diakui di Indonesia, sosok Tuhan juga diyakini sebagai entitas yang mengawasi semua ciptaannya.
"Tuhan diimani sebagai figur yang mengetahui segala sesuatu. Kita meyakini bahwa Tuhan itu Maha Esa. Hal ini tidak hanya berarti mengimani sebagai bahwa Tuhan itu satu, akan tetapi kita mengimani sebagai bahwa Tuhan itu satu-satunya yang mengetahui segala kegiatan kita," katanya.
Baca juga: Masjid Raya Bintaro Serahkan Bantuan Kemanusiaan Sebesar Rp100 Juta untuk Palestina
Puasa Ramadan dapat dimaknai sebagai sarana penggugah rasa kemanusiaan. Saat menahan lapar dan dahaga ketika berpuasa, seorang muslim turut merasakan bagaimana orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti makan dan minum. Menempatkan diri pada kondisi yang sama dengan orang yang tidak berkecukupan menjadi wujud solidaritas umat Islam. Misalnya, kondisi lapar dan haus yang saat ini dirasakan oleh muslim yang berpuasa, ternyata sudah dirasakan terlebih dulu oleh rakyat Palestina dalam menghadapi konflik berkepanjangan.
"Menjadi suatu keharusan bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara ibadah kepada Tuhan dan kewajiban sosial terhadap sesama manusia," kata Dr Suaib dalam keterangannya dikutip, Minggu (17/3/2024).
Ia menekankan pentingnya memahami konteks ruang dan waktu dalam menjalankan ibadah. Umat Islam sebaiknya bisa mempertimbangkan lokalitas dan menjaga rasa toleransi dalam menjalankan ibadah. Prinsipnya adalah menghormati lingkungan sekitar serta tidak mengganggu orang lain.
Dalam konteks memaknai Pancasila sebagai landasan bernegara Indonesia, jabolan Al Azhar Mesir ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai keimanan kepada Tuhan, kemanusiaan, dan persatuan sangat relevan dengan suasana Ramadan.
"Bulan suci Ramadan memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk memperkuat iman kepada Tuhan, merasakan empati terhadap penderitaan sesama manusia, dan mempererat silaturahmi antarindividu dan komunitas," katanya.
Dr Suaib menjelaskan, puasa Ramadan dalam konteks ibadah, erat kaitannya dengan konsep ketuhanan. Dalam Pancasila, ketuhanan diletakkan di poin pertama, menandakan signifikansinya yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pada seluruh agama dan keyakinan yang diakui di Indonesia, sosok Tuhan juga diyakini sebagai entitas yang mengawasi semua ciptaannya.
"Tuhan diimani sebagai figur yang mengetahui segala sesuatu. Kita meyakini bahwa Tuhan itu Maha Esa. Hal ini tidak hanya berarti mengimani sebagai bahwa Tuhan itu satu, akan tetapi kita mengimani sebagai bahwa Tuhan itu satu-satunya yang mengetahui segala kegiatan kita," katanya.
Baca juga: Masjid Raya Bintaro Serahkan Bantuan Kemanusiaan Sebesar Rp100 Juta untuk Palestina
Puasa Ramadan dapat dimaknai sebagai sarana penggugah rasa kemanusiaan. Saat menahan lapar dan dahaga ketika berpuasa, seorang muslim turut merasakan bagaimana orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti makan dan minum. Menempatkan diri pada kondisi yang sama dengan orang yang tidak berkecukupan menjadi wujud solidaritas umat Islam. Misalnya, kondisi lapar dan haus yang saat ini dirasakan oleh muslim yang berpuasa, ternyata sudah dirasakan terlebih dulu oleh rakyat Palestina dalam menghadapi konflik berkepanjangan.
Lihat Juga :