Semakin Taat Semakin Berat Ujian dan Godaannya
Minggu, 16 Agustus 2020 - 06:05 WIB
loading...
Istiqamah dalam berhijrah bukanlah perkara mudah, saat memulainya, seorang akan merasakan beratnya ujian. Pun demikian saat menjalaninya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Saat ini, istilah hijrah menjadi sangat populer. Bahkan fenomenanya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir hampir di semua kalangan masyarakat. Dalam maknanya yang kekinian, hijrah seringkali diartikan dalam perubahan penampilan,suka berdakwah dan berusaha dalam menampilkan yang terbaik. Tapi benarkah pengertian hijrah sebatas itu?
Kata hijrah berasal dari kata Arab yang berarti berpisah, pindah dari satu negeri ke negeri lain. Istilah hijrah biasa dipakai dalam Islam dengan pengertian meninggalkan suatu negeri yang tidak begitu aman menuju negeri lain yang lebih aman demi keselamatan dan menjalankan agama. (Baca juga : Banyak Istighfar Maka Rezeki pun Akan Lancar )
Menurut pakar leksiografi Al-Quran, Raqib al-Isfahani, dijelaskan bahwa sebagai istilah kata hijrah biasanya mengacu pada tiga pengertian,yaitu: (1) Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, seperti hjrah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) dari Mekkah ke Madinah.(2) Meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan (3) Mujahadah an-nafs atau menundukan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki.
Dengan pengertian itu, ketika seorang hamba telah merasakan dalam dirinya rasa putus asa dari bergantungnya dia kepada makhluk karena ternyata makhluk lemah seperti dirinya, saat itulah dia akan menemukan tempat bersandar yang sesungguhnya dengan dia mengenal Allah SWT. Maka setelah itu hatinya akan selalu menghadapkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam semua keadaannya. Baik susah maupun senang.
Ketika sudah demikian, maka seorang hamba tidak akan berpaling kepada selain Allah Ta'ala. Hatinya aka selalu menuju kepada Allah, maka inilah tingkatan penghambaan diri yang sejati ketika mau berhijrah. Dan ketika seseorang mau meninggalkan sesuatu karena takut akan kemurkaan Allah. Dia mencari sebab-sebab keridhaan Allah.
Karena itu, istilah hijrah seperti ini dibenarkan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah dan kembali kepada Allah dan agamanya.
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪ
”Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah” (HR Bukhari dan Muslim) (Baca juga : Selain Ibu, Inilah Perempuan yang sangat Dimuliakan Rasulullah )
Dengan demikian, hijrah bisa dimaknai sebagai sebuah proses mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hijrahpun bukan hanya penampilan yang berbeda tapi tertatanya hati menjadi takut hanya kepada Allah meskipun hanya sendirian. Karena yang perlu berubah bukan hanya kata tapi perilakunya juga.
Kata hijrah berasal dari kata Arab yang berarti berpisah, pindah dari satu negeri ke negeri lain. Istilah hijrah biasa dipakai dalam Islam dengan pengertian meninggalkan suatu negeri yang tidak begitu aman menuju negeri lain yang lebih aman demi keselamatan dan menjalankan agama. (Baca juga : Banyak Istighfar Maka Rezeki pun Akan Lancar )
Menurut pakar leksiografi Al-Quran, Raqib al-Isfahani, dijelaskan bahwa sebagai istilah kata hijrah biasanya mengacu pada tiga pengertian,yaitu: (1) Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, seperti hjrah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) dari Mekkah ke Madinah.(2) Meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan (3) Mujahadah an-nafs atau menundukan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki.
Dengan pengertian itu, ketika seorang hamba telah merasakan dalam dirinya rasa putus asa dari bergantungnya dia kepada makhluk karena ternyata makhluk lemah seperti dirinya, saat itulah dia akan menemukan tempat bersandar yang sesungguhnya dengan dia mengenal Allah SWT. Maka setelah itu hatinya akan selalu menghadapkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam semua keadaannya. Baik susah maupun senang.
Ketika sudah demikian, maka seorang hamba tidak akan berpaling kepada selain Allah Ta'ala. Hatinya aka selalu menuju kepada Allah, maka inilah tingkatan penghambaan diri yang sejati ketika mau berhijrah. Dan ketika seseorang mau meninggalkan sesuatu karena takut akan kemurkaan Allah. Dia mencari sebab-sebab keridhaan Allah.
Karena itu, istilah hijrah seperti ini dibenarkan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah dan kembali kepada Allah dan agamanya.
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪ
”Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah” (HR Bukhari dan Muslim) (Baca juga : Selain Ibu, Inilah Perempuan yang sangat Dimuliakan Rasulullah )
Dengan demikian, hijrah bisa dimaknai sebagai sebuah proses mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hijrahpun bukan hanya penampilan yang berbeda tapi tertatanya hati menjadi takut hanya kepada Allah meskipun hanya sendirian. Karena yang perlu berubah bukan hanya kata tapi perilakunya juga.
Lihat Juga :