Menghapus Stigma Islamofobia dengan Keberkahan Puasa Ramadan
Rabu, 27 Maret 2024 - 16:15 WIB
loading...
Mantan Peneliti Senior Badan Litbang Kementerian Agama (Kemenag) Dr Abdul Jamil Wahab menjelaskan keberkahan puasa Ramadan. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Maraknya kekerasan dan radikalisme di penjuru dunia menyisakan residu yang bernama Islamofobia. Hadirnya bulan Ramadan merupakan momentum untuk menggugah semangat toleransi dan perdamaian.
Umat Islam diajak untuk menghayati intisari puasa Ramadan. Puasa tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai alat untuk mengatasi berbagai konflik dan mengurangi polarisasi antaragama.
Baca juga: Keutamaan Menikah di Bulan Ramadan
“Seperti yang bisa kita lihat di berbagai pemberitaan, bulan Ramadan ternyata tidak hanya dirayakan oleh umat Islam yang berpuasa, namun juga banyak non-muslim yang membagikan makanan untuk berbuka puasa,” ungkap mantan Peneliti Senior Badan Litbang Kementerian Agama (Kemenag) Dr Abdul Jamil Wahab di Jakarta, Rabu (27/3/2024).
Hal ini dianggap sebagai suatu kehebatan bulan Ramadan. Datangnya kewajiban puasa Ramadan bagi mereka yang muslim nampaknya juga menjadi berkah bagi semua golongan karena bisa menjadi penghubung antar golongan.
Selain dengan yang berbeda keimanan, puasa Ramadan juga seringkali menambah intensitas interaksi antar masyarakat dalam hidup bertetangga. Hal ini biasanya terlihat ketika mengadakan buka puasa bersama, atau saling memberikan makanan untuk disantap ketika adzan maghrib berkumandang.
Tidak hanya perkara kerukunan dan kebersamaan, Abdul Jamil juga berpendapat bahwa puasa Ramadan dapat menurunkan tensi islamofobia yang diakibatkan oleh kelompok radikal, yang hingga kini umat Islam sedunia masih menanggung efek negatifnya.
Baca juga: Panduan Lengkap Puasa Ramadan, Keutamaan, Amalan dan Doa Berbuka
Walaupun demikian, akademisi pemerhati isu keagamaan ini menyadari perlunya penanganan islamofobia secara holistik.
“Pertama-tama, dari pihak muslim sendiri penting untuk menghindari tindakan atau sikap yang dapat memberikan alasan bagi pihak lain untuk menilai negatif terhadap Islam. Contoh nyatanya adalah serangan 11 September 2001 yang hingga kini dianggap sebagai salah satu serangan terorisme terburuk yang pernah ada, menyebabkan masyarakat Barat menilai negatif terhadap Islam,” terang Abdul Jamil.
Umat Islam diajak untuk menghayati intisari puasa Ramadan. Puasa tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai alat untuk mengatasi berbagai konflik dan mengurangi polarisasi antaragama.
Baca juga: Keutamaan Menikah di Bulan Ramadan
“Seperti yang bisa kita lihat di berbagai pemberitaan, bulan Ramadan ternyata tidak hanya dirayakan oleh umat Islam yang berpuasa, namun juga banyak non-muslim yang membagikan makanan untuk berbuka puasa,” ungkap mantan Peneliti Senior Badan Litbang Kementerian Agama (Kemenag) Dr Abdul Jamil Wahab di Jakarta, Rabu (27/3/2024).
Hal ini dianggap sebagai suatu kehebatan bulan Ramadan. Datangnya kewajiban puasa Ramadan bagi mereka yang muslim nampaknya juga menjadi berkah bagi semua golongan karena bisa menjadi penghubung antar golongan.
Selain dengan yang berbeda keimanan, puasa Ramadan juga seringkali menambah intensitas interaksi antar masyarakat dalam hidup bertetangga. Hal ini biasanya terlihat ketika mengadakan buka puasa bersama, atau saling memberikan makanan untuk disantap ketika adzan maghrib berkumandang.
Tidak hanya perkara kerukunan dan kebersamaan, Abdul Jamil juga berpendapat bahwa puasa Ramadan dapat menurunkan tensi islamofobia yang diakibatkan oleh kelompok radikal, yang hingga kini umat Islam sedunia masih menanggung efek negatifnya.
Baca juga: Panduan Lengkap Puasa Ramadan, Keutamaan, Amalan dan Doa Berbuka
Walaupun demikian, akademisi pemerhati isu keagamaan ini menyadari perlunya penanganan islamofobia secara holistik.
“Pertama-tama, dari pihak muslim sendiri penting untuk menghindari tindakan atau sikap yang dapat memberikan alasan bagi pihak lain untuk menilai negatif terhadap Islam. Contoh nyatanya adalah serangan 11 September 2001 yang hingga kini dianggap sebagai salah satu serangan terorisme terburuk yang pernah ada, menyebabkan masyarakat Barat menilai negatif terhadap Islam,” terang Abdul Jamil.
Lihat Juga :