Fungsi Utama Al-Quran Menjadi Petunjuk untuk Seluruh Umat Manusia
Rabu, 20 Maret 2024 - 11:37 WIB
loading...
Fungsi utama al-Quran menjadi petunjuk untuk umat manusia. Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Muhammad Quraish Shihab mengatakan Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW . Kendati demikian, fungsi utamanya adalah menjadi "petunjuk untuk seluruh umat manusia."
"Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut sebagai syari'at," ujar Quraish dalam bukunya berjudul "Membumikan al-Quran" (Mizan, 1996).
Dia menjelaskan, syari'at , dari segi pengertian kebahasaan, berarti 'jalan menuju sumber air." Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkan air, demi kelangsungan hidupnya. Rohaninya pun membutuhkan "air kehidupan".
"Di sini, syari'at mengantarkan seseorang menuju air kehidupan itu," jelasnya.
Baca juga: Nabi yang Diabadikan dalam Al-Quran
Dalam syari'at ditemukan sekian banyak rambu-rambu jalan: ada yang berwarna merah, yang berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan melanjutkan perjalanan.
Ini semua, persis sama dengan lampu-lampu lalulintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara pejalan dari mara bahaya. Demikian juga halnya dengan "lampu-lampu merah" atau larangan-larangan agama.
"Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan lalulintas demi memelihara keselamatan kita," katanya.
Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju kehidupan yang lebih jauh, kehidupan sesudah mati. Di sini, siapakah yang seharusnya membuat peraturan-peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu?
Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. Antara lain, ia seringkali bersifat egoistis. Di samping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika ia yang diserahi menyusun peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.
"Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut sebagai syari'at," ujar Quraish dalam bukunya berjudul "Membumikan al-Quran" (Mizan, 1996).
Dia menjelaskan, syari'at , dari segi pengertian kebahasaan, berarti 'jalan menuju sumber air." Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkan air, demi kelangsungan hidupnya. Rohaninya pun membutuhkan "air kehidupan".
"Di sini, syari'at mengantarkan seseorang menuju air kehidupan itu," jelasnya.
Baca juga: Nabi yang Diabadikan dalam Al-Quran
Dalam syari'at ditemukan sekian banyak rambu-rambu jalan: ada yang berwarna merah, yang berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, yang memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan melanjutkan perjalanan.
Ini semua, persis sama dengan lampu-lampu lalulintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan. Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara pejalan dari mara bahaya. Demikian juga halnya dengan "lampu-lampu merah" atau larangan-larangan agama.
"Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan lalulintas demi memelihara keselamatan kita," katanya.
Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju kehidupan yang lebih jauh, kehidupan sesudah mati. Di sini, siapakah yang seharusnya membuat peraturan-peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu?
Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. Antara lain, ia seringkali bersifat egoistis. Di samping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika ia yang diserahi menyusun peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, juga akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.
Lihat Juga :